
Setelah seminggu kepergian Bumi, Bulan mencari udara segar dipagi hari dihalaman rumahnya yang begitu asri. Hamparan tumbuhan hijau menghiasi halaman tersebut, seorang tukang kebun sedang membersihkan halaman tersebut dengan memberikan senyuman kepada Bulan seperti biasanya. Kebetulan ini adalah hari libur jadi mama Lina berada dirumah sedang menyiapkan hidangan untuk kedatangan kedua putranya. Bumi akan tiba hari ini juga begitupun dengan Bara yang selalu mengunjunginya diakhir pekan.
Tak banyak aktivitas yang Bulan lakukan dirumah, terkadang itu membuatnya bosan bila ditinggal sendiri apabila semua orang sudah sibuk dengan semua aktivitasnya dihari kerja. Saat Bulan sedang duduk istirahat ditaman rumahnya, seorang satpam berlari membukakan gerbang yang menjulang tinggi membuat tatapannya meluas saat melihat mobil suaminya memasuki gerbang. Bulan langsung beranjak dari tempat duduknya mendekati mobil suaminya yang masuk kedalam garasi. Dengan berjalan pelan berusaha mengimbangi berat tubuhnya yang naik drastis dengan memegang perutnya menggunakan satu tangannya.
Bumi yang melihat istrinya berjalan kearahnya langsung bergegas keluar dari mobilnya dan memeluk Bulan dengan erat, menciumi kening, pipi dan langsung berjongkok menciumi perut Bulan.
"Kamu tambah gendut yah, baru seminggu ditinggalkan eh ternyata makin subur aja istriku." Kata Bumi menggoda Bulan.
"Mas jangan bilang gendut, aku kan jadi kesal."
"Iya deh, kamu langsing, cantik, nggemesin. Sini peluk lagi, mas sangat rindu padamu." Bumi menarik tubuh Bulan kedalam dekapannya. Satpam dan tukang kebun saling berpandangan seperti salah tingkah melihat kedua majikannya bermesraan dihalaman rumah mereka.
"Aku juga rindu mas. Kadang aku susah tidur karena tidak ada yang mengelus perutku, memijat kakiku, menciumi kepalaku, mengecup bibirku, memelukku, rasanya hampa tanpa kamu mas."
"So sweetnya istriku, ayo masuk kedalam kasian kamu berdiri lama-lama." Bumi melepaskan pelukannya dan berjalan masuk kedalam rumah.
Setibanya dirumah, Bumi langsung menemui mamanya yang berada dimeja makan menyiapkan makanan.
"Ma, aku pulang." Bumi langsung memeluk mamanya.
"Iya sayang, kasian istrimu ditinggal melulu dirumah. Kapan-kapan ajak dia keluar negeri jalan-jalan." Sahut mama Lina.
"Iya ma, setelah dede lahir baru kita liburan sayang." Bumi menoleh ke arah Bulan.
"Iya ma, aku nggak bosan kok berada dirumah asalkan mas Bumi pulangnya nggak marah-marah hehehe." Bulan terkekeh tertawa.
"Sana ganti baju dulu, kakakmu juga mau datang katanya mau bawa calon istri bukan calon pacar. Makanya mama masak banyak hari ini biar kita makan siang bersama " Ucap mama Lina sambil tersenyum.
__ADS_1
"Wuiih calon istri? Kira-kira wanita dari mana lagi yang akan diperkenalkan kepada kita ma." Bumi berpikir sejenak.
"Entahlah, katanya yang ini lain dari pada yang lain. Pokoknya is the best lah." Balas mama Lina.
"Oke ma, aku dan Bulan masuk kamar dulu." Bumi meninggalkan mama Lina.
Saat didalam kamar Bumi langsung melepaskan semua pakaiannya dan mengganti dengan celana pendek dan kaos berwarna putih. Bulan duduk di samping tempat tidur langsung mengambil ponsel suaminya dan memeriksa satu persatu pesan yang masuk didalamnya.
"Heemm sekarang kamu curigaan kepadaku." Bumi melihat Bulan sedang memeriksa ponselnya sedikit tersenyum.
"Harus dong mas, kali aja kamu khilaf diluar sana karena seminggu udah nggak pernah dapat jatah dariku."
"Hahahaha." Bumi hanya tertawa mendengar Bulan. Bumi duduk disampingnya dan menarik ponselnya dari tangan Bulan.
"Aku setia sayang, aku sudah berubah. Aku tidak akan selingkuh dari kamu apalagi mau cari kesenangan diluar sana."
"Terus kok kamu nggak minta jatah sekarang, biasanya juga kalau datang langsung ajak kekamar buat enak-enak. Apa karena aku sudah gendut jadi tidak menarik lagi didepanmu? " Sahut Bulan cemberut.
"Itukan mewek lagi, sayang mau mas gimana? Coba bicarakan baik-baik."
"Nggak mau gimana-gimana mas, tapi kamu berubah akhir-akhir ini. Jarang menghubungiku pas datang bawaannya biasa-biasa saja. Sekarang kamu lebih banyak menghabiskan waktu diluar." ucap Bulan kembali menangis.
"Maskan kerja sayang, jadi sering diluar." Bumi menyahut.
"Pokoknya mas berubah sekarang."
Bumi terlihat pusing melihat Bulan semakin hari samakin aneh kelakuannya.
__ADS_1
"Ya udah mas minta maaf, sebagai permintaan maaf mas bagaimana kalau mas pijat kakinya. Maukan?" Membujuk Bulan.
"Iya." Jawabnya dengan singkat lalu meletakkan kakinya diatas pangkuannya Bumi.
Beberapa menit Bumi mimijat kaki Bulan dengan pelan.
"Mas itukan kamu berubah, pijatannya tak seenakan dulu. Kamu nggak sayang lagi sama aku?"
"Ya ampun sayang, mana mungkin aku nggak sayang sama kamu. Kalau begitu kita berbaring mas peluk saja yah." Ucap Bumi berusaha sabar menghadapi sifat istrinya yang mencari perhatian setelah lama ditinggal.
Bumi dan Bulan berbaring, Bumi memeluknya dan sekali-sekali mengelus perut istrinya dengan lembut.
"Bagaimana hasil pemeriksaannya sayang?" Tanya Bumi.
"Bayinya perempuan mas, kamu pasti nggak suka kan kalau bayinya perempuan."
"Hemmm sensitif banget yah sekarang padahal mas belum jawab loh. Mas suka kok kalau bayinya perempuan. Mau laki-laki atau perempuan menurut mas itu sama saja nggak ada bedanya. Malahan mama lebih senang kalau cucunya perempuan karena mama dari dulu ingin punya cucu perempuan."
"Makasih mas, aku pikir kamu tidak menyukai anak perempuan." Bulan gembira dan melingkarkan tangannya dileher Bumi.
"Ingin diberi nama siapa nantinya sayang." Tanya Bumi sekali lagi.
"Alula Shyarom mas, kamu setuju?." Kini Bulan yang bertanya.
"Cantik namanya, aku akan selalu mengikuti semua perkataanmu sayang." Bumi mengecup kening istrinya sekali lagi.
"Aku menyayangimu mas."
__ADS_1
"Aku juga menyayangimu calon mama, papa juga menyayangimu Alula." Bumi menciumi perut Bulan dengan lama.
Maaf Baru bisa up 🙏