Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Hei calon papa?


__ADS_3

Selesai meeting Laura langsung berlari kesamping papanya dan menggandeng tangan papanya.


"Kak Bara jangan lupa datang ke pesta ulang tahunku yang ke 17 tahun." Ucap Laura tersenyum manis.


Baru 17 tahun? Oh my god.. apa Bumi gila sampai memperkenalkan aku dengan anak bau kencur seperti ini.


"Maaf pak Wibowo, sepertinya aku tidak bisa datang ke acara ulang tahun anak bapak, aku harus mengantar calon istriku belanja."


"Kak Bara sudah punya calon istri? Kata kak Bumi, kakak belum punya kekasih apalagi calon istri."


"Dia berbohong!" Ucap Bara tegas.


"Awas kamu kak Bumi! Ayo pa, kita pulang!" Sahut Laura dengan marah dan menarik tangan papanya.


"Akhirnya." Bara bisa menghela nafasnya karena lega Laura pergi dari hadapannya.


Dilain tempat Bulan gelisah karena tidak menstruasi selama dua bulan. Saat pulang dari mal, Bulan menyempatkan singgah di apotik untuk membeli tespek. Sesampainya dirumah dia meletakkan tasnya di meja rias dan langsung masuk kedalam kamar mandi untuk mengecek urinnya dengan alat yang dia beli di apotik.

__ADS_1


"Dua garis merah? Ya Tuhan, aku hamil? Benarkah ini? Tidak... aku akan mencobanya lagi, siapa tahu ini salah." Ucapnya setengah berteriak karena senang, panik dan semua berkumpul menjadi satu.


"Tespek ke empat tapi hasilnya masih sama, aku harus memberi tahu mas Bumi kabar bahagia ini." Bulan berlari mengambil ponselnya dan mengirimkan beberapa gambar tespek kepada Bumi lewat pesan Whatsapp.


Saat beberapa menit Bulan menunggu jawaban dari Bumi, akhirnya notifikasi handphonenya berbunyi.


"Sayang ini nyata kan? Aku akan pulang sekarang untuk menemuimu." Jawab Bumi dari pesan.


"Iya mas, ini nyata, aku menunggmu dirumah." Jawab Bulan dalam pesannya dengan cepat tangannya mengetik pesan tersebut.


"Aku akan memberi kejutan untuk Valen saat hari pernikahannya, pasti dia sangat senang mengetahui aku sedang hamil." Ucapnya penuh kesenangan.


Bulan berlari saat suara ketukan pintu terdengar dari dalam kamarnya.


"Hai calon papa?" Ucap Bulan, Bumi memeluknya dan mengangkat Bulan sampai ditempat tidur.


Bumi menatapnya dengan pandangan yng tidak bisa Bulan tafsirkan, tetesan bening keluar dari sudut matanya mengalir begitu saja karena dia tidak mampu mengontrolnya.

__ADS_1


"Hei..mengapa menangis mas? Kamu marah aku hamil?" Ujar Bulan menghapus air mata Bumi dari kedua pipinya secara bergantian.


Bumi menggelengkan kepalanya dan kembali memeluknya.


"Sejak kedatanganmu dalam hidupku, aku merasa sudah sempurna terlahir sebagai manusia dimuka bumi ini. Aku tidak meminta apa-apa lagi kepada Tuhan karena aku sudah mempunyai kamu, mempunyai kedudukan, mempunyai harta, mempunyai keluarga yang bahagia. Bulan, saat kamu mengatakan kamu hamil, aku tidak tahu harus berkata apa lagi kepada Tuhan karena hidupku akan lebih sempurna dengan kehadiran bayi kita."


"Mas..aku sangat terharu mendengarnya. Aku tidak sangka kamu akan sebahagia ini karena selama ini kamu tidak pernah menyinggung ingin mempunyai anak." Jawab Bulan ikut meneteskan air matanya.


"Aku janji akan menjaga buah cinta kita dan menjaga kamu dengan sebaik-baiknya." Sahut Bumi mencium Bulan dikeningnya.


"Mas kamu terlalu sempurna untuk aku miliki." Ucap Bulan.


"Kamu yang menyempurnakan hidupku sayang. Katakan kamu mau makan apa hari ini? Aku akan menjadi calon papa yang siaga 24 jam." Ucap Bumi.


"Aku tidak ingin makan, aku hanya ingin memelukmu selamanya mas."


"Ayo berbaring sayang, aku akan mengabulkan keinginanmu." Jawab Bumi lalu memeluknya dengan erat dan sesekali tangannya mengelus lembut perut Bulan yang masih terlihat datar.

__ADS_1


__ADS_2