Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Aku lelah tersakiti olehmu


__ADS_3

Di restoran dengan fasilitas VIP Bulan duduk sedikit berjauhan dari Bumi. Luna nampak hadir dalam ruangan tersebut. Bulan yang mengunakan baju dress biru laut membuatnya semakin cantik walaupun badannya sedikit membesar karena sedang mengandung. Luna nampak khawatir bersama Bumi melihat sorot mata Bulan yang tajam sedang menunggu kedatangan seseorang didepan pintu. Makanan mereka telah siap di atas meja tetapi tak satu orang pun yang berselera makan. Bumi tidak diberi izin oleh Bulan untuk mendekatinya bahkan tidur pun mereka masih terpisah. Raut wajah penuh kesal masih terpancar jelas diperlihatkan oleh Bulan sejak kedatangannya bahkan dari kemarin dia belum memberi izin Bumi untuk mendekatinya.


"Sayang, dia tidak akan datang." Bumi bersuara tetapi tidak berani mendekatinya karena Bulan tidak mengizinkannya.


"Pulanglah jika kamu ingin, aku akan tetap menunggunya." Sahut Bulan ketus.


Luna hanya bisa menjadi pendengar setia mereka diruangan itu. Setengah jam telah berlalu dan pintu terbuka. Terlihat Sarah datang dan langsung melempar senyum genit kepada Bumi.


"Hai sayang lama ya menunggu." Sapa Sarah mendekati Bumi tanpa menghiraukan Bulan yang duduk bersebelahan dengannya.


Bulan bertambah emosi, dengan refleks dia berjalan mendekati Sarah langsung melayangkan tamparan keras diwajah Sarah. Sarah hampir hilang keseimbangan karena mendapatkan tamparan dari wanita yang sedang dipandang sebelah mata olehnya.


"Hei perempuan! Kamu harusnya sadar diri dia suamiku bukan kekasihmu!" Bentak Bulan.


Sarah juga terlihat emosi. Tangannya hendak menampar Bulan tetapi dengan cepat Bumi berdiri menahan tangan Sarah.


"Jangan pernah menyentuhnya dengan tangan kotormu, jangan memanggilku dengan sebutan sayang karena aku bukan kekasihmu dan hubungan kita telah berakhir!" Bumi berbicara tegas.

__ADS_1


"Jadi untuk apa kalian memanggilku datang ketempat ini?" Tanya Sarah sinis masih berdiri dihadapan mereka.


"Silahkan duduk." Kata Bulan.


Sarah duduk tetapi tangannya masih memegang pipinya, masih tertinggal jejak jari diwajahnya yang mulus.


"Katakan apa maumu wanita penggoda!" Sarah mengatakan dengan keras kearah Bulan.


"Kembalikan uang yang diberikan suamiku kepadamu sekarang!" Jawab Bulan. Dadanya terlihat naik turun menahan emosi.


"Mengembalikan uang yang dia berikan kepadaku? Hei tahu tidak bayaranku dari laki-laki lain itu lebih mahal sedangkan aku memberikan tubuhku kepada suamimu sejak kami pacaran semuanya gratis. Itupun masih jauh dari kata cukup untuk setiap kenikmatan yang aku berikan kepadanya selama ini."


"Aku bayar semuanya setelah itu jangan menganggu hubunganku dengan suamiku." Sahut Bulan berusaha menahan air matanya mengalir didepan Sarah.


Bumi hanya bisa diam, bukannya dia tidak mau mempertemukan Sarah dengan Bulan tetapi dia sangat mengetahui kalau Sarah adalah sosok wanita yang keras kepala, tidak tahu malu dan akan melakukan apapun yang dia inginkan. Apa yang Bumi takutkan akhirnya terjadi juga, Bulan akan kembali terluka karena masa lalunya bersama Sarah.


"Oke kebetulan aku lagi butuh uang sekarang. Terserah kalian mau memberikan aku uang berapa asalkan jangan kurang dari seratus juta. Itupun aku sudah memberi diskon karena waktu itu aku ikut menikmatinya bersama Bumi. Setidaknya kami pernah merasakan kepuasan bersama diranjang. Cepat kirim uangnya ke rekeningku sebelum aku berubah pikiran!" Sahut Sarah sambil menyalakan sebatang rokok lalu pergi meninggalkan mereka diruangan tersebut.

__ADS_1


Bulan terlihat masih shock dengan perkataan Sarah. Pikirannya kembali kacau membayangkan hubungan Sarah bersama suaminya diranjang.


"Luna, transfer uang direkeningnya sekarang juga! Setelah itu blokir nomornya dan jangan biarkan dia memasuki area kantor." Perintah Bumi dengan tegas.


"Siap pak." Jawab Luna. Luna langsung bertindak cepat saat itu juga.


Bulan berdiri hendak pergi tetapi tubuhnya roboh seketika karena pingsan. Bumi melihat istrinya langsung dengan cepat menangkap tubuh istrinya dan membaringkan di sofa. Luna juga ikut membantu bosnya menyadarkan Bulan yang tidak sadarkan diri. Luna mengeluarkan minyak kayu putih dari dalam tasnya dan menghirupkannya diujung hidung Bulan. Beberapa lama menunggu akhirnya Bulan sadar, matanya langsung menangkap sorot mata Bumi yang penuh khawatir menunggunya tersadar.


"Sayang maafkan aku." Kata-kata pertama yang diucapkan Bumi kepadanya.


Bulan hanya mengeluarkan air mata. Benaknya berkecamuk melihat Bumi berada dipandangannya.


"Jangan mengulanginya lagi mas, aku lelah tersakiti olehmu. Aku akan tetap memaafkan kesalahanmu karena aku sudah terlanjur mencintaimu." Ucapnya pelan masih mengalir deras cairan bening itu dari sudut matanya.


Bumi menghapus air mata Bulan dari pipinya dan langsung menarik Bulan dalam dekapannya.


"Kamu terlalu sempurna untukku Bulan." Sahut Bumi.

__ADS_1


Luna kembali menjadi penonton mereka diruangan itu.


__ADS_2