Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Biarkan aku belajar menjadi ayah yang baik


__ADS_3

Tidak ada luka yang abadi dan tidak ada kebahagiaan yang abadi. Semua berjalan sesuai dengan takdir masing-masing. Valen masih terduduk sedih disebuah cafe bersama Bulan, dia tidak menyangka hidupnya akan menjadi seburuk ini.


"Len, jujur aku bingung berkata apa lagi kepadamu. Aku tidak menyangka Reno tega melakukan ini terhadapmu. Aku juga takut terlalu jauh mengurusi rumah tangga kalian. Kamu tahukan suamiku tidak akan memberiku izin untuk bertemu Reno lagi."


"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa Lan, cukup mendengarkan curhatanku saja aku sudah sangat bersyukur."


"Kedepannya rencanamu apa?" Tanya Bulan sambil menatapnya dengan dalam penuh kesedihan.


"Aku tidak tahu, aku hanya berdoa semoga dia berubah dan mau menerima aku dan bayi ini sebagai keluarga kecilnya." Valen kembali menunduk menahan semua air matanya.


"Menangislah karena itu bisa membuatmu lega." Ucap Bulan. Valen menumpahkan semua air matanya dihadapan Bulan.


Bulan terlihat berpikir tetapi belum ada ide yang terbesit dalam pikirannya.


Andai kamu tidak hamil akan ku jodohkan kamu dengan mas Bara, hhhhhh.. apa aku gila sampai jauh kesana memikirkan nasib Valen. Batin Bulan.


Setelah lama mengeluarkan semua perasaan yang telah lama dia pendam akhirnya mereka berpisah dicafe tersebut. Bulan pergi diantar oleh sopir dan Valen mengendarai mobilnya seorang diri dengan perutnya yang besar. Cukup lama dia melamun hingga dia tersadar saat suara ponselnya berdering. Saat dia melihat layar ponselnya ternyata panggilan dari suaminya. Bulan menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ditelinganya.


"Aku merindukanmu sayang." Suara yang Bulan dengar saat dia mengangkat telfon dari suaminya.

__ADS_1


"Aku juga merindukanmu mas, aku baru pulang dari belanja perlengkapan bayi bersama Valen."


"Jadi kamu bertemu Reno hari ini? Apa dia menggombalmu lagi atau melirikmu dengan tatapan mesumnya?" Suara Bumi begitu keras sehingga Bulan sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya sesaat.


"Renonya nggak ada, hanya berdua dengan Valen mas." Jawab Bulan


"Oh syukurlah.. aku pikir Reno ikut bersama kalian. Mas tutup telfonnya sayang. Maaf klien mas sudah datang."


"Iya mas." jawab Bulan.


Bumi bukanlah laki-laki yang romantis jika berjauhan dengan Bulan. Dia sangat jarang menghubungi Bulan atau sekedar menanyakan kabar tentang kesehariannya tetapi jika bertemu langsung dia bagaikan seorang pangeran yang entah datang dari mana dengan segala perhatian dan kasih sayang yang dia berikan kepada Bulan.


Dilain tempat Valen yang baru tiba melihat mobil terparkir dihalaman rumahnya yang minimalis itu. Dia tahu mobil itu adalah mobil Reno. Dengan cepat dia mematikan mesin mobilnya dan masuk kedalam rumah. Dirumahnya Reno membuat dua kunci agar mereka berdua memegang kunci rumah satu sama lain. Reno sedang berbaring sambil menonton televisi dengan mengganti beberapa kali chanel televisi. Valen berjalan dengan belanjaannya mendekati Reno.


"Kok lama? Aku sudah lama menunggumu." Reno berbicara dan menghampiri Valen yang sedang berdiri dengan beberapa belanjaan ditangannya.


"Menunggu? Tumben menunggu biasanya juga kamu langsung pergi." Ucap Valen. Reno mengambil belanjaan dari tangannya dan meletakkannya di meja. Valen juga ikut duduk bersamanya didepan televisi.


"Bagaimana bayinya apa dia menendang perutmu hari ini?" Reno langsung mengarahkan tangannya keperut Valen dan merasakan gerakan bayi tersebut.

__ADS_1


"Dia menendang?" Teriak Reno karena pertama kalinya dia merasakan bayi itu diperut Valen.


Ada apa dengan sikapnya hari ini? Apa Bulan mengatakan sesuatu kepadanya? Tapi tidak mungkin secepat ini dia berubah menjadi perhatian kepadaku.


"Ada apa? Kamu tidak suka aku memegang perutmu?" Reno langsung menyingkirkan tangannya dari perut Valen karena melihat ekspresi sedih dari wajah Valen.


"Aku suka." Valen menarik kembali tangan Reno menempel diperutnya.


"Dia bergerak lagi Len, sepertinya dia menyukaiku." Reno berbicara dengan keras karena merasa sesuatu yang berbeda.


"Iya dia membutuhkan ayahnya, dia membutuhkan kamu Reno." Valen tak mampu menahan lagi air matanya sehingga Reno menarik tangannya dari perutnya lalu bersandar di sofa.


Reno terdiam, ada perasaan senang dihatinya saat menyentuh perut Valen untuk pertama kalinya saat mereka menikah.


"Aku akan menemaninya malam ini jika dia memang membutuhkan aku, tapi jika kamu keberatan untuk menemani kalian aku akan pergi dari sini." Ucap Reno.


"Ren, awalnya kita memang canggung hanya sebatas bos dan karyawan. Kita juga melakukan tanpa ada rasa suka dan hanya sebatas nafsu belaka. Setelah beberapa kali kita melakukannya aku rasa itu bukan hanya nafsu tetapi aku rasa aku mulai menyukaimu.0 Aku pikir kamu punya perasaan yang sama denganku saat itu. Tapi setelah aku memberi tahumu bahwa aku hamil, kamu langsung berubah dan mulai menjauhiku. Sebenarnya aku tidak masalah dengan sikapmu tapi anak ini butuh seorang ayah yang menyayanginya bukan sebatas memenuhi segala kebutuhannya." Valen menyahut dengan pelan.


"Jika kamu masih mau memaafkan aku, biarkan aku belajar untuk menjadi ayah yang baik untuknya." Reno memandangnya.

__ADS_1


"Ren, kata-kata itu yang aku nantikan sejak lama." Valen langsung memeluk Reno.


"Maafkan aku karena terlalu bodoh hingga mengabaikan kamu dan calon anakku, aku merasa sangat bersalah setiap hari. Aku sudah lama memikirkan ini tetapi aku terlalu malu untuk mengatakan kepadamu bahwa aku juga menyayangi bayi itu dan menginginkan dia terlahir didunia ini."


__ADS_2