Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Bonus 4


__ADS_3

Masih berada dalam dekapan Bara, mama Lina terus terisak. Tak lama berselang Bulan keluar dengan wajah bingung melihat mertuanya menangis dalam pelukan Bara.


"Mas Bara?" Sapa Bulan.


"Ada apa dengan Bumi?"


"Lukanya lagi dijahit didalam mas. Hanya sobekan dibagian jidatnya." Sahut Bulan. Bara langsung melepaskan pelukannya.


"Mama kok histeris? aku pikir.."


"Hiks..hiks..hiks.. mama trauma kehilangan papa makanya mama sangat khawatir dengan keadaan adikmu. Mama pikir Bumi kenapa-kenapa."


Bara menghela nafasnya dengan panjang. "Aku akan mati ditempat jika mama seperti ini. Aku syok ma dengan sikap mama yang histeris sejak tadi. Aku suruh sopir antar mama pulang biar aku dan Bulan yang mengurus Bumi disini." Kata Bara. Mama Lina mengangguk. Bara mengantar mama Lina ke parkiran. Disana sopir pribadi mama Lina sedang menunggu. Mama Lina menoleh sekali lagi ke arah IGD.


"Ma? Istirahatlah dan jangan pikirkan yang tidak-tidak. Bumi baik-baik saja didalam sana." Sambung Bara lalu menutup pintu mobil mamanya dengan pelan.

__ADS_1


"Mama-mama." Ucap Bara menggelengkan kepalanya. Bara kembali menemui Bulan dan Bumi. Saat Bara berada disana bukannya kesakitan Bumi malah tertawa karena Bulan menceritakan histerisnya mama Lina saat Bumi mengalami kecelakaan kecil.


"Bukan hanya mama, aku juga hampir mati karena gelisah memikirkan kamu. Mama menelfon katanya kamu sudah gawat sampai-sampai kamu nggak sadarkan diri. Aku pikir kami.."


"Hahaha mama aja yang berlebihan kak, aku hanya pingsan kok." Kata Bumi.


"Mas lain kali nggak usah mengemudi sendiri, kamu nggak fokus membuat aku khawatir tau. Aku juga berpikiran kamu telah tiada." Sambung Bulan.


"Hehehe maaf membuat kalian khawatir." Sahut Bumi.


Setelah dilakukan pengobatan Bumi memilih pulang dan dilakukan perawatan dirumah saja. Bara kembali kerumah dan tidak memilih masuk kantor. Setibanya dirumah Franda juga telah berada dirumah. Mata mereka bertautan tetapi Franda memilih masuk dikamar daripada harus saling tatap dengan Bara. Bara dengan cepat mengikutinya dan menarik tangan Franda.


"Harusnya abang yang bertanya pada diri abang sendiri." Sahut Franda ketus.


"Kenapa dengan abang? Harusnya abang yang bertanya siapa yang menghubungi kamu kemarin? Abang cemburu de." Timpal Bara.

__ADS_1


"Cemburu? Bagaimana rasanya bang? Sakitkan? Abang nggak pernah sadar diri jika selama ini aku sakit karena abang. Abang selalu membandingkan aku dengan kak Bulan. Aku dan dia berbeda kak jadi tolong mengerti perasaanku. Abang menyuruh aku ingin mengandung tetapi abang sendiri masih ragu dengan perasaan abang kepadaku. Mengapa abang selalu membuat aku cemburu karena kak Bulan? Abang nggak pernahkan pikirkan perasaanku? Aku sakit bang. Aku selalu memikirkan apa aku mampu bertahan dengan masa lalumu yang selalu kamu ulangi itu? Sejak awal kita menikah aku ragu dan itu adalah alasanku tidak ingin mempunyai anak dari abang."


"De jadi selama ini kamu sakit dengan cerita abang? Kenapa kamu baru bilang sekarang?" Tanya Bara.


"Kamu nggak peka bang, kamu nggak bisa move on. Kamu nggak bisa buat aku menjadi tergila-gila padamu. Kamu kaku soal cinta, kamu hiks..hiks..hiks.." Franda tidak tahan lagi hingga dia berderai air mata.


"Abang bingung, kamu maunya jalan-jalan, nongkrong, nonton dan itu semua abang nggak suka. Aku hanya ingin kamu jadi wanita yang dewasa sama seperti Bulan de. Hanya itu de." Sahut Bara.


"Aku bukan kak Bulan, aku Franda bang. Aku membutuhkan kasih sayang, aku tidak mempunyai orang tua seperti kak Bulan yang bisa mengajarkanya tata krama yang baik. Aku hanya gadis gelandangan yang harus hidup dari belas kasih orang bang. Aku hanya membentengi hidupku untuk masa depan maka dari itu aku ingin sukses agar aku tidak dalam keadaan terpuruk jika suatu saat abang akan minta cerai." Ucap Franda tersedu.


Bara menarik Franda dalam dekapannya. "Maafkan abang de, abang sungguh minta maaf. Abang yang salah. Aku tidak tahu selama ini kamu cemburu dengan sikap abang. Abang tidak bisa memperlakukan kamu sesuai usiamu. Abang tidak akan pernah menceraikan kamu de."


"Hiks..hiks..hiks.. Franda juga minta maaf karena sudah membentak dan bicara kasar kepada abang. Soal yang ditelfon itu dia bukan selingkuhan Franda bang. Aku hanya ingin membuat abang sakit sama sepertiku."


Bara mengecup puncak kepala Franda.

__ADS_1


"Aku mencintaimu de." Ucap Bara.


Bersambung...


__ADS_2