
Bara mengantar Franda kekontrakannya yang memasuki gang sempit. Tempat tinggal Franda jauh dari dari kata sederhana atau kemewahan membuat Bara mengerutkan dahinya. Bara sebelumnya hanya menemui Franda di depan gang kontraknya dan tidak melihat langsung tempat tinggal yang dihuni oleh Franda selama ini.
"Kamu yakin tinggal ditempat seperti ini? Besok aku carikan tempat yang lebih layak untukmu!" Kata Bara melihat sekeliling rumah-rumah yang berdempetan dan terlihat kumuh baginya.
"Maaf pak aku tidak mau, aku akan tetap tinggal disini karena kontrakan ini sangat murah untukku. Gajiku hanya cukup untuk makan dan membiayai biaya kuliahku dan apabila aku pindah ditempat yang lebih bagus aku tidak punya uang untuk membayarnya."
"Dasar anak ini, hei.. kamu pikir aku tidak punya uang sampai tidak mampu membiayai hidupmu? Hari ini kamu pindah dari tempat ini!" Bara meninggikan nada suaranya pada Franda.
"Tapi pak?"
"Franda!" Bara melotot ke arahnya.
"Baik pak." Kata Franda pasrah.
"Pemaksaan." Gumamnya dalam hati.
Pada hari itu juga Franda pergi dan mengangkat baju dan perlengkapan kuliahnya saja, karena barang-barang yang lain tidak izinkan oleh Bara untuk dibawa. Bara lalu memasukkan kedalam mobil dan sejak tadi Franda tidak memperlihatkan senyumannya karena Bara memperlakukannya sesuka hati. Di dalam mobil Franda duduk dikursi penumpang sambil memikirkan tempat tinggal yang diberikan kepadanya.
"Aku mau tinggal dimana pak?" Tanya Franda.
__ADS_1
"Terserah kamu mau pilih tinggal di apartemen atau dihotelku?"
"Apa? Hei om.. kamu pikir aku mau menjual diriku demi uang? Jangan pikir karena kamu kaya sehingga bisa memperlakukan aku seenaknya!" Franda berbicara tanpa ada jeda karena emosi.
"Hei jangan panggil aku om ya! Aku belum selesai bicara. Kalau kamu tinggal diapartemen maka aku akan tinggal dihotel, dan kalau kamu tinggal dihotel aku akan tinggal diapartemen. Bukan tinggal berdua bocah! Kamu pikir aku ini laki-laki macam apa?"
"Maaf pak, aku pikir tadi tinggal bersama." Franda tersenyum tapi menunduk malu.
"Kenapa? Kamu nggak sabar kita tidur bersama ya?"
"Apa? Ihh menyebalkan!" Franda membuang wajahnya menghadap ke jendela mobil.
Mobil Bara memasuki area apartemennya karena Franda menyuruh Bara memilih yang mana untuk dia tinggali beberapa waktu ini sampai mereka menikah. Bara dan Franda turun dari mobil, Bara membawa pakaian Franda dan Franda hanya mengikutinya dari belakang. Tempat tinggal Bara berada dilantai sepuluh dan setibanya diapartemennya Franda langsung meluaskan pandangannya karena melihat ruangan yang begitu mewah baginya.
"Silahkan duduk. Aku akan mengambil barangku didalam kamar setelah itu kamu bisa memasukkan barang-barangmu didalam kamarku."
"Jadi aku tidur didalam kamar pak Bara? Maaf pak aku tidak mau tidur dikamar lelaki."
"Jangan banyak membantah Franda, kamu beruntung bisa menikah denganku. Kamu tahu banyak wanita yang antri ingin tidur bersamaku tapi aku tidak mau dan kamu satu-satunya wanita yang aku beri izin masuk kedalam kamarku."
__ADS_1
"Ya sudah panggil saja mereka untuk tidur bersamamu, menyebalkan. Mana tasku, aku mau pergi!" Franda menarik tasnya dari tangan Bara.
"Hei tunggu!" Bara menarik ujung bajunya dari belakang.
"Maaf, iya kamu tidur dikamar tamu tapi aku tetap tinggal disini bersamamu. Eh, aku tidak akan berbuat apa-apa kepadamu, aku akan menjaga jarak." Ucap Bara memohon.
"Aku tidak mau pak, jika pak Bara masih tetap ingin tinggal disini biarkan aku dipecat dan mencari pekerjaan baru dan pastinya aku tidak akan menikah dengan pak Bara!" Ucapnya dengan lantang.
"Kamu memang spesial bagiku Franda. Jangan mencoba lari karena aku akan tetap mengejarmu. Baiklah aku akan pergi dari sini tapi nanti malam ya, biarkan aku bersamamu untuk beberapa waktu."
"Aku bilang nggak mau ya nggak mau pak! Pak Bara yang pergi atau aku yang pergi!" Seru Franda dengan keras.
"Hei ini apartemenku mengapa kamu yang mengusirku!" Bara mengernyitkan dahinya karena diusir dari tempatnya sendiri.
"Oke aku yang pergi!" Balas Franda.
"Franda.. oke aku akan pergi!" Ucap Bara takut.
Laki-laki sekarang banyak modusnya, kalau jadi wanita harus keras-keras biar mereka tahu kalau kita nggak gampangan. Batin Franda.
__ADS_1