
-Bulan POV-
Kuraih selimut tebal itu hingga menutupi seluruh badanku. Aku menangis begitu juga dengan hatiku, aku sakit untuk kesekian kalinya karena perlakuannya. Dimana keadilanmu Tuhan? Apa aku harus berlari dari rumah ini tapi akan pergi kemana? Aku tak tahu harus kemana. Bukannya aku tidak bisa berlari dari tempat yang aku rasa sangat kelam ini tapi terlalu banyak pengharapan dari orang yang aku sayangi dalam hubungan ini.
Ma, pa, apa ini yang kalian katakan bahagia? Hatiku hancur, hatiku sakit, aku lemah ma, aku malu pada diriku sendiri dan malu kepadanya. Apakah kalian akan membelaku jika aku mengatakan ini kepada kalian? Tidak! Kalian akan menyuruhku untuk mempertahankan pernikahanku dan bersabar dengan semua ini atau kalian hanya berkata itu sudah menjadi kewajibanmu untuk melayani suamimu Bulan. Di mana letak keadilan ini? Di mana?
-Bumi POV-
Aku berbaring ditempat tidurku memikirkan kembali sikapku terhadapnya. Apakah aku terlalu berlebihan kepadanya? Mengapa aku bisa sekasar itu kepadanya? Apakah aku hanya ingin membuatnya hancur atau perasaanku telah berubah karena hanya ingin melindungi dia? Ahhhh.. kali ini aku kembali menyakiti hati dan tubuhnya. Bulan, maafkan aku, andai itu bisa keluar dari mulutku saat berada di depanmu tapi aku tidak bisa, karena aku terlalu angkuh dengan diriku sendiri dihadapanmu Bulan? Jangan bilang dia akan pergi dari rumah ini.
Bumi berlari menuruni anak tangga dan membuka pintu kamar Bulan tetapi pintunya terkunci. Bumi duduk di depan pintu kamar dan menjaga bulan sampai pagi agar dia tidak lari dari rumahnya.
Bel rumahnya berbunyi beberapa kali, Bumi langsung membuka matanya dan melihat ke arah jendela, ternyata matahari sudah bersinar. Bumi berjalan kepintu untuk melihat tamu yang datang sepagi ini.
"Mau apa kamu sepagi ini datang kerumah orang?" Bumi membuka pintu tapi tubuhnya menghalangi Reno untuk masuk.
"Mana Bulan?"
"Oh, Bulan. Dia sedang tidur dikamar, kenapa kamu cemburu aku meniduri pacarmu?"
"Bohong, mana dia? Pasti kamu menyakitinya kan?"
"Jangan asal bicara, untuk apa aku menyakiti dia."
__ADS_1
"Mengapa suaranya terdengar serak seperti orang yang selesai menangis, aku menelpon tadi pagi dan suaranya tidak seperti itu biasanya."
"Oh, hebat yah. Bahkan dari suaranya saja kamu sudah mengetahui keadaannya. Kamu tidak berhak atas dirinya karena aku yang berhak untuknya. Aku suaminya sedangkan kamu hanya sebuah pelarian dari gadis itu apabila dia bosan denganku."
"Kurang ajar kamu Bumi! Bulan bukan wanita seperti itu!" Reno memukul perut Bumi dengan keras.
"Aww... berani sekali kamu membuat keributan dirumahku." Bumi mengepal tangannya dengan kuat hendak melayangkan pukulan diwajah Reno tapi entah sejak kapan bulan menyaksikan pertengkaran mereka.
"Stooppp!!!" Bulan berteriak dengan kuat. Tapi Bumi tetap melayangkan pukulannya dan saat Bulan melihat Bumi mau memukul Reno dengan cepat dia berlari kehadapan Bumi untuk menghentikannya tapi Bumi kehilangan kendali hingga Bulanlah yang kena pukulan dari Bumi.
Brukkk...Bulan Roboh diantara Bumi dan Reno.
"Bulan????" Mereka berdua berteriak dengan keras. Bumi langsung memeluk Bulan yang terkapar di lantai dan mengangkatnya berbaring di sofa.
"Bumi? Lepaskan dia!!" Sarah juga berteriak kerena Bumi memeluk Bulan.
Bumi melepaskan Bulan saat melihat kedatangan Sarah.
Reno tak mampu lagi berbicara melihat Bulan yang pingsan karena menerima pukulan dari Bumi.
"Aku akan membawanya kerumah sakit." Ujar Reno sambil memeluk tubuh Bulan.
"Jangan membawanya kerumah sakit. Orang tua kami pasti akan mengetahui ini." Ucap Bumi yang sedang duduk disofa berdampingan dengan Sarah. Bumi dan Reno terlihat panik dan frustasi. Hanya Sarah yang tersenyum bahagia melihat Bulan pingsan.
__ADS_1
Rasakan itu wanita penggoda! Batin Sarah.
"Apa kau mau membunuh Bulan? Dia harus dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis."
"Dia hanya pingsan Reno... tidak mati." Ucap Bumi dengan suara tinggi.
Reno berdiri dan memukul wajah Bumi dengan keras. Sarah yang tadinya tertawa bahagia didalam hatinya langsung tecengang saat kekasihnya mendapatkan pukulan dari Reno.
"Reno! Berhenti memukul Bumi. Bumi benar. Dia hanya pingsan, bukan mati. Jadi kamu tidak perlu khawatir berlebihan." Ucap Sarah.
"Kalau kamu bukan wanita sudah aku tampar wajahmu itu." Reno meninggikan suaranya dan kembali memeluk Bulan.
"Bulan... aku disini, bangun Bulan." Reno memukul sofa yang ada disampingnya karena frustasi.
"Jika terjadi apa-apa kepada Bulan, maka aku tidak akan segan memenjarakan kalian berdua." Gertak Reno kepada Bumi dan Sarah.
Bumi masih duduk karena wajahnya masih terasa sakit akibat pukulan dari Reno.
"Aku dingin." Ucap Bulan tiba-tiba.
"Bulan? Kamu sadar." Reno langsung melepaskan jasnya dan membungkus tubuh Bulan.
Bumi menghela nafasnya, kini
__ADS_1
dia merasa lega mendengar suara Bulan.