
Sekitar jam 4 pagi, Bumi sudah bangun dan terlihat dari jendela diluar sana masih sangat gelap.
"Sayang bangun." Bumi memainkan jari jemarinya dipipi dan membelainya dengan sentuhan lembut membuat Bulan menangkap jarinya menggunakan tangannya.
"Ada apa mas?" Tanya Bulan berusaha membuka matanya dan mengusapnya.
"Kita akan keluar kota hari ini!"
"Ke mana?" Seru Bulan kembali berusaha menyadarkan dirinya dari tidurnya.
"Kita akan ke puncak sayang, mau kan temani aku pergi? Luna dan sopir kantor juga akan ikut bersama kita."
"Hanya kita berempat?"
"Ada beberapa karyawan lain yang ikut bersama kita."
"Sekarang mas?"
"Iya sayang."
"Baiklah." Sahut Bulan lalu bangun dari tempat tidurnya dan melepaskan selimut yang membungkus tubuhnya.
Setelah berganti pakaian dan memasukan barang-barang mereka didalam kopor lalu mereka turun kelantai bawah untuk sarapan. Di halaman rumahnya sudah ada pak Robi dan Luna yang menunggu mereka dan beberapa staf lain yang berbeda mobil dengan mereka. Suasana rumah masih sepi karena ini masih sangat pagi dan hanya bibi yang sudah bangun untuk menyiapkan sarapan untuk Bumi dan Bulan. Di meja makan bibi Anti mengatur makan diatas meja. Terlihat beberapa kali Bulan masih menguap karena ini bukanlah jam bangun tidurnya.
"Bi, sampaikan kepada mama dan papa kalau aku berangkat pagi sekali."
"Iya tuan, bibi akan sampaikan kepada nyonya dan tuan besar." Sahut bi Anti.
"Sayang kamu sudah selesai makan? kita berangkat sekarang." Bumi memegang tangan Bulan berjalan dan tangan satunya menarik kopor mereka keluar dari rumah.
__ADS_1
"Iya mas aku sudah selesai." Bulan membersihkan mulutnya menggunakan tisu dan mengikuti Bumi berjalan disamping.
Diluar rumah berdiri pak Robi dan Luna sedang menunggu mereka.
"Selamat pagi pak. Selamat pagi nona Bulan." Seru Luna dan pak Robi. Pak Robi mengambil kopor dari tangan Bumi dan memasukkannya kedalam bagasi mobil.
"Selamat pagi. Mana Tomi, Dian, Bayu?" Ucap Bumi kepada Luna. Bulan hanya melempar senyuman kepada mereka dan merusaha melebarkan matanya agar tak terlihat mengantuk.
"Mereka berada diluar gerbang rumah anda pak." Kata Luna sambil masuk kedalam mobil. Ia duduk dikursi depan disamping pak Robi mengemudi sedangkan Bumi dan Bulan duduk dibagian belakang.
"Kita berdoa dulu pak sebelum berangkat." Pak Robi berkata dari bagian depan dan mereka semua berdoa bersama.
Selesai berdoa pak Robi langsung memulai perjalanan mereka dan satu mobil karyawan yang berisi tiga orang dalam satu mobil mengikuti mobil Bumi dari belakang.
"Bagaimana dengan berkasnya Lun? Jangan ada sampai yang tertinggal." Ucap Bumi dan sambil melihat jalanan yang belum terlalu ramai dari jendela mobilnya.
"Sudah lengkap pak, penginapan kita sudah disiapkan semua."
"Dia cantik pak, baik, aku senang pak Bumi menikahi nona Bulan." Luna bersuara tanpa menoleh kepada mereka.
"Terimakasih, dia memang cantik, baik dan pemaaf." Bumi langsung tersenyum saat istrinya mendapatkan pujian. Bumi juga menutup matanya dan tidur bersama Bulan didalam mobil.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, Bumi terbangun dan melihat Bulan tak ada disampingnya. Dia melihat keluar jendela ternyata mereka sudah berada diperkebunan teh yang begitu luas. Luna dan pak Robi masih berada di mobil sambil istirahat sejenak.
"Bulan? Di mana Bulan?" Bumi berteriak dengan paniknya menggoyang tubuh Luna yang sedang tertidur.
"Iya pak maaf, nona Bulan sedang jalan-jalan dikebun teh bersama Tomi, Dian dan Bayu pak." Sahutnya dengan pelan sambil menunduk karena tidak berani menatap bosnya itu.
"Ah.. kamu lalai, mengapa kamu membiarkan dia berjalan dengan pria lain? Kamu tahu dia siapa?" Bentak Bumi.
__ADS_1
Iyalah aku tahu dia istrimu Mr. cemburu. Aku kira sifatmu telah berubah ternyata lebih parah dari paniknya melihat Sarah dipeluk orang lain waktu itu.
"Maaf pak aku salah, aku akan memanggilkan istri Anda." Jawab Luna ketakutan.
"Tidak perlu. Biar aku yang menghampirinya." Bumi keluar dari mobil dan Luna mengikuti sambil setengah berlari karena langkah kaki bosnya sangat cepat.
Bulan dan karyawan Bumi sedang tertawa dan berfoto bersama diarea kebun teh. Bumi melihatnya dari kejauhan karena Bulan berdempetan dengan Bayu. Saat Karyawan lain melihat Bumi dari kejauhan mereka langsung membatasi jarak mereka dari Bulan.
"Maaf nona Bulan, pasti pak Bumi akan memarahi kami karena membawa anda sejauh ini."
"Jauh? Bahkan lubang hidungnya saja aku bisa melihatnya dari sini." Bulan hanya tertawa sedangkan Bayu, Dian, dan Tomi tidak tersenyum lagi saat melihat tatapan Bumi kepada mereka dari kejauhan.
"Tidak perlu takut begitu, aku akan membereskannya. Ayo kita kembali lagi kemobil."
Bulan berjalan duluan dan mereka bertiga ketakutan mengikuti Bulan dari belakang. Saat Bulan mendekati Bumi dan langsung mencium bibir Bumi dan memeluknya didepan karyawannya.
"Jangan marah kepada mereka, aku yang menyuruh mereka menemaniku. Aku sudah membangunkanmu tadi untuk menemaniku tapi kamu terlihat masih sangat mengantuk. Aku ingin berfoto dikebun teh ini bersamamu, maukan?"
Bumi masih terlihat kesal dan diam tapi tangannya tak bisa menolak untuk membalas pelukan dari Bulan.
"Kamu nggak mau? Kalau nggak mau ya udah, aku mau masuk mobil lagi." Tanya Bulan.
Karyawannya berpura-pura sibuk melihat pemandangan tapi sesungguhnya mereka menahan tawa karena melihat Bumi sedang cemburu kepada Bulan.
"Iya aku mau." Jawab Bumi datar. "Bayu, siapkan kamera!!" Perintahnya dengan lugas dan lalu berjalan menarik tangan Bulan mencari tempat yang dia sukai.
"Baik pak." Jawab Bayu.
Bumi dan Bulan saling berpose ala-ala prawedding dan Bayu sibuk berpindah tempat untuk mendapatkan hasil yang sempurna dalam pengambilan gambar bosnya itu. Akhirnya Bumi bisa tersenyum saat Bulan beberapa kali melayangkan ciumannya dipipi Bumi dan dengan
__ADS_1
bangganya dia menunjukkan kepada karyawan lain bahwa Bulan mencintainya.