Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Bonus 3


__ADS_3

Hari sudah hampir tengah malam tetapi Franda masih mengurung diri dalam kamar. Bara masih berpikir keras untuk membujuk Franda untuk jujur kepadanya. Bara kembali masuk kedalam kamar tetapi Franda mengunci dari dalam sehingga Bara tidak bisa masuk. Bara memilih tidur didisofa dengan amarahnya yang belum padam.


Keesokan harinya saat Bara terbangun, Bara langsung mencari Franda didalam kamartetapi Franda tidak berada lagi didalam kamar. Bara berpikir sejenak lalu bergegas mandi. Bara membuat sarapan pagi dan secangkir kopi panas dia sajikan diatas meja makan. Mata Bara memandang kursi didepannya dimana tempat itu selalu kosong pada pagi hari. Bara tidak pernah memaksa Franda untuk membuat sarapan untuknya karena Franda sering merasa kelelahan dikampus hingga sulit untuk bangun pagi.


Setelah mandi dan berganti pakaian Bara langsung tancap gas. Tujuan Bara bukanlah kekantor melainkan kekampus Franda untuk melihat kondisi Franda sejak kemarin mereka bertengkar. Bara sengaja tidak memberi kabar tentang kedatangan Bara kekampus agar Franda bisa merasa nyaman saat Bara datang. Setibanya disana Bara keluar dari mobil, mata gadis kampus tertuju kepadanya yang berjalan tegas menuju ruangan Franda.


Bara melihat Franda sedang fokus menerima mata kuliah hingga Bara menunggu diluar ruangan. Masih dengan posisi yang sama duduk tegap dengan menggunakan kameja putih, celana hitam dan dilengkapi dengan jam tangan hitam melingkar di tangannya. Dua orang mahasiswi menghampirinya dengan tersenyum manis dihadapannya.


"Hai kak, lagi nunggu siapa nih?" Tanya seorang gadis.


Gadis disebelahnya tidak mau kalah. "Kakak manis deh kaya gula, bikin aku jadi diabetes." Sambung gadis itu. Bara hanya tersenyum manis dihadapan mereka.


"Kak sumpah deh kakak ganteng banget, tipe aku lagi." Timpal gadis yang berambut panjang.


Bara masih belum menjawab dan mengangkat jari manisnya dihadapan dua gadis tersebut. "Aku sudah menikah." Sahut Bara masih dengan gayanya yang cool.

__ADS_1


"Ah.. aku patah hati kak." Balas gadis tersebut sambil memegang dadanya.


"Jangan-jangan kakak adalah dosen baru? Atau rektor muda yah dikampus ini?" Tanya mereka lagi. Bara masih dalam posisi duduk dan menunjuk Franda yang baru saja keluar dari dalam ruangannya.


"Lagi nunggu istriku, disana!" Ucap Bara. Dua gadis itu menoleh secara bersamaan.


"Franda? Nggak mungkin!" Ucap mereka secara bersamaan.


Saat Bara hendak berdiri seorang laki-laki menarik tangan Franda kelain arah. Franda belum menyadari kehadiran Bara hingga dia ikut pergi bersama laki-laki tersebut. Saat Bara hendak mengejar suara panggilan dari ponselnya berdering. Bara melihat layar ponselnya ternyata panggilan dari mama Lina.


"Kamu dimana nak? Adikmu nak. Kemarilah. Di rumah sakit Sejahtera. "


Tanpa pikir panjang lagi Bara langsung berlari tanpa peduli lagi dengan Franda. Bara kini melaju dengan cepat hingga beberapa kali mobilnya hampir bersenggolan dengan kendaraan lain. Perasaan Bara campur aduk saat dia terjebak macet. Bara kembali menelfon tetapi mama Lina dan Bulan tidak mengangkat lagi. Semakin lama terjebak macet, Bara bertambah khawatir dengan perasaan yang mengarah ke hal yang tidak-tidak.


Setelah menempuh perjalanan yang menguras emosi Bara akhirnya sampai dirumah sakit dengan selamat. Bara langsung mencari mama Lina dan Bulan di IGD. Belum sempat Bara masuk kedalam ruangan tersebut mama Lina langsung berteriak histeris memeluknya didepan IGD.

__ADS_1


"Ada apa ma?"


Mama Lina hanya terus mengeluarkan air mata tanpa menjawab pertanyaan Bara. Mama Lina semakin histeris berada dalam dekapan Bara.


"Ma katakan ada apa?" Tanya Bara penasaran.


"Hiks..hiks..hiks... adikmu.. nak." Sahut mama Lina sambil terisak dan tak mau berkata-kata lagi.


Flash back..


Pagi hari seperti biasanya Bumi yang setiap pagi selalu mencium kening Bulan dan Alula sebelum berangkat kerja tetapi pagi itu Bumi lebih lama lagi memeluk dan mencium Alula. Bumi beberapa kali berbalik menatap Bulan sebelum mobilnya keluar dari area rumah mereka. Tak ada kata-kata yang Bumi ucapkan selain melambaikan tangan seperti biasanya. Bulan selalu menatap Bumi pergi hingga mobilnya hilang dari pandangannya setiap pagi.


Ada yang berbeda dengan Bumi pagi itu, Bumi meminta tidak diantar oleh sopir pagi itu. Mama Lina sudah berangkat ketokonya lebih dulu sehingga dia belum bertemu dengan Bumi sejak pagi. Tak lama dari kepergian Bumi panggilan ditelfon Bulan terus berdering. Bulan melihat kelayar ponselnya ternyata panggilan dari Bumi. Saat Bulan mengangkatnya tetapi yang berbicara bukanlah suara Bumi melainkan suara orang yang berbeda. Bulan dengan syoknya mendengar kabar tersebut hingga ponsel yang ada ditangannya tanpa dia sadari telah jatuh dari genggamannya. Bulan berusaha mencari kesadarannya hingga beberapa kali dia mencubit pipinya dengan keras.


"Mas.. katakan ini hanya bohong? Katakan ini hanya prank? Tolong katakan jika aku salah dengar." Dengan kerasnya Bulan berteriak didalam rumah tersebut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2