Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Bonus 5


__ADS_3

Bara menghela nafasnya dalam-dalam setelah semua kegelisahan yang mengganggu pikirannya telah menghilang. Bara memegang erat pinggang Franda lalu mendaratkan ciuman dibagian bibir dengan lembut. Franda melotot karena terkejut dengan sikap Bara yang cepat mencium bibirnya. Tak berhenti sampai disitu Bara mulai turun dibagian leher hingga membuat Franda menggeliat. Bara mengangkat tubuh Franda memasuki kamar, dengan pelan Bara menjatuhkan Franda ketempat tidur.


Bara menindih dengan pelan tubuh Franda. Menatap Franda sejenak lalu kembali menciumi Franda dengan lembut. Ia menciumi aroma tubuh Franda dengan menempelkan hidungnya dibagian tubuh Franda. Satu tangannya membuka kancing baju Franda dan mulai menyentuh bagian-bagian yang mampu membuat Franda menggeliat diatas tempat tidur. Bara meletakan mulutnya dia telinga Franda lalu berbisik.


"Bisakah kamu memberikan aku anak?" Bisik Bara. Franda melepaskan pelukannya dari tubuh Bara.


"Berikan aku waktu sebulan untuk berpikir bang." Sahut Franda. Bara tersenyum lalu kembali dengan permainannya.


Setelah mereka telah selesai menyatukan tubuh, dengan perasaan bahagia Bara menyelimuti Franda yang telah tertidur pulas dengan kepala bertumpu pada lengannya. Bara mengecup kepala Franda dengan lembut lalu ikut memejamkan matanya disamping Franda.


****


Tiga bulan kemudian. Franda pingsan saat dikamar mandi membuat Bara begitu paniknya hingga memanggil mama Lina dan dokter kerumah mereka. Mama Lina bersama dokter datang secara bersamaan. Franda telah sadarkan diri tetapi wajahnya masih sangat pucat. Bara terus memegangi jari jemari Franda hingga akan dilakukan pemeriksaan. Dokter wanita yang sekaligus teman mama Lina itu tersenyum saat selesai memeriksa kondisi Franda.


"Istrimu baik-baik saja. Detak jantungnya normal, suhu tubuhnya normal hanya saja tekanan darahnya rendah. Kita harus memeriksakannya lebih lanjut kedokter kandungan." Ucap dokter Ana.


"Maksud anda istriku hamil dok?" Tanya Bara kegirangan.


"Aku belum bisa memastikannya tapi kamu boleh mencoba pemeriksaan pertama dengan menguji menggunakan test pack." Ucap dokter Ana.


Bara tidak menjawab langsung keluar dari kamar.


"Hei Bara mau kemana." Teriak mama Lina.


"Ke apotik ma, beli test pack." Teriak Bara dengan berlari.


"Dasar anak itu." Balas mama Lina.

__ADS_1


"Maaf aku harus buru-buru pulang karena ada urusan mba Lina." Ucap dokter Ana.


"Terimakasih." jawab mama Lina lalu menyalami dokter Ana.


Setelah kepergian dokter, mama Lina duduk disamping Franda.


"Mama buatkan bubur untukmu nak?" Ujar mama Lina.


"Maaf telah merepotkan mama." Sahut Franda masih terlihat lesu.


"Hmm kamu ini, nggak boleh ngomong gitu. Mama udah anggap kamu sebagai anak mama kok. Bara, kamu, Bumi dan Bulan bukanlah orang yang berbeda. Mama menyayangi kalian semua. Jangan sungkan-sungkan minta bantuan kepada mama jika kamu membutuhkan. Mama juga akan menginap dirumah sini beberapa hari untuk mengurusi kamu. Mama akan menyuruh suami kamu untuk mencari asisten rumah tangga untuk membantu kalian dirumah ini."


Franda meneteskan air mata dan bangun dari pembaringannya. "Aku sayang mama. Aku belum pernah merasakan kebahagiaan memiliki orang tua yang menyayangiku seperti ini." Ucap Franda tersedu.


"Mama juga sayang kamu nak." Sahut mama Lina.


Disaat Franda lagi terharu Bara masuk dengan nafas tersengal-sengal.


"Jangan marah yah kalau hasilnya negatif." Kata Franda. Bara langsung cemberut mendengar perkataan Franda.


"Itukan abang bakalan marah." Timpal Franda.


"Bara nggak boleh gitu, jodoh, anak, rejeki dan kematian itu atas kehendak Tuhan. Kasihan kan Franda sudah sampai menunda kuliahnya demi mewujudkan keinginanmu untuk punya anak." Ucap mama Lina.


"Iya ma." Jawab Bara lesu.


Franda masuk kedalam kamar mandi. Setelah beberapa menit didalam kamar mandi akhirnya Franda keluar dengan wajah lesu dan cemberut. Bara yang sejak tadi terlihat gelisah bisa membaca ekspresi Franda. Bara yang sejak tadi mondar mandir akhirnya terduduk sambil menunduk ditepi tempat tidur.

__ADS_1


"Bara nggak boleh gitu." Ucap mama Lina.


"Iya ma, aku baik-baik saja kok." Jawab Bara.


"Abang marah yah sama aku?" Tanya Franda.


"Tidak." Jawab Bara tapi masih menunduk. Franda berjalan kearah Bara duduk. Franda memperlihatkan test pack kepada Bara. Bara langsung melotot sempurna.


"Dua garis? Kamu hamil?" Teriak Bara.


Mama Lina dan Franda tersenyum bahagia.


Sekian dan terimakasih telah membaca.


Ini beneran tamat dan nggak disambung lagi. Nggak ada bonus setelah ini.


Aku tahu hidup itu nggak sebahagia novel, aku tahu hidup keras sama seperti memecahkan batu yang besar menggunakan tangan kosong. Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan maka dari itu jika masih banyak kekurangan mohon dimaklumi.


Poin penting bagi yang sudah menikah.


Jangan pernah menyepelekan komunikasi.


Jangan menyembunyikan apapun dari pasanganmu.


Bagi perempuan jangan membesarkan suaramu dihadapan suami.


Bagi laki-laki cobalah untuk membantu kegiatan istri dalam pekerjaan rumah dan jangan pelit jika kamu mempunyai dana lebih untuk membahagiakan istri.

__ADS_1


Dan poin yang paling penting jangan mudah mengatakan cerai.


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2