Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Kepanikan


__ADS_3

Bumi memarkirkan mobilnya diarea rumah sakit lalu dengan cepat dia berlari mencari keberadaan bulan diruang IGD kebidanan. Saat tiba dipintu IGD kebidanan terlihat bibi dan sopir menunggu didepan pintu.


"Bi, Bulan dimana?" Tanya Bumi dengan segala kepanikannya berkumpul menjadi satu.


"Lagi berada diruang observasi tuan." Jawab bibi.


"Bibi pulang saja, biar aku yang menemani Bulan."


"Iya tuan, semoga tidak terjadi apa-apa dengan kandungannya tuan, bibi terus berdoa untuk keselamatan nona Bulan." Bibi terlihat bersedih.


"Terima kasih bi." Balas Bumi.


Diruang observasi kebidanan hanya diperbolehkan satu penjenguk masuk kedalam ruangan tersebut. Bumi memasuki ruangan tersebut dengan jantung berdebar, langkah kakinya terhenti sejenak saat melihat Bulan sedang berbaring terpasang infus ditangannya.


"Sayang?" Bumi langsung menciumi istrinya.


"Mas, aku baik-baik saja, jangan khawatir berlebihan." Jawab Bulan menarik tangan suaminya yang nampak sedih.


"Bagaimana bisa kamu berkata baik-baik saja jika kamu berada disini? Kamu kok nggak hati-hati sayang?"


"Namanya juga kecelakaan mas nggak ada yang bisa nebak terjadinya kapan." Bulan berusaha menenangkan Bumi yang terlihat cemas.


"Bagaimana hasil pemeriksaannya sayang?" Seru Bumi.


"Detak jantung bayinya dalam keadaan normal, tenang saja istrimu ini punya kekuatan super jadi nggak akan terjadi apa-apa. Hanya butuh perawatan beberapa hari aku akan pulang sayang."


"Syukurlah kalau begitu, mama dan kak Bara akan balik dari Kalimantan karena mendengar kabar kamu pendarahan."


"Kok kamu telfon mereka sayang, kasian mereka jadi panik. Aku juga melarang bibi memberitahu orang tuaku."

__ADS_1


"Apakah masih berdarah?" Tanya Bumi sambil mengelus perut Bulan dengan lembut.


"Dikit aja sayang tapi nggak apa-apa kok, calon papa jangan suka mewek kasian si dede kalau papanya lembek hehehe." Bulan masih berusaha tenang dan bercanda.


"Selamat siang, maaf anda dengan suami nona Bulan?" Tanya seorang bidan kepada Bumi.


"Iya ada apa?" Bumi semakin terlihat panik.


"Bisa menemui dokter dimeja kerjanya sekarang!"


"Baik." Jawab Bumi tegas dan berdiri dengan cepat.


"Sayang aku pergi dulu." Bumi kembali mengecup kepala istrinya.


"Hemm." Jawab Bulan santai sambil tersenyum.


Setibanya diruangan dokter, Bumi duduk saling berhadapan dengan dokter tersebut.


"Keputusan apa dok?" Bumi bingung.


"Kita akan melakukan operasi walaupun usia kandungan istri anda belum cukup bulan. Bayi anda mengalami gawat janin. Detak jantungnya melemah dan istri anda mengalami kontraksi terus menerus akibat cedera."


"Apa? Tadi dia baik-baik saja. Istriku juga tidak mengatakan apa-apa tentang bayi kami?" Bumi terlihat shock.


"Kalau setuju dengan operasi ini silahkan tanda tangan disini." Dokter menyodorkan kertas dan pulpen kehadapan Bumi.


"Saya setuju dok, tolong berikan yang terbaik untuk istriku dan bayiku." Jantung Bumi berdetak kencang. Ternyata Bulan berbohong jika dia baik-baik saja. Bulan hanya berusaha menenangkannya.


"Istri anda sangat kuat, tak ada keluhan yang dia perlihatkan diraut wajahnya. Kami membutuhkan bantuan anda dengan doa tuan Bumi."

__ADS_1


"Iya dok, aku akan menemui istriku terlebih dahulu sebelum keruang operasi." Mata Bumi mulai berkaca-kaca, kekhawatiran itu semakin besar didalam hatinya.


"Silahkan, berikan dia dukungan dan jangan perlihatkan kesedihan anda agar dia tenang."


"Aku tidak bisa menjamin itu dok." Bumi berdiri tak lupa menyalami tangan dokter tersebut.


Sesampainya diruang observasi Bulan telah dipasangkan kateter. Tak ada tanda kesakitan yang dia perlihatkan hanya menarik nafasnya dengan dalam lalu menghembuskan secara perlahan. Bumi duduk disampingnya sambil membenamkan wajahnya didada istrinya.


"Kamu membohongiku sayang, kamu bilang aku baik-baik saja tetapi kamu sedang menahan sakit sekarang." Bumi menangis.


"Hei calon papa, istrimu baik-baik saja."


Tak lama berselang seorang petugas medis kembali menemui mereka.


"Maaf pak nyonya Bulan akan keruang operasi sekarang, anda bisa menunggu diluar." Ucap petugas medis.


"Sayang aku menunggumu dan menunggu Alula. Aku mencintaimu sayang." Bumi mengecup kening istrinya sekali lagi.


"Aku juga mencintaimu mas." jawab Bulan.


Dengan berat hati Bumi meninggalkan Bulan diruangan tersebut. Sekali lagi dia menoleh kebelakang melihat istrinya lalu dia keluar dari ruangan tersebut. Bumi memutuskan untuk menelfon orang tua Bulan walaupun Bulan melarangnya untuk memberi tahu keadaannya sekarang.


Bulan telah masuk keruang operasi dan orang tua Bulan tiba setelah beberapa jam dari Bumi menelfon mereka. Raut wajah mereka sama seperti Bumi yang nampak panik menunggu Bulan diruangan operasi.


Setelah beberapa jam mereka berada disituasi kepanikan akhirnya seorang dokter keluar dan memberitahukan kabar gembira kepada mereka.


"Selamat tuan Bumi, bayi dan istri anda selamat. Hanya saja bayi anda terlahir dengan berat badan lahir rendah maka kami akan melakukan perawatan diruang perinatologi."


"Terima kasih dok." Bumi akhinya bernafas lega walaupun dia belum bisa melihat bayinya dan menggendongnya. Orang tua Bulan juga bisa bernafas lega mendengar Bulan dan bayinya

__ADS_1


selamat.


__ADS_2