
Diperjalanan pulang sekitar jam 21.00, Bulan melihat dari jendela mobilnya. Beberapa pedagang kaki lima sedang ramai menjajakan makanannya dipinggir jalan.
"Sayang kamu nggak merasa mual, muntah atau pusing begitu seperti ibu hamil pada umumnya?" Tanya Bumi menoleh ke arahnya.
"Aku merasa baik-baik saja mas, malahan aku ingin merasakan semua makanan yang ada dipinggir jalan itu."
"Kamu yakin mau makan ditempat itu?"
"Yakinlah mas, ayo singgah."
"Tapikan sayang, ihh aku belum pernah makan dipinggir jalan loh. Apalagi harus berdempetan seperti itu."
"Ayolah mas, coba dulu pasti kamu ketagihan." Sahut Bulan. Bumi terlihat berpikir keras untuk singgah.
"Demi calon bayi kita sayang aku tidak ingin dia lahir..." Belum selesai dia berbicara Bumi langsung menepikan mobilnya.
"Oke." Jawab Bumi.
Bumi mengambil tisu dan menutup mulutnya saat keluar dari mobil. Bulan hanya tersenyum melihat tingkah suaminya itu.
"Sayang, kamu yakin mau makan sate disini?"
"Yaelah mas, sudah didepan warungnya masih bertanya aku yakin apa tidak. Ayo masuk dan rasakan sensasinya makan di pinggir jalan."
"Baiklah." Sahut Bumi masih menutup mulutnya.
"Mas lepaskan tisu itu dari wajahmu kamu nggak lihat orang sedang lihatin kamu sejak tadi." Ucap Bulan langsung menarik tisu dari wajah Bumi.
Mereka duduk saling berdekatan dengan pelanggan lain karena warung itu sedang kedatangan banyak pembeli.
"Sayang aku tidak akan sakit perutkan? Aku tidak akan keracunan makanan kan?"
__ADS_1
"Mas kecilkan suaramu, orang bisa mendengar dan tersinggung karena ucapanmu."
"Oke baiklah." Jawab Bumi.
"Pesan sate dua porsi." Teriak Bulan kepada pelayan diwarung tersebut.
"Kok dua sayang? Aku nggak makan. Kamu saja."
"Ya udah dua porsi aku yang makan semuanya." Ucap Bulan.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya pesanannya datang.
"Selamat menikmati mba." Ucap pelayan tersebut.
"Terimakasih." Jawab Bulan sambil tersenyum menatap dua porsi sate yang tersedia diatas meja.
"Sayang, pasti aku sudah bau asap karena pembakaran sate itu."
"Emang enak sayang?" Tanya Bumi.
"Mau coba?" ucap Bulan.
"Kamu saja. Aku nggak berselera makan."
"Coba aja satu mas, buka mulutmu, aku suapin."
"Satu aja sayang, ini pun aku lakukan karena terpaksa biar kamu senang." Ucap Bumi.
"Iya satu aja."
Bumi mulai menggigit satu tusuk sate.
__ADS_1
"Hmmm... lumayan enak rasanya, jangan di habiskan yah..sisakan untuk aku beberapa tusuk."
"Itu kan doyan, pesan sana karena ini aku akan habiskan semuanya."
"Pesankan dua porsi sayang!"
Hahaha rasain, emang kamu pikir makan dipinggir jalan itu tidak enak. Pake sok jijik segala lagi, taunya ketagihan sampai pesan dua porsi lagi. Gumam Bulan dalam hatinya.
Setelah memesan dua porsi sate, Bumi dengan lahap menyantap makanannya. Karena merasa gerah Bumi membuka kancing bajunya dibagian atas. Bulan mengambil tisu dan menyeka keringat yang bercucuran membasahi wajahnya. Beberapa gadis histeris karena iri melihat Bulan yang bisa duduk bersama pria ganteng.
"Lapar nih mas? Katanya tidak suka tapi sekarang piringmu bersih tanpa ada bekas."
"Hehehe ternyata sangat enak sayang, lain kali kita mencoba makanan yang lain." Bumi mencium pipi Bulan dan semakin membuat beberapa gadis histeris karenanya.
"Ihhh mas, malu dilihatin orang." Bulan menjadi malu karenanya.
Selesai makan Bumi menuju kasir untuk membayar makanan mereka dan menuju mobil yang terparkir sedikit jauh dari tempat mereka makan.
Didalam mobil Bumi masih terlihat berkeringat.
"Mas sepertinya yang mengidam ini kamu, lihat makanmu tadi dua porsi dan ditambah lagi seporsi makananku kamu habiskan."
"Lagian enak sayang makannya, aku tidak menyangka makan dipinggir jalan itu seenak makanan restoran." Bumi mulai mengendarai mobilnya dan terlihat kekenyangan.
"Iya sayang, sekali-sekali merasakan makanan kaki lima." Sahut Bulan dan menyandarkan belakangnya dikursi mobil.
"Tidurlah sayang, aku akan membangunkanmu jika kita sudah tiba dirumah."
"Iya mas terimakasih untuk malam ini."
"Aku yang sangat berterima kasih padamu sayang, karena kamu telah mengajariku arti kesederhanaan malam ini. Ternyata selama ini aku salah menilai makanan kaki lima." Bumi masih membayangkan kenikmatan sate tersebut.
__ADS_1