Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Salah paham


__ADS_3

Sepekan telah berlalu, kini semua kembali seperti semula. Bumi pergi bekerja dan Bulan menjadi ibu rumah tangga sejati dan hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan aktifitas apapun. Kesehariannya banyak dihabiskan membaca buku tentang kehamilan dan menonton televisi. Semua pekerjaan rumah telah dikuasai oleh bibi cantik dan baik hati. Bulan tidak diberi izin oleh Bumi untuk menyentuh apapun didalam rumah ini yang bisa membuatnya lelah.


"Mengapa aku merasa sangat bosan dengan keseharianku? Mas Bumi juga jarang berada dirumah beberapa hari ini karena banyaknya pekerjaan yang menumpuk dikantor. Aku jadi rindu masa-masa saat aku bisa bebas kemana saja tanpa ada yang melarangku." Ucap Bulan sambil mengelus perutnya dengan lembut. "Atau aku kekantor mas Bumi untuk memberinya kejutan." Gumamnya dan bergegas turun dari tempat tidur untuk berganti pakaian.


Bulan kembali menuruni anak tangga dengan pelan karena harus lebih berhati-hati dengan calon bayi yang ada diperutnya.


"Bi aku pergi, nggak usah suruh sopir mengantarku karena aku akan naik taksi."


"Tapi non.., tuan akan marah kalau nona pergi tanpa izin darinya." Ucap Bibi khawatir.


"Tenang saja bi, aku akan memberi tahunya saat tiba dikantornya." Bulan memakai baju yang agak longgar agar bisa memberi ruang untuk calon bayinya bergerak didalam perut.


Bulan telah memesan taksi sebelumnya dan menunggu didepan gerbang rumahnya. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya taksi yang dia pesan tiba, Bulan masuk ke dalam taksi dan duduk dikursi penumpang. Tidak ada percakapan antara sopir taksi dan Bulan selama perjalanan kecuali hanya senyuman yang mereka lemparkan satu sama lain.


Taksi itu berhenti didepan gedung besar, Bulan keluar dari dalam Taksi.


"Terima kasih pak." Ucap Bulan sambil tersenyum.


"Sama-sama non." Balas pak sopir taksi.


Saat Bulan memasuki area kantor mulai dari pos jaga, satpam sudah menundukkan kepalanya melihat Bulan berjalan dan begitu seterusnya karyawan lain juga ikut menundukkan kepala saat melihatnya. Tiba didepan ruangan suaminya, Saat Bulan memegang handle pintu dan berusaha membukanya tanpa mengetuk ternyata pintu tersebut terkunci. Bulan akhirnya mengetuk pintu, perasaan menjadi tidak enak sedang apa Bumi didalam ruangannya. Tak lama berselang seorang gadis membukakan pintu, Bumi dan gadis tersebut begitu terkejut saat mendapati Bulan didepan pintu.


"Eh nona Bulan, silahkan masuk." Seru Dian berdiri didepan pintu. Bulan tak menjawab, wajahnya berubah menjadi kecut melihat Bumi dan Dian.


"Dian, kamu boleh keluar." Perintah Bumi. Bumi langsung berdiri dari tempat duduknya dan menyambut istrinya dengan pelukan hangat.

__ADS_1


"Kamu sedang apa dengan Dian mas?" Suaranya mulai berubah parau, menahan sesuatu dimatanya yang seharusnya sudah mengalir sejak tadi.


"Sedang kerja, nih lihat banyak tumpukan kertas dimeja."


"Tapi mengapa pintunya kamu kunci? kamu selingkuh yah?" Ucap Bulan tak mampu membendung air matanya lagi. Bulan langsung menumpahkan semuanya hingga mengalir deras dikedua pipinya.


"Sayang aku dan Dian tidak hanya ber..."


"Cukup mas, ternyata begini kelakuanmu saat dikantor? Kamu asyik berduaan dengan karyawanmu sedangkan aku dirumah menunggu karena rindu. Aku mau pulang ke rumah mama. Jangan menahanku mas karena aku tidak akan memaafkanmu."


Bumi hanya tertawa melihat Bulan cemburu didepannya. Ini pertama kalinya dia melihat Bulan mencemburuinya. Bulan hendak pergi tetapi Bumi dengan cepat menarik tangannya dan berbisik ditelinganya.


"Sayang Bayu ada didalam WC, aku tidak berdua tetapi kami bertiga." Bumi berbisik pelan, berusaha menangkan perasaan istrinya.


Tak lama berselang Bayu keluar dari WC.


"Mas kamu kok nggak bilang kalau kamu bertiga didalam ruangan ini."


"Lah tadi aku mau bilang tapi kamu selalu memotong omonganku." Bumi menyahut dengan sedikit senyuman kebahagiaan.


"Bulan langsung membenamkan wajahnya didada Bumi karena tersipu dan Bumi menyambutnya dengan kebahagiaan.


"Bayu? Sedang apa kamu senyam-senyum melihat kami?" Bumi menatapnya dengan sinis.


"Hehehe rasanya jadi pingin halalin yang jauh disana bos, maaf bos, nona Bulan aku permisi dulu soalnya disini tiba-tiba suasananya menjadi panas." Bayu langsung berjalan keluar meninggalkan mereka.

__ADS_1


Bulan masih tertunduk malu.


"Ayo duduk, kamu pasti lelah dalam perjalanan kesini." Bumi meraih tangannya dan duduk disofa. Bulan kembali membenamkan wajahnya didada Bumi dan tidak berani menatap Bumi.


"Hei ada apa?" Ucap Bumi.


"Ini karena kamu mas, apa kata mereka kepadaku. Pasti Dian dan Bayu berpikiran aku cemburu sama kamu."


"Ya emang kamu cemburu."


"Aku tidak cemburu mas!"


"Terus yang tadi itu apa kalau bukan cemburu."


"Hanya.. hanya takut kamu selingkuh."


"Sama saja sayang, itu kan cemburu juga namanya."


"Pokoknya aku nggak mau dibilang cemburuan, aku hanya takut kehilangan kamu dan meninggalkan aku bersama bayiku."


Bumi tersenyum.


"Manis banget kata-katanya, sini mas beri hadiah di bibirmu." Bumi menarik kepala Bulan hingga bibir mereka bersentuhan menciptakan permainan yang lembut membuat mereka menutup mata merasakan setiap kelembutan yang bersatu menjadi kenikmatan.


Krekk...tiba tiba pintu terbuka.

__ADS_1


"Bos hpku..ketinggalan." Bayu berdiri didepan pintu tak melanjutkan langkah kakinya.


"Maaf Bos salah masuk." Bayu keluar lagi dan menutup pintu dengan pelan, takut menganggu konsentrasi dua insan yang lagi memadu kasih ditengah panasnya udara luar.


__ADS_2