
koJalanan begitu ramai dengan kerlap kerlip lampu menghiasi sepanjang jalan. Didalam mobil Bulan sempat tidak percaya jika Reno akan akan melakukan ini dengan Valen. Reno tidak terlihat seperti pria brengsek lainnya, tutur katanya lembut, sangat sopan kepada semua orang tetapi ternyata Reno suka mempermainkan perasaan wanita.
"Mas kamu tahu tidak kalau Valen sedang dalam masalah." Ucap Bulan menatap keluar jendela memperhatikan setiap kendaraan yang lalu lalang.
"Dia hamil kan?" Jawabnya dengan santai. Bumi tidak terkejut sekalipun mendengar perkataannya.
"Kamu tahu dari mana mas?" Bulan langsung fokus menatap wajah Bumi dengan penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan Reno."
"Kok bisa dia memberi tahu kamu mas, mengapa kamu tidak bilang sama aku jika Reno sudah berbicara denganmu."
"Karena aku cinta kamu." Jawab Bumi tersenyum.
"Susah ya bicara sama kamu, enggak pernah serius." Bulan cemberut dan menyilangkan kedua tangannya didadanya.
"Serius sayang, aku sudah menyelesaikan masalah kalian terlebih dahulu. Aku sudah berbicara kepada Reno dengan sedikit pemaksaan, kekerasan, ancaman dan seperti cara pria lain lakukan jika berbicara baik-baik tidak bisa berjalan baik."
"Mas, kamu habis bertengkar dengan Reno? Astaga mas mengapa kamu melakukan itu lagi dengan Reno."
"Karena aku tidak ingin jika kamu bertemu dengan Reno untuk menyelesaikan masalah mereka. Kamu tenang saja, Valen akan menikah dengan Reno dan keluarganya tidak akan berani menolaknya.
"Bagaimana kamu bisa melakukan itu mas?" Bulan tersenyum tetapi dia juga penasaran bagaimana Bumi melakukan itu.
__ADS_1
"Hanya sesama lelaki yang saling mengerti sayang, kamu sebagai wanita hanya perlu duduk tenang dirumah melayaniku, mencintaiku, dan menjadi istri yang baik." Ucap Bumi.
Huuuuu terlalu banyak rahasia dalam hidupnya. Batin Bulan sambil melihat kesal ke arah Bumi.
Setelah 30 menit diperjalanan mereka akhirnya tiba di kediaman mewahnya. Bumi memarkirkan mobilnya digarasi dan keluar dari dalam mobil. Bulan fokus dengan ponselnya setelah mendengar kabar baik tadi dari suaminya. Bulan sedang chating dengan Valen, ada sedikit senyuman yang menghiasi bibirnya karena Valen mengatakan jika Reno akan bertanggung jawab. Bulan berjalan tanpa memperhatikan jalannya dan dia tersadar saat terhenti menabrak suaminya diruang keluarga. Bulan meluaskan pandangannya keseluruh ruangan ternyata ada beberapa pasang mata yang sedang menyorotinya. Ada sepasang mata yang membuatnya terganggu saat matanya saling bertemu. Sepasang mata yang mampu membuat dadanya bergetar karena ada sesuatu yang berbeda dari mata tersebut. Mata itu adalah mata yang pernah dulu menghiasi hari-harinya dengan keindahan dan siapa lagi kalau bukan Bara Aditia Pramudya. Bara sedikit tersenyum saat melihat Bulan salang tingkah didepan semua orang.
Lihat dia masih sepolos dulu. Batin Bara.
"Maaf, aku haus." Ucapnya pelan lalu berlari kedapur karena salah tingkah. Bulan baru menyadari jika didalam ruangan tersebut sedang ada rapat kecil. Bara, mama Lina dan kedua pria sedang duduk berbicang serius
"Urusanku sudah selesai, sekarang giliranmu Bumi." Ucap Bara.
"Bicara apa?" Sahut Bumi bingung.
"Kamu duduk sekarang! Mama dan kakakmu tsdi sedang membicarakan pembagian warisan untuk kalian berdua. Kakakmu akan menggantikan posisi papa diperusahaan dan kamu mendapatkan beberapa pekerjaan baru dari cabang-cabang perusahaan yang ada dibeberapa tempat dan kita akan membahasnya sekarang." Jawab Mama Lina.
"Tapi kak dimeja telah disediakan minuman." Sahut Bumi tiba-tiba mencegah Bara pergi kedapur.
"Aku tidak suka minuman berkafein sekarang, aku lebih suka minum air mineral." Seru Bara dan pergi meninggalkan Bumi.
Ahh... sialan! pasti dia sedang bertemu dengan Bulan didapur. Mereka akan tertawa bersama membahas kenangan masa lalu yang indah dan bisa saja kak Bara mengodanya dan menciumnya lalu memeluknya. Ahh.... Bumi berteriak didalam hatinya.
"Ma aku juga haus." Ucap Bumi mencari alasan agar dia pergi kedapur.
__ADS_1
"Kamu tidak boleh pergi kemana-mana. Jangan membuat mama pusing karena ini situasi sangat genting. Perusahaan papa butuh pemimpin dan mama tidak sedang bermain-main Bumi! Jadi mama mohon duduklah dengan tenang disini!" Ucap mama Lina mempertegas ucapannya.
Didapur Bulan duduk dimeja kayu berukuran sedang, tempat ini biasanya menjadi tempat makan ART dirumah itu. Segelas air putih dingin berada ditangannya dan dia menyeruputnya.
"Sedang memikirkan aku ya?" Bara tiba-tiba berdiri didepannya.
"Siapa yang memikirkan kamu? aku seperti nggak ada kerjaan memikirkan orang yang tidak penting dalam hidupku." sahut Bulan terlihat emosi.
Sial bahkan dia tahu aku sedang memikirkan dia.
Bara menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Bulan.
"Kamu tidak pandai berbohong sejak dulu Maya, aku tahu semua gerak gerikmu saat berbohong. Aku masih mengingat semua tentang dirimu, aku masih mengingat senyumanmu, aku masih mengingat semua kenangan kita dan aku tidak akan pernah bisa menghapusmu dalam ingatanku." Ucap Bara sambil tersenyum manis kepadanya. " Apa kamu bahagia bersama adikku?" Tanya Bara.
"Asal kamu tahu aku adalah salah satu wanita dimuka Bumi ini yang paling bahagia karena bisa menikahi adikmu." Sahut Bulan sambil membalas senyuman Bara dengan sinis.
"Kamu tidak bertanya kepadaku apakah aku bahagia atau tidak?" Tanya bara kembali menatapnya dengan tajam.
"Mengapa aku harus bertanya kebahagiaanmu?" Sahut Bulan dengan ketus.
"Karena aku lupa caranya bahagia setelah perpisahan kita saat itu, aku lupa bagaiamana caranya jatuh cinta saat ini, aku lupa mencari kebahagiaanku sendiri karena kebahagiaanku itu kamu Maya." Ucap Bara dengan pelan dan berdiri dari tempat duduknya hendak meninggalkan Bulan yang masih tercengang karena ucapannya.
"Tunggu! mengapa kamu membicarakan tentang kebahagiaanmu? kamu pikir aku tidak tersiksa kerena keputusanmu saat itu, kamu pikir aku tidak tersakiti karena kamu memutuskan hubunggan kita didepan keramaian, kamu pikir aku mampu menahan semua malu didepan teman-temanku, kamu pikir aku mudah melupakan masa-masa yang menyakitkan itu, kamu pikir aku tidak trauma menjalin hubunggan dengan pria lain karena hatiku masih sangat sakit, kamu pikir aku bahagia selama ini Bara? Tahu apa apa kamu tentang kebahagiaan dan deritaku karena ulahmu!. Kamu sendiri yang memutuskan kebahagiaanmu jadi sampai disni kamu paham!!"
__ADS_1
Bulan mendorong tubuh Bara dari hadapannya dan meninggalkan Bara dengan emosi yang membara.
"Andai kamu tahu bahwa aku melakukannya dengan terpaksa Maya, aku tidak egois karena ingin memilikimu. Aku tahu diri jika kamu akan dijodohkan dengan Bumi. Aku bisa saja merebutmu saat itu, bahkan sangat muda bagiku tapi aku menyayangi mama Lina dan Bumi karena hanya mereka keluarga yang peduli denganku. Aku rela berkorban apapun demi kebahagiaan mereka. Maafkan aku Maya telah membuat luka lama itu kembali terusik karena kehadiranku. Aku janji tidak akan memperlakukanmu lagi sebagai seorang mantan kekasih tetapi aku akan memperlakukanmu sebagai adik iparku karena hubunggan kita telah berakhir sejak dulu." Ucap Bara menatap kepergian Bulan.