
Dijalan pulang Bumi melaju dengan kecepatan tinggi. Hatinya tidak sabar lagi ingin bertemu dengan pasangannya. Sampai didepan rumah, Bumi turun dari dalam mobilnya dan membuka pintu gerbang. Bumi kembali lagi masuk kedalam mobilnya untuk memarkirkan mobilnya digarasi. Bumi melihat ada mobil orang tua Bulan dan mobil papanya sedang terparkir dihalaman rumahnya. Bumi mempercepat langkah kakinya masuk kedalam rumah untuk menemui semua keluarganya.
"Aku pulang." Ucap Bumi sambil tersenyum.
"Selamat malam nak. Silahkan bersihkan dirimu dan siapkan tenagamu." Ucap mama Lina sambil berdiri menyambutnya.
Semua orang didalam ruangan tertawa mendengar perkataan mama Lina dan hanya Bulan yang terlihat pucat tanpa senyuman menyambut kedatangan Bumi. Bumi hanya tersenyum menatap Bulan dan dia pasti tahu apa maksud dari mama dan semua orang yang dalam rumahnya.
"Oke ma.. Bumi mau masuk kamar dulu." kata Bumi.
"Eh, mama sudah memindahkan semua barang-barang Bulan didalam kamarmu. Mama akan menginap dirumah ini untuk seminggu kedepan." Ucap mama Lina.
"Kami sudah tua, rasanya kami sudah pantas menimang cucu." Kini mama Rida yang bersuara.
"Papa juga ingin sekali mendapatkan cucu dengan cepat, papa yakin Bumi pasti bisa berusaha setiap malam untuk bekerja keras mengabulkan permohonan kami." Ucap papa Handoko dengan penuh makna dalam setiap ucapannya.
"Oke ma, pa, Bumi mau mandi dulu." Bumi langsung naik kekamarnya. Dia tahu Bulan pasti risih membahas ini ditengah keberadaan orang tua mereka.
"Bulan.. apa yang kamu lakukan disini! Sana ikuti suamimu. Ingat, urus dia dengan baik dan jangan menolak ajakannya." Ucap mama Rida dan mendorong tubuhnya dari sofa.
__ADS_1
"Mama apaan sih, aku seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Ia aku pergi." Bulan pergi mengikuti Bumi, kakinya terasa berat menaiki setiap anak tangga.
Saat tiba didepan kamar bulan mengetuk pintu kamar Bumi.
"Masuklah.. aku tidak menguncinya." Ucap Bumi dari dalam kamar.
Bulan membuka pintu kamar dan mendapati Bumi sedang membuka kancing bajunya satu persatu.
"Kamu mau datang menyerahkan dirimu kepadaku? Aku menerimanya dengan senang hati." Sambil tersenyum Bumi melihat kearah Bulan yang sedang gugup.
Mengapa dia terlihat menjijikkan dihadapanku? Jika ini bukan kemauan orang tuaku, aku tidak akan mau datang menghampirinya duluan. Aku sudah terlihat seperti wanita yang sedang haus belaian laki-laki.
Bulan mendekati Bumi setelah melihat ada sesuatu yang tidak di sadari Bumi sejak tadi.
"Dengan senang hati." Bumi tersenyum puas
"Aku akan membuatmu bahagia malam ini bulan." Bumi berbisik ketelinga Bulan yang sedang membuka kancing bajunya.
"Sudah selesai, lihatlah baju putih ini penuh dengan bekas lipstik. Aku rasa apakah orang tuaku masih akan menyuruh aku melayanimu malam ini setelah melihat bekas lipstik ini? Dan aku tidak yakin apakah orang tuaku masih ingin melanjutkan hubungan ini Bumi? Jadi apakah kamu yakin ingin meniduriku setelah kamu habis bercinta dengan wanita lain? Kamu brengsek!" Ucap Bulan memukul dada Bumi.
__ADS_1
"Bulan.... ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku tidak melakukan apa apa dengan Sarah."
"Mustahil, kamu pikir aku perempuan apa? Dengan enaknya kamu menyuruh orang tuamu untuk datang kemari agar kita berdua bisa bercinta. Tapi lihat kelakuanmu Bumi! Kamu bercinta dengan Sarah setelah itu kamu menginginkan tubuhku. Apa itu yang kamu katakan mencintaiku? Kamu berbohong dengan semua kata cintamu."
Bulan memegang baju putih ditangannya dan hendak dia perlihatkan kepada kedua orang tuannya. Perasaan Bulan tak gentar untuk melakukan ini dan keinginan untuk berpisah semakin kuat setelah mengetahui Bumi habis bertemu dengan Sarah dan pastinya pemikirannya sudah menuduh Bumi selesai tidur dengan Sarah.
"Bulan.. aku tidak melakukan apa apa, kamu harus percaya kepadaku." Bumi memeluknya dari belakang.
"Lepaskan! Aku jijik denganmu." Bulan berusaha melepaskan pelukannya tapi tubuh Bumi terlalu kuat menahannya.
"Terserah apa katamu, aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun. Aku tidak ingin pisah denganmu Bulan, aku sangat mencintaimu. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini dengan orang lain termaksuk Sarah. Aku tidak pernah menyesal mama menikahkan aku denganmu." Bumi masih memeluknya didepan pintu.
Bulan tidak bisa melakukan apa apa karena tubuhnya terkunci erat dengan tangan kekar Bumi.
Bumi mengangkat tubuh Bulan ke atas tempat tidur. Bumi kembali mengunci tubuh Bulan dalam pelukannya bahkan untuk merontak pun Bulan tak mampu.
"Bulan, aku tidak melakukannya dengan Sarah, memang tadi dia menciumku tapi aku menolaknya. Aku sudah mengakhiri hubunganku dengannya dan aku rasa itu cukup untuk memulai hubungan yang baru denganmu. Memang ini hanya sepihak karena dia belum menerima kenyataan ini. Tolong terima permintaan maafku karena memiliki masa lalu yang buruk dengannya. Aku ingin menjadi suami yang baik untukmu dan aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku. Bulan maafkan aku, aku hanya ingin memulai hubungan yang sehat denganmu, tanpa drama, tanpa paksaan seperti katamu semalam."
Bulan meneteskan air matanya, tiba-tiba hatinya merasa sedih dengan ucapan Bumi.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana dengan Reno? Bagaimana jika Bumi kembali dengan Sarah? Tapi aku juga merasa berdosa karena tidak memberikan nafkah batin kepada Bumi. Bumi suami sahku dan sudah kewajibanku untuk melayaninya, tapi aku takut dia akan mengkhianatiku nanti. Aku bingung..." Batin Bulan.
Terima kasih telah meluangkan waktu berharga kalian untuk membaca cerita ini. Jangan lupa like, komen dan yang terpenting votenya agar aku semangat menulis 😊 Salam dari author Vani.