Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Keluar kota (2)


__ADS_3

Selesai berfoto mereka melanjutkan kembali perjalanan yang tidak terlalu jauh lagi. Bulan terus melihat keluar jendela mobil seakan takjub dengan dedaunan yang berwarna hijau yang baru saja mereka lewati.


"Jangan terus melihat pemandangan sayang, kamu lupa aku berada disampingmu?" Bumi berbisik ke telinga Bulan dan melingkarkan tanganya dibagian perut.


Bumi kelewatan cemburunya bahkan kepada tumbuhan saja dia cemburu ! Gumam Bulan dalam hatinya.


"Iya." Jawabnya singkat dan kembali menyandarkan kepalanya dibahu Bumi.


Akhirnya mobil mereka memasuki area Villa, Bulan mulai meluruskan kembali badannya dan menatap diluar jendela.


"Mas aku suka tempat ini." Ucapnya dengan penuh takjub.


"Iya sayang syukurlah kalau kamu menyukainya."


Mobil berhenti di parkiran Villa. Mobil Tomi dan kawan-kawan juga ikut berhenti disamping mobil Bumi. Bulan langsung keluar dari dalam mobil dan berlari melihat pemandangan yang sangat asri di area sekitar Villa. Bumi masih berada didalam mobil dan berbicara kepada Luna. Pak robi sudah keluar dan mengangkat barang-barang masuk kedalam Villa. Tomi dan yang lainnya juga mengikuti pak Robi membawa semua barang mereka masuk kedalam Villa


"Beritahu kepada Tomi dan Bayu untuk tidak mendekati Bulan dan jaga jarak apabila Bulan mendekati mereka karena aku tidak suka mereka sok akrab kepada Bulan. Apa jangan-jangan tomi dan Bayu menyukai Bulan?" Ucapnya dengan kesal kepada Luna tanpa menunggu jawaban dari Luna dia pergi begitu saja.


"Dasar cemburuan, kamu pikir istrimu itu hanya butuh dirimu? dia juga butuh bergaul dengan orang lain." Ucap Luna dengan kesal melihat tingkah Bumi.


Bulan sedang sibuk dengan ponselnya untuk mengambil gambar yang akan dia upload di akun media sosialnya.


"Jangan diupload sayang, orang lain akan melihat kecantikanmu." Bumi dengan pelan melingkarkan tangannya di perut Bulan dan sempat membuat Bulan sedikit terkejut.


"Kan cuma foto sayang, percuma dong aku menyimpan foto digaleriku tapi tidak menunjukan kepada semua orang jika aku bahagia."

__ADS_1


"Cukup aku yang melihatmu bahagia." Sahut Bumi. "Aku mau masuk kedalam kamar, panggil Luna jika butuh sesuatu dan jangan mendekati Tomi dan Bayu lagi." Bumi mencium pipinya dan pergi dari tempatnya berdiri.


Ada apa dengannya? kenapa Bumi semakin cemburuan. Padahal kemarin-kemarin dia tidak seperti ini? kalau dia terus menerus seperti ini aku merasa tertekan bukannya bahagia. Bati Bulan.


"Iya sayang aku akan menyusulmu nanti."


Bulan duduk dibawah pohon dan ada beberapa kursi panjang berjejer rapi. Bulan melihat Tomi dan Bayu sedang berbicara dengan Luna diparkiran mobil mereka. Tomi dan Bayu terlihat menganggukkan kepalanya beberapa kali saat berbicara dengan Luna.


Semoga saja Bumi tidak melarang mereka untuk mendekatiku, aku seperti tahanan jika dia memperlakukan aku seperti ini.


"Hai nona Bulan?" panggil Dian berdiri disampingnya.


"Panggil Bulan saja biar terlihat lebih akrab. Sini duduk disampingku" Bulan tersenyum dan mempersilahkan Dian duduk disampingnya.


"Iya, takutnya nggak sopan kalau panggil nama." Dian tersenyum dan masih terlihat canggung.


"Iya non sepertinya kita seumuran."


"Bulan!" Bulan mempertegasnya.


"Hehehe." Dian hanya tertawa.


"Beruntungnya kamu bisa mendapatkan cinta pak Bumi."


"Kenapa? kamu menyukainya?" Bulan meliriknya sedikit memiringkan wajahnya kepada Dian.

__ADS_1


"Wanita mana yang nggak mau jadi istri pak Bumi, udah ganteng, tajir, penyayang, badan atletis, kulitnya putih, badanya tegap, rambut oh sumpah dia keren walupun dilihat dari ujung pipet. Padahal kemarin isunya kalian dijodohkan dan pak Bumi katanya menolak keras karena jodohnya tidak secantik pacarnya. Eh tapi pas lihat kamu ternyata kamu lebih cantik natural dari Sarah. Maaf sedikit memuji suamimu Bulan."


"Bagaimana ya, kalau mau dibilang beruntung sih emang benar, tapi kalau dibilang tidak beruntung juga aku bingung mau bicara apa yang pasti aku berusaha menjadi istri yang baik untuknya." Bulan hanya tersenyum sedikit.


"Kapan aku punya suami seperti pak Bumi? apalagi jika melihatnya cemburu saat kamu dekat dengan Bayu kemarin. Oh rasanya aku ingin menjadi kamu Bulan, aku suka dikekang oleh cinta laki-laki seperti pak Bumi."


"Hehehe kamu benaran naksir sama suamiku?"


"Maaf, kamu cemburu ya?"


"Eh nggaklah kan cuma naksir bukan ingin merebutnya." Jawab Bulan.


Mereka berdua berbicara lepas dan tertawa dibawah pohon tersebut dan terhenti saat suara handphone Bulan berdering.


"Halo Vallen?" jawabnya pada panggilan telefon.


"Bulan kamu dimana? aku butuh kamu sekarang?" Vellen terdengar menangis.


"Ada apa? mengapa kamu menangis? aku masih berada di luar kota."


"Aku tidak bisa berbicara lewat telefon, aku ingin kita bertemu langsung."


"Oke, setelah aku tiba nanti kita bertemu. Aku akan menghubunggimu."


"Baiklah, aku rindu kamu Bulan." Jawab Vallen dan menutup panggilan telfonnya.

__ADS_1


"Ada masalah apa dengannya? semoga saja sesuatu yang buruk tidak terjadi denganmu Len." Gumamnya dalam hati tapi terlihat kwatir kepada Vallen.


__ADS_2