
Sepuluh menit berlalu. Dua gelas kaca yang berisikan cairan berwarna orange terlihat buliran bening mengalir dari bagian luar gelas kaca tersebut. Diatas meja terdapat beberapa botol kaleng soda yang berserakan begitu saja bersama sisa-sisa puntung rokok beserta abunya yang berjatuhan dilantai. Dia menarik nafasnya dengan kasar mengisyaratkan bahwa dirinya tidak dalam keadaan baik. Valen mengambil lagi sebatang rokok dan hendak membakarnya tetapi Bulan dengan cepat menarik rokok itu dari tangannya.
"Hentikan!" Bentakan dari Bulan membuatnya bersandar disofa tersebut sambil memejamkan matanya.
"Aku gagal." Jawabnya dengan pelan tetapi mengeluarkan cairan bening di ujung matanya. Bulan mengusapnya dengan lembut lalu menarik tubuhnya dalam pelukannya.
"Kamu belum terlambat, biar aku yang akan berbicara dengannya." Ucap Bulan menyapu belakang Valen dengan lembut dan berusaha membantu mempertahankan apa yang harus dipertahankan.
"Jika ini gagal? Aku harus bagaimana? Aku malu Bulan. Orang tuanya tidak menyukaiku dan tinggal dua minggu lagi pernikahannya akan dilangsungkan." Valen melepaskan pelukannya secara perlahan membenamkan kedua wajahnya dikedua telapak tangannya.
"Ini tidak akan gagal karena aku tidak akan biarkan kamu menanggung malu dan derita ini seorang diri. Aku juga akan membuat Reno dan keluarganya malu jika mereka tidak menyetujui pernikahan kalian. Bayi yang ada dalam perutmu adalah tanggung jawab Reno, aku tidak akan membiarkan dia terlahir tanpa seorang ayah."
"Terima kasih Bulan, kamu memang selalu ada buatku."
"Berhenti merokok, berhenti dengan semua minuman yang tidak menyehatkan ini, coba lihat gelas yang berwarna orange ini Len, apakah kamu tidak merasa itu sangat cantik? Bukan hanya warnanya tetapi khasiatnya untuk calon bayimu." Bulan mengelus lembut perut Valen.
"Jangan menjadi malaikat maut dadakan, biarkan dia tumbuh dalam rahimmu merasakan elusan tanganmu dan melihat kedua orang tuanya tersenyum kepadanya karena bahagia menyambutnya didunia ini. Aku tidak akan membiarkanmu untuk menyakitinya karena sampai itu terjadi aku akan memutuskan hubungan persahabatan kita Valen, aku sungguh-sungguh dengan ucapanku!" Katanya tegas. Matanya juga berkaca-kaca saat menyentuh bagian perut itu. Ada rasa iri yang dirasakan Bulan karena sampai saat ini rahimnya belum diizinkan untuk dittitipkan janin.
__ADS_1
"Iya Bulan, apapun yang terjadi aku akan tetap mempertahankan calon bayi ini. Maafkan aku Tuhan karena telah berpikir untuk menghilangkannya dari dalam sini." Valen menangis sekuat mungkin.
"Sepertinya aku sudah cukup lama berada disini, aku pamit pulang Len."
"Iya, aku sangat berterima kasih kepadamu." Sahut Valen berdiri mengikuti Bulan yang berdiri dari tempat duduknya.
"Aku lupa menghabiskan minuman cantik ini."
"Hehehe." Valen akhirnya bisa tersenyum.
"Aku lelah! Oke Len aku pulang." Ucapnya dan melangkah meninggalkan Valen.
Saat kakinya berdiri dipinggir jalanan terlihat Bumi sedang tersenyum lebar bersandar dimobilnya dari seberang jalan.
"Mas Bumi? Lihat dia padahal aku sudah mengatakan bahwa aku akan naik taksi pulang." Kata Bulan tetapi dia membalas senyuman dari Bumi dari seberang jalan.
Bumi berjalan mendekatinya dan langsung memeluknya.
__ADS_1
"Mas apakah kamu tidak punya pekerjaan lain?" Tanya Bulan.
"Ini aku sedang bekerja." Sahutnya dengan santai.
"Bekerja?" Bulan nampak bingung dengan perkataannya.
"Tubuhku sedang bekerja untuk melidungimu, hatiku sedang bekerja untuk mencintaimu, pikiranku sedang bekerja untuk selalu memikirkanmu dan saat pulang nanti kamu yang akan bekerja untukku diatas ranjang."
"Baiklah mas kamu rajanya." Bulan menggeleng dan berjalan bergandengan tangan menyeberangi jalan yang nampak sepi menuju mobil mereka terparkir.
Didalam mobil Bumi menghidupkan mobilnya dan memajukan badannya mendekati Bulan.
"Puaskan aku malam ini rembulanku." Bisiknya pelan ketelinga Bulan.
Bulan mengerutkan dahinya.
Oh Bumi dan seluruh alam semesta Aku sangat lelah hari ini. Bulan membatin.
__ADS_1