Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Maaf....


__ADS_3

Setelah tiga hari sepeninggalan tuan Handoko, rumah mereka penuh dengan kesedihan. Mama Lina mengurung diri dikamar. Bumi pun hanya berdiam didalam kamar. Bara juga belum terlihat datang mengunjungi rumah mama Lina lagi. Bulan hanya bisa menenangkan Bumi dan tidak banyak bicara seperti biasanya.


"Mas kamu belum makan sejak pagi, aku akan menyuapimu jika kamu ingin." Ucap Bulan pelan duduk disamping Bumi yang sedang berbaring.


"Aku belum lapar, jika kamu ingin kembali kerumah orang tuamu untuk sementara waktu silahkan." Bumi tak menoleh ke arahnya saat berbicara.


"Mas? Kamu mengusirku?" Jawab Bulan dengan mata berkaca-kaca menahan air matanya jatuh.


"Aku lagi ingin sendiri! Jadi aku mohon kamu mengerti dengan keadaanku..?"


"Mas? Baiklah." Sahutnya dengan suara pelan, dadanya kembali sesak karena baru kali ini Bumi menyuruhnya pergi dari sisinya.


Bulan beranjak dari tempat tidurnya lalu mengumpulkan bajunya dari dalam lemari untuk dimasukan kedalam tas pakaian berukuran sedang. Tak mampu menahan tangisannya air matanya akhirnya jatuh membasahi kedua pipinya.


"Mas aku pergi, jangan lupa makan, jaga kesehatanmu, aku akan merindukanmu." Ujar Bulan didepan pintu tapi Bumi masih tak menoleh kearahnya.


Bulan pergi. Air matanya terus mengalir. Dia tidak pernah menyangka Bumi akan menyuruhnya pergi dari rumah secara tiba-tiba.


Mas mengapa kamu berubah? Apa aku mempunyai salah?


Bulan pergi diantar oleh sopir dirumah mereka. Di dalam mobil dia terus melihat keluar jendela melihat gedung tinggi berjejeran dengan megahnya berdiri. Setibanya dirumah, Bulan menyalami tangan kedua orang tuanya dan langsung masuk kedalam kamar tanpa berbicara banyak.


"Ada apa dengannya pa? Jangan-jangan dia bertengkar dengan suaminya." Seru mama Rida.

__ADS_1


"Enggak usah ditanya-tanya ma, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka secara bijaksana. Mereka tahu apa yang terbaik untuk hubungan mereka, kita hanya mendukung dan jangan terlalu ikut campur." Jawab papa Bagas dengan bijaksana.


"Mungkin Bumi masih sedih pa, dia ingin sendiri. Kasian juga Lina ditinggal suaminya secara tiba-tiba. Aku nggak bisa bayangin jika mama ada diposisinya pasti mama akan ikut mati juga bersama papa."


"Mama mau doakan papa meninggal? Tega kamu ma."


"Ih papa enggak lah, mama hanya membayangkan saja sedihnya jadi Lina. Eh ternyata Bumi punya kakak juga pa, tapi sepertinya mama pernah lihat kakaknya Bumi tapi dimana yah?" Mama Rida terlihat berpikir diruang tengah sambil menikmati secangkir teh ditangannya.


"Mama terlalu banyak nonton akun gosip jadi bawaannya suka menceritakan orang lain."


"Aku ingat pa, dia kan yang ada didalam buku diarynya Bulan. Mama nggak salah karena Bulan menyimpan beberapa lembar fotonya didalam buku diarynya.


"Ah malas bicara dengan mama, papa mau ketoko dulu. Kalau keadaan sudah lebih baik kita akan mengunjungi Lina dirumahnya." papa Bagas berdiri lalu meninggalkan istrinya.


Beberapa menit kepergian papa Bagas, Bumi datang.


"Ma, maaf aku masuk secara tiba-tiba. Bulan pulang kerumah inikan? Dia ada disini kan mah? Aku menelfonnya tapi dia tidak mengangkatnya." Bumi datang dengan nafas tergesa-gesa seperti sedang berlari jauh.


"Iya ada, emangnya kenapa kamu dengan Bulan? Sepertinya dia selesai menangis tadi."


"Menangis? Tapi syukurlah dia berada disini ma." Bumi masih berusaha mengatur nafasnya dengan memegang dadanya.


"Sana temui dia dikamarnya."

__ADS_1


"Iya ma terima kasih." Bumi langsung pergi kedalam kamar Bulan.


Saat Bumi membuka gagang pintu dan mendorongnya hingga setengah terbuka lalu menutupnya kembali. Dia melihat Bulan sedang tertidur menyamping memeluk bantal guling dan terlihat dipipinya masih terlihat lembab karena sisa air matanya. Bumi menciumnya dibagian kepala, berbaring dari sisi belakang dan melingkarkan tangannya ditubuh Bulan.


"Maafkan aku sayang, pasti kamu sangat sedih karena sifatku tadi. Sumpah aku menyesal memperlakukan kamu seperti itu, kamu tahu belum lima menit aku langsung menyesali perbuatanku. Syukurlah kamu berada dirumah orang tuamu dan bukan kabur ditempat lain." Gumamnya dalam hati.


Setelah cukup lama Bulan tertidur Bumi mengelus kepalanya dengan lembut untuk membangunkannya dengan pelan. Bulan membuka matanya, ada seorang laki-laki yang sedang tersenyum bahagia melihatnya.


"Mas? Sejak kapan kamu datang?" Bulan juga merasa senang, dia langsung memeluk Bumi diatas tempat tidur.


"Sejak lima menit kamu pergi aku langsung mengejarmu."


"Mas maaf.."


"Ssstt... jangan minta maaf karena aku yang salah. Cukup peluk aku seperti ini, aku sangat takut jika kamu pergi dari rumah dan tidak tahu kemana. Jangan lakukan itu lagi, walaupun aku menyuruhmu pergi dalam keadaan emosi tetapi aku mohon jangan tinggalkan aku lagi. Aku hanya cemburu beberapa hari ini karena kamu terus memperhatikan Bara dari kejauhan, aku bisa melihat matamu. Aku berada disisimu tetapi pikiranmu berada padanya."


"Mas soal itu aku minta maaf, aku hanya turut merasakan kesedihan yang dia alami, dia tidak punya siapa-siapa lagi."


"Dia masih punya mama Lina, dia masih punya aku, tapi dia tidak bisa mempunyai kamu, karena kamu adalah milikku seorang."


"Mas....aku mencintaimu."


"Aku lebih dan sangat mencintaimu sayang." Bumi kembali melayangkan kecupannya dan memeluk Bulan dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2