
Sekitar jam 9 malam mereka tiba dirumah sakit tempat papa handoko dirawat. Pak Robi memarkirkan mobil mereka di area parkiran rumah sakit.
"Sayang kamu tunggu disini, aku akan menelfonmu jika semuanya baik-baik saja." Ujar Bumi terburu-buru langsung pergi meninggalkan Bulan didalam mobil.
"Mas?" Teriak Bulan.
"Jangan keluar dari mobil!" Teriak Bumi memerintah.
"Ada apa dengannya? lihat bagaimana dia mau menelfonku jika handphonenya tertinggal disini." Bulan mengelengkan kepalanya karena kecerobohan Bumi.
"Pak Robi tunggu disini aku akan masuk kedalam membawa handphone mas Bumi, tapi aku tidak tahu kamarnya dirawat pak?." Ucap Bulan kepada pak Robi.
"Tanya dibagian resepsionis aja non."
"Oh iya kok aku lupa hehehe. Aku pergi pak." Bulan keluar dari mobil membawa handphone untuk diberikan kepada Bumi. Bulan bertanya dibagian resepsionis dan setelah mencari daftar nama pasien seorang resepsionis menyebutkan ruang rawat papa Handoko.
"Terima kasih mba." Ucap Bulan kepada seorang resepsionis seraya tersenyum kepadanya.
"Sama-sama mba." Jawab mbanya.
Bulan berjalan mencari ruangan papa Handoko, saat tiba didepan ruangan bulan langsung membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Mas?" Bulan tercengang saat mendapati dua pria sedang duduk berdampingan. Handphone ditangannya terjatuh. "Mas." Panggilnya sekali lagi tapi kali ini panggilan itu ntah untuk siapa dia berikan. Bulan keluar dari dalam ruangan tersebut dan bersandar di dinding sambil memegang dadanya.
"Aku tidak salah lihatkan? mengapa dia berada disini bukannya dia sudah meninggal?" katanya dalam hati sambil memegang dadanya yang sesak seperti kekurangan oksigen.
"Sayang aku sudah bilang jangan keluar dari mobil! mengapa kamu selalu membantahku!" Bumi meninggikan nada suaranya karena kesal.
"Maaf mas, aku hanya ingin memberikan handphonenmu." Bulan masih terlihat shock.
"Sini masuk... akan aku perkenalkan kamu dengannya, maaf aku telah berbohong mengatakan dia telah meninggal. Aku hanya takut kamu masih mencintainya."
"Aku tidak ingin masuk mas, aku mau pulang kerumah."
"Bukan mas, iya aku mau masuk!." jawab Bulan. Bumi mengengam erat jari jemarinya masuk kedalam ruangan.
Mata mereka kembali bersatu dalam tatapan rindu yang telah lama terpendam. Bara terus mentapnya dengan sorot mata yang tajam, dia tidak bekedip seakan menantang Bulan dengan kerinduan.
"Kak Bara perkenalkan istriku Bulan." Bumi merangkul Bulan dan berdiri dihadapan Bara.
"Aku biasa memanggilnya dengan sebutan Maya, aku tidak suka memanggilnya dengan sebutan Bulan. Benarkan Maya? dulu kamu suka memanggilmu dengan sebutan itu? " Jawab Bara dan mengengam tangan Bulan saat berjabat tangan.
"Iya mas." Bulan berkeringat dingin, ada sesuatu yang berbeda dihatinya.
__ADS_1
"Mas? kamu memanggilnya dengan sebutan mas?" Bumi meliriknya seakan ingin menampar wajahnya, kedua pria tersebut mampu membuatnya berdiri kaku dihadapan mereka.
"Iya suamiku." Jawaban yang berbeda keluar dari mulutnya.
"Eh kalian sudah tiba? mama lupa mengatakan jika kakakmu berada disini Bumi. Kenalkan Bulan kepada Bara nak." Ucap Mama Lina saat membuka pintu.
"Mereka sudah saling kenal ma." Jawab Bumi ketus.
"Bagimana keadaan papa, ma?" Seru Bulan menghilangkan segala rasa canggung didalam ruangan tersebut.
"Kita berdoa semoga papa lekas membaik, kondisinya lebih baik dari sebelumnya dan sesaknya sudah berkurang."
"Syukurlah ma."
Bulan duduk berdampingan dengan Bumi, tapi dihadapannya Bara duduk dengan tenang tapi sorot matanya membuat Bulan tak nyaman. Bumi tak bisa membohonggi perasaanya jika dia sangat terbakar api cemburu saat ini. Beberapa kali dia mencium Bulan dihadapan Bara, bukan hanya dipipi, tapi dibibir dan itu membuat Bulan tidak nyaman saat berada didepan Bara.
"Jangan menatapku seperti itu mas Bara, aku tidak pernah lupa tatapanmu itu, aku tidak pernah lupa caramu menciumku, aku tidak pernah lupa cara memelukku, aku tidak pernah lupa caramu membelai rambutku, aku tidak pernah lupa apapun darimu.. hatiku bertahanlah kamu milik Bumi sekarang. Berhenti mencari sesuatu yang hilang karena semua sudah berakhir antara kamu dan dia." Gumamnya dalam hati sambil menundukan kepalanya menyadarkan badanya dibahu Bumi.
"Mas aku mau tidur." Bulan berusaha menenangkan Bumi dengan bermanja-manja didepan Bara, bukan untuk membuat Bara cemburu tapi dia tidak ingin lelaki yang telah menjadi suaminya itu terluka karena situasi ini.
"Berbaringlah dipangkuanku." Bumi memberikan pahanya untuk tempat Bulan berbaring di sofa panjang tersebut untuk merebahkan tubuhnya. Bara yang menatapnya langsung mengalihkan pandangannya kelayar ponselnya karena melihat Bulan Bumi terus bermesraan dihadapannya. Bumi tersenyum lebar, sesuatu yang dia khawatirkan tidak terjadi bahwa bulan akan jatuh cinta lagi kepada Bara.
__ADS_1