
Bara melewati lorong rumah sakit itu dengan suara sepatu yang begitu keras, hentakan kakinya bisa terdengar memantul ditelinga siapapun. Dia mengantungkan jaket hitam di bagian belakang mengunakan satu tangannya, memang gaya pakaiannya sangat berbeda dari Bumi. Jika Bumi terlihat rapi dengan mengunakan kameja dan jas sedangkan dia terlihat santai mengunakan pakaian seperti anak rock n roll ibu kota. Saat diparkiran, dia memakai jaket kulit berwarna hitam serta memakai helmnya dan memacu motornya keluar dari area rumah sakit. Berkendara melawan angin, menantang jalanan yang ramai terdengar hiruk pikuk dari kendaraan lain saling berlomba mengejar waktu untuk bertemu dengan keluarganya.
Bara tiba di apartemennya melempar jaket dan sepatunya begitu saja. Pukulan berulang kali dia layangkan ke tembok, tak ada orang yang peduli karena memang tempat itu untuknya seorang diri. Dia menarik sebatang rokok dari bungkusannya dan membakarnya hingga dia terduduk di sofa memainkan asap yang keluar dari mulutnya.
-Bara POV
__ADS_1
Mayasari, kamu belum berubah masih sama seperti dulu, cantik, manja, mengemaskan, mata coklatmu yang sering menatapku dahulu masih bersinar dengan indah, jari jemarimu yang begitu lentik menggenggam tanganku, senyumanmu yang mampu membuat dadaku bergetar bahkan sampai sekarang aku belum bisa melupakan apapun tentang dirimu dari ingatanku. Aku sedikit bahagia kamu bisa bersama Bumi, hidup bahagia, menjadi istri orang kaya, Bumi sangat menyayangimu, walaupun hatiku seakan tersayat karena perpisahan yang dipaksakan. Andai saja kamu yang dijodohkan denganku saat itu, pasti tidak ada kata perpisahan diantara kita. Aku sadar papa banyak berhutang budi pada keluarga mama Lina dan segala sesuatu harus dibalas dengan mengorbankan aku. Aku bukannya menghindari kalian pa, ma, tapi aku merasa kalian yang menghidariku, kalian tak mau tahu aku seperti apa saat ini, kalian sibuk dengan kebahagiaan kalian masing-masing dan melupakan aku yang terlahir dari dosa kalian. Aku justru bangga punya mama Lina, dia mau menerimaku dengan baik, menganggap aku sama seperti anak kandungnya, bahkan sampai sekarang dia rela membagi sebagian hartanya untukku. Aku hanya dosa masa lalu yang tak bisa kalian musnakan dari bumi ini.
Lamunannya terhenti saat mendengar handphonenya berdering.
"Iya ma." Jawabnya dari paggilan telefon. Bara menutup matanya sesaat, hendphonenya terjatuh dari genggamannya.
__ADS_1
Di atas motor, terlihat air matanya mengalir ntah itu karena angin atau hatinya sedang terluka.
Aku tidak membecinmu pa, aku hanya kecewa dengan sikapmu.
Sampai dirumah sakit, Bara berlari menuju ruangan papanya dan ternyata ruangan itu telah kosong. Bara berlari mencari kamar mayat, dia mendapati mama Lina, dan keluarga Bulan sedang berada disana. Mama Lina menangis dipelukan Bumi, bukan hanya bibirnya yang pucat tetapi hampir seluruh tubuhnya terlihat pucat. Bara melihat Papanya terbujur kaku dibalut kain kafan, dia tertunduk menangis dihadapan mayat papanya.
__ADS_1
"Pa maafkan aku, seberapa kuat aku membencimu tetapi tidak mampu aku lakukan. Pa, aku menyesal telah melewatkan setiap waktu bersamamu, aku tahu kamu juga menyayangiku hanya saja aku pura-pura tidak mengetahuinya. Pa, aku mohon bernafaslah sekarang, aku janji akan menjadi anak yang penurut, aku mau membantumu mengurus perusahaanmu, pa, aku janji tidak akan pergi kemana-mana lagi tapi aku mohon bernafaslah untukku. Pa....!" Bara berteriak, penyesalannya semakin dalam karena telah melewatkan kebersamaan bersama papanya. Mungkin papanya telah mengambil jalan yang salah karena telah berlaku keras padanya tetapi dia tidak bisa membohongi perasaannya jika dia sangat menyayangi papanya.
Semua keputusan yang diambil papanya demi mengajarinya menjadi anak yang bertanggung jawab. Bara selalu menganggap apapun yang dikatakan papanya itu salah di matanya, dia selalu bertengkar jika papanya menyuruhnya untuk tinggal dirumah dan membantunya mengurus perusahaan. Bara mulai membantah saat hubungannya dan Bulan dipisahkan oleh papa Handoko. Dengan tegas papa Handoko menyuruhnya memutuskan Bulan karena Bumi telah dijodohkan dengan Bulan. Mulai saat itu Bara hidup sesuka hatinya dan tidak pernah peduli dengan lingkungan sekitarnya. Bara tidak memberi tahu kepada Bumi jika dia memutuskan Bulan karena paksaan dari papanya.