
Bulan tak mampu menahan buliran-buliran bening keluar dari sudut matanya. Bumi menghela nafasnya dengan panjang melihat Bulan berderai air mata didepannya.
"Jadi sekarang sayang maunya apa?" Serunya dengan pelan mengangkat dagu Bulan menggunakan jarinya hingga mereka saling tatap.
"Aku mau pulang, hiks, hiks,hiks." Bulan kembali mengeraskan suaranya memenuhi seluruh ruangan bagaikan seorang anak kecil kehilangan mamanya. Bumi menggaruk kepalanya karena pusing melihat Bulan yang tidak seperti biasanya.
"Ya sudah, mas antar kamu kerumah mama. Tapi berhenti menangis karena membuatku semakin pusing." Sahut Bumi beranjak dari tempat duduknya.
"Itukan mas nggak suka aku ada disini." Bulan menyahut. Bumi kembali duduk didepannya.
"Iya deh mas nggak pusing, nih lihat senyumannya lebar." Bumi memasang senyuman lebar didepan Bulan.
"Emang orang hamil seperti ini? Sensitifnya keterlaluan." Ucap Bumi lagi sambil tersenyum melihat Bulan.
"Mas nggak sayang lagi sama aku?"
"Ya ampun Bulan mana mungkin mas nggak sayang sama kamu."
"Tapi mas sudah mulai mengeluh karena keberadaanku."
"Oke mas diam aja kalau begitu. Mas mau mandi, setelah itu mas antar kamu kerumah mama." Bumi berdiri lagi dari tempat duduknya.
"Mas." Panggil Bulan menarik tangannya suaminya.
"Iya sayang ada apa?" Jawab Bumi dengan lembut.
"Mau ikut mandi bersama." Ucap Bulan malu-malu.
"Sini mas gendong masuk ke kamar mandi." Bumi sedikit menunduk untuk mengangkat Bulan dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Kamu suami yang paling baik mas."
"Kamu yang terbaik sayang." Bumi membalas pujian dari Bulan.
Setelah mandi dan bersiap dengan pakaian kantor, Bumi turun kelantai bawah karena Bulan telah menunggunya dimeja makan. Dimeja makan ada mama Lina dan Bulan yang sedang makan bersama.
"Pagi ma. Hari ini Bulan mau kerumah mama Rida ma. Katanya dia lagi rindu." Seru Bumi yang duduk disamping Bulan.
"Iya nak, Bulan udah cerita kok. Mama juga mau ke London beberapa hari ini, kasian juga Bulan kalau ditinggal sendiri dirumah ini karena kamu juga sibuk dikantor. Sebenarnya mama mau ajak Bulan sekalian jalan-jalan tapi sepertinya kondisi Bulan lagi kurang sehat." Sahut mama Lina.
"Biar Bulan sedang sehat aku tidak akan memberinya izin untuk pergi, aku takut kenapa-kenapa pada bayinya apalagi dia masih hamil muda." Kini Bumi yang menyahut sambil menyantap makanannya.
"Mas, aku mau muntah." Bulan berdiri tetapi belum sempat dia berlari menuju wastafel dia sudah memuntahkan seluruh isi perutnya ditubuh Bumi yang sedang berada disampingnya.
"Bulan! Astaga kamu tahu tidak, kalau aku sedang buru-buru, aku ada meeting, aku harus mengantarmu lagi kerumah mama, belum perjalanan begitu macet, ini lagi kamu muntah dibajuku. Lain kali kalau mau muntah langsung cepat menyingkir dari hadapanku!" Bumi meninggikan nada suaranya kepada Bulan.
"Bumi! kamu itu nggak ada dewasa-dewasanya. Istrimu sedang morning sickness, harusnya kamu tidak boleh berkata seperti itu." Ucap Mama Lina membentak Bumi.
"Aku pergi di antar sopir aja mas, kamu nggak perlu repot-repot antar aku kerumah mama. Maaf harus membuatmu mandi lagi." Ucap Bulan sendu. Dia pergi mencuci mulutnya lalu bi Anti membantunya berjalan.
"Iya nak, maafkan Bumi." Ucap Mama Lina.
Bumi juga berdiri dan berjalan menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
"Ma aku pamit, semoga perjalanan mama menyenangkan ya. Tolong sampaikan lagi maafku kepada mas Bumi."
"Iya nak, semoga kamu juga dan calon cucu mama selalu sehat. Jangan diambil hati perkataan Bumi, terkadang dia seperti itu kalau banyak pekerjaan dikantor."
"Iya ma nggak apa-apa." Bulan memeluk mama Lina, dan bi Anti berjalan mengikutinya membawakan barang-barangnya untuk menginap beberapa malam dirumah mamanya.
__ADS_1
Saat bi Anti memasukkan barang Bulan kedalam mobil, Bumi langsung datang dan memeluk Bulan yang masih berdiri disamping mobil.
"Maafkan mas, sayang. Mas akan mengantarmu sekalian menemanimu beberapa hari tinggal dirumah mama. Aku tidak akan masuk kantor dan menyuruh Luna yang menggantikan aku dalam rapat hari ini."
"Mas nggak perlu, biar aku pergi diantar sopir." Sahut Bulan, raut wajahnya tidak tersenyum.
"Aku tahu kamu masih marah kepadaku, tapi aku akan tetap ikut bersamamu." Bumi masih memeluknya. "Bi tolong pindahkan semua barang-barang Bulan kedalam mobilku, aku yang akan mengantarnya."
"Mas, bibi repot karenamu." Sahut Bulan dengan kesal.
"Akan lebih repot lagi kalau sampai aku tidak bersamamu. Ayo pergi!" Bumi melepaskan pelukannya dan menarik tangan Bulan masuk kedalam mobilnya.
Bulan sudah melajukan mobilnya dan Bulan hanya diam didalam mobil. Bumi menarik tangannya dan mengenggamnya dengan erat.
"Pasti sekarang kamu menyesal karena telah menikah dengan aku kan?" Ucap Bumi, Bulan hanya meliriknya lalu kembali memandang jalanan.
"Kalu anak kita perempuan kira-kira namanya yang bagus apa sayang?" Bumi masih berusaha mengambil hati Bulan. "Kalau laki-laki aku yang beri nama, namanya Surya Bima Anggara. Bagaimana kamu setuju?" Tanya Bumi cengar-cengir sendiri sedangkan Bulan hanya terlihat datar tanpa senyuman.
"Terserah mas, aku mual, aku muntah kalau banyak bicara." Sahut Bulan.
"Kamu mau muntah? Sini muntah dibaju mas saja. Mas nggak marah lagi sama kamu, mas senang kok kamu muntah dibadan mas setiap hari yang penting kamu jangan marah sama mas lagi."
"Mas hentikan mobilnya, aku mau muntah!" Teriak Bulan.
"Tidak bisa berhenti sayang, muntah dibaju mas saja. Benaran mas tidak marah." Ucap Bumi memaksa Bulan muntah dibajunya. Bumi merasa menyesal karena telah membentak Bulan karena muntah.
Karena Bumi tidak menghentikan mobilnya akhirnya Bulan kembali muntah dipangkuan Bumi.
"Itu kan mas nggak marah sama kamu, ayo sayang muntah lagi. Sepanjang jalan kamu muntahkan baju mas nggak apa yang penting sayang berhenti marahnya dan memaafkan mas yang telah membentakmu tadi." Ucap Bumi bersemangat.
__ADS_1
Bulan hanya bersandar dikursi mobil dan tidak bisa berkata apa-apa lagi karena badannya terasa lemas setelah muntah.