Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Kepanikan


__ADS_3

Dua insan, dua cinta, Bumi dan Bulan bagaikan sedang berlari maraton. Nafas mereka saling baradu kecepatan dalam satu permainan.


Diluar kamar mereka, Luna terlihat mondar- mandir dengan wajah yang bingung. Bayu, Tomi dan Dian juga duduk dengan wajah yang bingung.


"Ketuk aja pintunya mba Luna." Seru Tomi dari sofa tempatnya duduk.


"Kamu mau aku mati! Kamu tidak dengar tadi dia mengatakan apa? Jangan mengganggunya walaupun dalam keadaan apapun." Jawab Luna masih dengan wajah khawatirnya.


"Iya aku dengar mba, tapikan ini masalahnya lain. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan tuan Handoko dan pak Bumi tidak berada disampingnya bagaimana? Lagian mereka sudah lama berada didalam." Sahut Tomi.


"Kamu aja yang ketuk pintunya Tom." Kata Dian.


"Enak aja, aku masih mau bekerja untuk mengumpulkan biaya nikah. Aku belum siap jadi pengangguran." Jawab Tomi.


"Ya sudah kita tunggu saja mereka selesai baru kita mengatakan kepada pak Bumi." Kini Bayu yang bersuara.


"Padahal kita baru sampai, aku malah belum bisa menikmati dinginnya malam ditempat ini." Ucap Dian.


"Mba Luna duduk aja dulu, kita berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan tuan Handoko." Dian menggeser duduknya agar Luna bisa duduk disampingnya.

__ADS_1


Setelah 30 menit menunggu, Bumi akhirnya keluar dari kamarnya dan terlihat rambutnya masih basah. Mereka semua tersenyum dan bernafas lega karena Bumi akhirnya menampakkan dirinya dihadapan mereka.


"Sedang apa kalian disini! Sialan apa kalian ingin mendengarkan aku dan Bulan bercinta ha!" Bumi meninggikan nada suaranya.


Luna berdiri dan mendekatinya.


"Pak, nyonya Lina menelfon. Hari ini juga pak Bumi harus pulang karena papa anda sedang dirawat dirumah sakit katanya terkena serangan jantung."


"Mengapa kalian tidak memberi tahuku sejak tadi!"


"Tadikan anda..."


"Baik pak!" Jawab Luna. "Itu kan semuanya salah, diganggu salah, tidak diganggu juga salah." Luna memaki dalam hati.


Tomi dan yang lainnya kembali mengangkat barang-barang mereka masuk kedalam mobil. Bumi menutup pintu dan membangunkan Bulan yang sedang tertidur.


"Sayang, sayang, bangun kita pulang sekarang."


"Pulang? Kita kan baru sampai mas." Jawab Bulan dengan bingung.

__ADS_1


"Papa sakit, ternyata mama sudah berapa kali menelfonku tapi handphone aku silent." Bumi duduk ditempat tidur menunggu Bulan berganti pakaian.


"Ayo mas, aku sudah selesai pakai baju."


Bumi dengan cepat keluar dari kamar dan Luna bersama Dian mengangkat kembali barang-barang Bumi masuk kedalam mobil. Didalam mobil beberapa kali dia menelfon mamanya dan tak ada jawaban dari sana. Bumi semakin panik. Bulan berusaha tetap tenang dan tak banyak bertanya kepada Bumi.


Pak Robi kembali memacu kendaraannya dengan cepat. Tomi, Bayu dan Dian mengikuti dari belakang mobil Bumi.


"Mas, papa sakit apa?" Tanya Bulan dengan hati-hati karena melihat wajah Bumi sedang tidak bersahabat sekarang.


"Jantung!" Jawabnya singkat lalu kembali diam.


Bulan tidak memberikan pertanyaan lagi setelah itu. Bulan menutup matanya agar tidak menganggu Bumi lagi, Bumi meliriknya, dia menarik kepala Bulan agar bersandar dibahunya.


"Maafkan aku, aku lagi tidak ingin banyak bicara sayang." Ucap Bumi tersadar jika Bulan jadi takut karenanya.


"Iya sayang aku mengerti, aku juga minta maaf." Ucap Bulan.


"Bukan hanya papa yang aku khawatirkan sekarang Bulan, tapi kamu! aku takut jika Bara sedang bersama papa sekarang. Aku takut jika kalian bertemu lagi! aku takut semua itu terjadi. Aku takut kamu marah karena aku telah berbohong kepadamu! aku takut Bulan, aku sangat takut semua itu terjadi."

__ADS_1


__ADS_2