Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Perpisahan


__ADS_3

"Jangan lakukan ini lagi. Aku bisa aku mati karena panik, Bulan." Ucap Bumi sambil memeluk Bulan.


Reno duduk disofa melihat kemesraan Bumi dan Bulan yang saling berpelukan. Reno berusaha sabar melepaskan Bulan dan dia juga ikut mengkhawatirkan nyawa Bulan jika dia terus memaksa Bulan untuk tetap bersamanya.


"Reno.. aku pamit pulang. Maafkan semua kekacauan ini." Ucap Bulan dengan mata berkaca-kaca.


"Jaga dirimu baik-baik. Jika dia melukaimu, hatiku terbuka lebar untuk menerimamu kembali."


"Reno....!" Bulan berlari ke arah Reno dan memeluknya dengan wajah sedih. Reno juga membalas pelukannya dengan meneteskan air mata.


"Kamu hebat Bulan, baru kamu satu-satunya wanita yang bisa membuatku menangis."


"Sudah..... terlalu lama pelukan perpisahan kalian." Bumi menarik Bulan. Wajahnya sedikit kesal.


"Tunggu, ini untuk hadiah perpisahan kita." Bulan kembali kepada Reno dan mencium pipinya.


"Bulan!! Ayo pulang. Kalian pikir aku disini hanya untuk melihat kemesraan kalian?" Bumi meninggikan suaranya dan menarik Bulan keluar dari dalam ruangannya.


"Bye Bulan.. Ingat, sampai kapanpun aku akan menerima kedatanganmu kembali." Reno berteriak dan menutup pintu ruangannya.


Reno duduk kembali di sofa sambil memegang wajahnya yang masih terasa sakit. Reno melempar vas bunga yang ada dimeja didepannya kelantai hingga pecah.


"Kalau bukan tidak mengkhawatirkan nyawamu, sudah aku habisi Bumi sejak tadi." Reno masih terlihat emosi dan dia hanya berpura-pura rela melepaskan Bulan kepada Bumi.


Didalam mobil Bumi mengambil tisu basah dan membersihkan mulut Bulan dari bekas pipi Reno. Bulan hanya bisa pasrah, tangannya juga masih terasa perih. Bumi mengendaraikan mobilnya dengan kecepatan sedang, ada rasa bahagia tersirat didalam hatinya karena Bulan telah menjadi miliknya seorang.

__ADS_1


"Itu terakhir kalinya aku melihatmu bertemu dengannya, Bulan!!" Ucap Bumi tegas.


"Aku lelah, cepat pulang. Mama pasti sudah menunggu kita dirumah."


"Tadi mama menelfonku katanya dia sudah pulang kerumahnya karena papa sudah rindu dengannya." Ucap Bumi. Bulan melihat kearah Bumi dengan muka sedih.


"Kenapa melihatku seperti itu? Kamu baru sadar bahwa aku ganteng?" Ucap Bumi kembali dengan senyuman dan mukanya yang lebam.


"Wajahmu lebam, lain kali jangan lakukan itu didepanku. Aku takut melihat orang yang sedang bertengkar." Ucap Bulan memandang Bumi lalu kembali menunduk dan masih memegang tangannya.


"Apa tanganmu masih terasa sakit?" Bumi menarik tangan bulan dan dia letakkan diatas pangkuannya.


Bulan tidak berani lagi menatap Bumi dan hanya memandang lurus kedepan. Ada rasa bergetar didalam hatinya saat Bumi meletakan tangannya diatas pangkuannya.


Sampai dirumah Bulan turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam rumah. Bulan duduk di sofa dan Bumi juga ikut duduk disampingnya.


"Biar aku obati wajahmu." Bulan berdiri mengambil air hangat untuk mengompres wajah Bumi. Bumi menarik tangannya dan dia duduk kembali disofa.


"Tanganmu masih sakit, jangan melakukan apapun. Aku bisa mengurus diriku sendiri."


"Baiklah, kalau begitu aku masuk kedalam kamar dulu." Ucap Bulan hendak kembali berdiri tapi Bumi kembali menarik dirinya.


"Tidak adakah ruang yang kamu sisakan didalam hatimu untuk mencintaiku?" Ucap Bumi dengan sorot matanya yang tajam menatap Bulan. Bulan menundukkan kepalanya tetapi Bumi kembali mengangkat kepala Bulan untuk menatapnya.


"Aku tidak bisa mencintaimu sekarang Bumi, jangan memaksaku untuk mencintaimu karena aku tidak suka paksaan dalam bentuk apapun." Jawab Bulan.

__ADS_1


"Tapi suatu saat nanti apakah kamu bisa mencintaiku? Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa mencintaiku?"


"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang."


"Akan ku antar kamu masuk ke dalam kamar." Ucap Bumi.


Bumi dan Bulan lalu berjalan bersama menaiki anak tangga.


Saat dikamar Bumi duduk disofa sambil memandang Bulan yang sejak tadi kesulitan untuk membuka bajunya karena tangannya masih terasa sakit. Bumi berjalan mendekatinya dengan tatapan buasnya seperti ingin menerkam Bulan. Bulan berusaha tetap tenang tapi dalam hatinya kembali takut jika memikirkan adegan ranjang mereka semalam.


"Kalau ingin sesuatu ungkapkan, aku suamimu jangan pernah segan untuk meminta bantuan. Mau aku bantu membuka bajumu?"


Bulan kaku, bibirnya mengatup dengan kuat jantungnya kembali berdetak dengan kencang, dia berusaha tenang tapi tatapan mata Bumi terlalu dalam masuk kedalam jiwanya. Bulan menundukkan kepalanya tak ada sahutan darinya untuk mengiyakan pertanyaan Bumi.


"Berarti boleh aku membantumu karena kamu tidak menjawabnya." Bumi membuka baju Bulan dengan secara perlahan dan menghindari sentuhan ditangan Bulan yang terasa sakit. Bumi kembali menyaksikan tubuh Bulan yang mulus dan putih dihadapannya.


"Mau aku bantu membersihkan badanmu?" Tanya Bumi kembali menatap Bulan yang masih menunduk berusaha menutup badannya dari rasa malu dihadapan Bumi.


Bulan masih terdiam, tak ingin menjawab apapun yang Bumi katakan. Bumi langsung mengangkat Bulan masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan tubuh Bulan dengan lembut. Bulan hanya pasrah karena memang tangannya tidak bisa berbuat apa apa.


Dibawah guyuran shower Bumi bisa menyentuh seluruh tubuh indah Bulan. Bumi seakan lupa untuk membersihkan badan Bulan dan sibuk memandang tubuh Bulan dari atas sampai dikakinya. Bumi melepaskan pakaianya dan mereka berdua berbasah-basahan di bawah guyuran air.


Bumi mulai memainkan bibir Bulan dengan lembut dan kedua tangannya merangkul pinggang Bulan dengan sempurna.


"Aku mencintaimu Bulan." Bisik Bumi lalu menggigit dengan lembut ujung telinga Bulan. Bulan menutup matanya membiarkan Bumi melakukan sesuka hatinya karena tidak ada alasan untuk lari dari situasi ini.

__ADS_1


__ADS_2