Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Kejutan untuk Bulan


__ADS_3

Setelah selesai dengan kegiatan mereka, Bumi dan Bulan kembali mandi. Bulan yang telah selesai mandi langsung mengeringkan badannya dan menuju lemari pakaiannya. Bulan beberapa kali mencoba beberapa lembar baju tapi belum ada yang cocik untuk dia kenakan. Tinggal beberapa dress lagi yang masih tergantung rapi dilemarinya dan matanya tertuju kepada dress putih yang telah lama dia tidak kenakan. Bulan mencoba memakai dress tersebut dan ternyata masih sangat bagus ditubuhnya. Bulan tinggal menambahkan anting dan kalung berwarna putih yang menjadi mahar Bumi saat pernikahan mereka sebagai asesoris pelengkapnya. Kalung tersebut terlihat sederhana tetapi ada berlian kecil yang menggantung ditengahnya. Bumi keluar dari kamar mandi terpukau melihat Bulan dengan penampilannya pagi ini.


"Cantiknya... bahkan sinar rembulan pun tak mampu mengalahkan kecantikanmu." Seru Bumi berdiri memandangnya.


"Terima kasih, kamu juga gan..." Sahut Bulan tapi tidak melanjutkan kata-katanya karena tidak sadar mengatakan kalau dia mengakui Bumi ganteng.


"Gan..? Gan apa? Kalau bicara jangan dipotong-potong biar orang nggak mati penasaran." Bumi hanya tersenyum lalu berjalan ke lemari pakaian untuk mengambil baju yang telah disiapkan Bulan didalam lemarinya.


"Kamu ganteng." Sahut Bulan lalu dia berlari keluar dari kamar dengan malu.


Bumi tersenyum, dan masih tetap tersenyum sampai dia selesai memakai semua pakaiannya.


"Jika kamu seperti itu, aku bisa awet muda karena selalu bahagia, Bulan." Gumam Bumi dalam hatinya. Bumi hampir selesai berpakaian, tinggal merapikan rambutnya dan memasang jasnya.


Bumi menuruni anak tangga. Terlihat Bulan masih sangat malu melihatnya.


Ahh mengapa dia terlihat tampan pagi ini. Rambutnya, bibirnya, tatapannya, oh rasanya aku ingin berlari memeluknya dan mencium bibirnya itu. Tapi mengapa aku baru menyadarinya hari ini jika dia itu sangat berkharisma? Apakah aku sudah jatuh cinta kepadanya? Tapi tidak mungkin secepat ini hatiku melupakan Reno. Bahkan aku lupa pernah pacaran dengan Reno.


"Kamu sudah jatuh cinta kepadaku kan?" Seru Bumi memecahkan lamunannya tiba tiba.


"Haaa? Nggaklah.. mana mungkin aku jatuh cinta kepadamu secepat ini." Bulan menyangkali hatinya.


"Tapi tatapanmu mengisyaratkan jika kamu mencintaiku..?" Tanya Bumi.


"Mau pergi atau tidak? Jika tidak akan pergi, aku akan kembali kekamar."


"Baiklah, kita pergi gadisku."

__ADS_1


Gadisku? Bahkan itu terdengar manis di telingaku. Bumi, kalau kamu seperti ini kamu bisa memporak porandakan hatiku.


"Bulan? Bulan? Hei ada yang salah dengan penampilanku hari ini?" Ucap Bumi karena melihat Bulan menatapnya sejak tadi.


"Ha? Tidak. Ayo pergi."


Akhirnya kamu mulai mencintaiku, bahkan kamu hampir menjatuhkan salivamu karena baru menyadari aku tampan. Ini baru awal dan kedepannya kamu bisa tergila-gila karenaku. Tapi aku suka denganmu yang mampu membohongi perasaanmu kepadaku dan membuat aku semakin penasaran dengan sikapmu itu.


Mobil mereka telah melaju dengan kecepatan sedang. Terlihat Bumi sedang menerima panggilan dari seseorang.


"Siapkan dengan sempurna. Aku tidak ingin ada kesalahan walaupun hanya sedikit. Jangan biarkan gadis itu memasuki area kantor lagi dan pastikan semuanya sempurna sampai aku tiba. Jangan menelepon lagi untuk bertanya karena semua sudah aku jelaskan." Ucap Bumi tegas. Bulan hanya mendengarkannya, entah dengan siapa dia berbicara.


Bulan hanya mendengarkan tak mau ikut campur tentang masalah Bumi.


"Kamu tidak penasaran aku sedang menelfon siapa?" Tanya Bumi penasaran apakah Bulan akan mengatakan cemburu kepadanya.


"Untuk apa aku bertanya?"


"Oh dia wanita? Mana aku tahu jika dia wanita. Aku biasa saja, selama aku tidak melihatmu bersama wanita lain, aku percaya kalau kamu tetap setia." Sahut Bulan wajahnya memang terlihat biasa saja.


Apa dia memang tidak menyukaiku? Atau hanya aku yang baper kepadanya dan ingin dia mencemburuiku.


Mobil Bumi memasuki area kantornya. Satpam berdiri digerbang dan menundukkan kepalanya saat melihat Bumi tiba. Bumi turun dari mobil lalu dengan cepat berjalan ke arah pintu mobil untuk membukakan Bulan pintu mobil.


"Terima kasih." Seru Bulan keluar dari mobil dan Bumi langsung melingkarkan tangannya dipinggang bulan. Mereka berjalan. Semua karyawan telah berjejer rapi menunggu kedatangan mereka. Ada banyak karangan Bunga menghiasi area kantor untuk mengucapkan selamat untuk Bulan. Tulisan 'Selamat datang Nyonya Bumi Anggara' dan 'Selamat bergabung menjadi keluarga Golden Hotel.'


Bulan begitu terkejut melihat kejutan yang Bumi berikan kepadanya. Perasaannya sangat senang melihat semua karyawan menyambutnya dengan hangat. Karangan Bunga bukan hanya dari karyawan tetapi ada beberapa dari rekan bisnis mereka. Mata Bulan menangkap satu karangan bunga yang dia kenali. Karangan tersebut bukan dari perusahan lain tapi atas nama Reno pribadi.

__ADS_1


"Reno?" Ucap Bulan pelan tapi Bumi mendengarnya.


"Dia juga mengirimkan karangan Bunga untuk kita." Jawab Bumi.


"Iya aku tahu." Bulan sedikit sedih dengan ucapan yang Reno berikan.


Semua karyawan berkumpul di lobi. Bumi dan Bulan berdiri paling depan.


"Perkenalkan istriku tercinta namanya Bulan. Mungkin dari kalian sudah ada yang melihatnya saat pesta penikahanku tapi ada beberapa dari kalian yang belum mengenalnya. Jika istriku datang kekantor ini beri hormat kepadanya sama sepertiku karena apa yang aku punya adalah miliknya juga termasuk hotel ini." Seru Bumi sambil merangkul Bulan dipinggang. Bulan tersenyum kepada mereka dan tak ada satupun kata yang dia ucapkan.


"Bagaimana dengan nona Sarah? Apakah kami masih memberi hormat kepadanya." Suara seorang wanita menghancurkan suasana bahagia Bumi dan Bulan. Bulan terlihat menundukkan kepalanya saat nama Sarah disebutkan salah satu karyawan Bumi. Bumi bisa melihat bahwa Bulan tidak menyukai saat nama Sarah di sebutkan.


Luna sebagai sekretarisnya langsung melototi karyawan yang ada dibelakangnya itu.


"Aku memecatmu sekarang!! Silahkan bubar!!." Bumi meninggikan suaranya kepada karyawan tersebut.


"Maaf pak, aku mempunyai anak kecil untuk dibiayai. Kalau aku tidak bekerja bagaimana dengan keluargaku pak." Sahut karyawan tersebut ketakutan dan air matanya sudah membanjiri pipinya.


"Kamu dipecat, apapun alasannya kamu dipecat karena aku tidak mau tahu kehidupanmu seperti apa. Kamu telah menyakiti hati istriku dan aku tidak suka bila ada seseorang yang menyakitinya!!" Seru Bumi dengan wajah emosi.


"Maaf menyela perkataan Bos kalian, kamu akan tetap bekerja di kantor ini seperti biasa. Aku baik-baik saja dan jangan segan kepadaku karena aku sama seperti kalian, aku wanita dari keluarga biasa yang hanya beruntung menikahi bos kalian. Aku tahu susahnya jika berada diposisi kalian dan jangan perlakukan aku spesial karena aku hanya manusia biasa. Bukan begitu sayang? Kamu tidak jadi memecatnya kan?" Bulan memeluknya didepan semua karyawan berusaha meredam amarah Bumi. Bulan tahu jika Bumi marah maka dia tidak akan bisa berkompromi dengan orang lain dan hanya cara ini yang bisa membuatnya tenang.


"Karena istriku sudah berkata begitu jadi apa boleh buat. Kamu akan tetap bekerja disini dan jangan ulangi lagi kesalahan ini."


"Baik pak, terima kasih banyak pak Bumi." Ucap karyawan tersebut.


"Jangan berterima kasih kepadaku tapi berterima kasihlah kepada istriku." Seru Bumi berseri-seri karena Bulan memeluknya didepan karyawannya.

__ADS_1


"Terima kasih Nyonya Bumi." Karyawan tersebut mengapus air matanya dan menundukkan kepalanya kepada Bulan.


Bulan dan semua karyawan lain akhirnya bisa bernafas lega karena bos mereka bisa meredamkan amarahnya. Ini hebatnya cinta, ia bisa membuat semuanya berubah walaupun itu diluar nalar.


__ADS_2