
Pagi hari Franda tersenyum melihat wajah Bara yang masih terlelap. Dia kembali menciumi bibir itu dengan lembut, bukan hanya sekali tapi berulang kali seperti sedang kecanduan untuk menyatukan bibir mereka.
"Mengapa aku jadi agresif seperti ini kepadanya." Batin Franda.
Dengan pelan Franda turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Masih terasa perih dibagian sensitifnya karena permainan mereka semalam. Franda menyiram tubuhnya dibawah air yang jatuh dari shower. Setelah puas membersihkan dirinya Franda memakai bajunya yang dia ambil dari kopor miliknya. Franda mengumpulkan baju Bara yang berserakan dilantai, saat dia menggantungkan celana Bara ditangannya, dompet Bara terjatuh dilantai. Franda memungutnya dan hatinya kembali tergerak untuk membuka dompet suaminya. Wajah Franda berubah seketika saat melihat sosok gadis muda bersama suaminya sedang mamakai baju putih abu-abu sedang tersenyum dalam foto tersebut.
"Kak Bulan? Ada hubungan apa dia dengan bang Bara? Mengapa bang Bara menyimpan foto mereka didalam dompetnya? Apakah mereka sepasang kekasih dahulu tetapi mengapa kak Bumi menikah dengannya bukan dengan bang Bara?" Franda seperti mendapatkan hatinya terpuruk didalam lubang yang dalam pagi itu. Franda terduduk disofa memegang foto Bara dan Bulan yang sedang berpelukan dengan pakaian putih abu-abu.
"Sabar Franda kamu baru dalam hidupnya jangan serakah dengan cintanya." Franda mengelus dadanya sendiri berusaha bersabar dan tidak emosi.
Tak lama kemudian Bara terbangun dia langsung melihat tempat tidur disampingnya ternyata Franda tidak ada. Matanya kembali melihat Franda sedang duduk disofa lalu dia tersenyum. Belum selesai senyuman Bara dia perlihatkan kepada Franda matanya langsung menangkap sesuatu berada ditangan Franda. Dengan cepat Bara meloncat dari tempat tidur mendekati Franda.
"Dek? Itu dompetku kan?" Bara kebingungan karena dia tahu barang apa yang sedang dipegang Franda saat ini.
__ADS_1
"Maaf aku lancang membukanya." Franda memasukan kembali foto itu kedalam dompet Bara. Franda seperti ingin menangis dihadapan Bara. Baru semalam dia merasakan kebahagiaan tetapi mengapa begitu cepat dia terluka.
"Hei.. akan aku jelaskan." Bara memegang tangan Franda saat dia melihat gadis itu mulai menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku takut mendengarnya bang, tidak perlu dibahas lagi." Franda mulai menjatuhkan air matanya secara perlahan. Bara menghapusnya air matanya dari pipi Franda.
"Dia adalah cinta pertamaku. Aku tidak akan menyimpannya lagi didalam dompetku tetapi aku mohon jangan membuangnya."
"Kenapa? Abang masih mencintainya?" Franda terisak.
"Kamu sadar dia telah menikah dengan adikmu? Jadi untuk apa kamu menikah denganku kalau hatimu masih mencintai orang lain bang? Atau kamu ingin menunjukan kepada kak Bulan bahwa kamu juga bahagia tanpa dia? Jawab bang!" Franda meninggikan nada suaranya.
"Aku mohon biarkan aku menjelaskan hubunganku dengan Bulan dek." Bara memohon.
__ADS_1
"Tidak perlu! Cukup aku tahu dia adalah mantanmu. Maafkan aku telah meninggikan suaraku, aku terbawa emosi." Franda menyadari kalau dia telah meneriaki suaminya.
Bara langsung memeluknya dengan erat.
"Aku yang harusnya minta maaf dek, maafkan aku yang belum bisa move on dari cinta pertamaku."
"Aku akan terbiasa bang, aku hanya perlu bersabar." Jawab Franda dengan kedewasaannya.
"Simpanlah ditempat yang abang inginkan tetapi aku mohon jangan biarkan aku mendapati foto ini lagi karena aku mulai mencintaimu bang." Ucap Franda.
Bara merasa bersalah dengan Franda, entah mengapa Bulan adalah wanita satu-satunya yang sulit untuk dia lupakan dalam hidupnya. Cinta terkadang rumit, susah dimegerti, tidak tentu arahnya, terkadang membuat orang menjadi berubah karenanya entah ke hal baik atau sebaliknya.
Bara juga tidak tahu perasaannya kepada Franda seperti apa? Tetapi untuk saat ini Franda telah menjadi orang spesial didalam hatinya walaupun belum bisa menggeser Bulan dari dalam hatinya.
__ADS_1
"Dek kita akan kerumah mama hari ini, aku mohon bersikap biasa saat kamu bertemu dengan Bulan. Bulan sama sepertimu, dia wanita yang sangat sabar, baik, dan kamu bisa menjalin hubungan baik dengannya."
"Siap bos." Jawab Franda ceria tetapi didalam hatinya dia cukup terluka pagi ini.