Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Diana


__ADS_3

Malam harinya, Bumi yang sedang duduk bersantai bersama mama dan istrinya kedatangan tamu yang tak diundang dirumah mereka. Biasanya Bara datang sendirian kini berbeda karena seorang wanita tinggi, putih, rambut yang terurai panjang mata yang menyorot sempurna dan bibir yang seksi sedang tersenyum keseluruh penjuru ruangan melempar kesetiap manusia yang ada diruangan tersebut. Diana, gadis yang bertemu saat diacara pernikahan Reno dan Valen kini dengan modisnya memasuki ruangan itu saling bergandengan tangan dengan Bara.


"Malam ma." Sapa Bara, lalu menyalami tangan mamanya.


"Malam nak, siapa dia?" Mama Lina melihat dari atas sampai dibawah penampilan Diana.


"Pacar aku ma, Namanya Diana." Sahut Bara.


"Calon istri tante!" Diana langsung menyela memperbaiki omongan Bara.


"Oohh baru lihat, silahkan duduk." Mama Lina seperti tidak suka dengan kehadiran Diana ditengah keharmonisan keluarganya.


"Iya ma terima kasih, ma sebenarnya aku ada urusan dengan Bumi. Maaf kalau aku ajak Bumi bicara diluar saja."


"Silahkan, mama juga mau masuk kedalam kamar. Bulan, kamu kalau mau istirahat juga boleh, biarkan Diana menunggu mereka menyelesaikan urusan mereka." Mama Lina langsung berdiri tanpa berpamitan kepada Diana.


Bumi dan Bara keluar dari ruang keluarga menuju halaman depan.


Diana hanya tersenyum simpul merasa dirinya tidak diberikan kesempatan bercengkerama kepada nyonya besar.


"Aku belum ngantuk ma, biar aku temanin Diana disini." Sahut Bulan.


Setelah mama Lina benar-benar menghilang dari pandangannya Diana langsung memasang muka kesal karena tidak dihargai kedatangannya oleh mama Lina. Diana meluaskan pandangannya kesetiap sudut ruangan beserta perabotannya yang ada didalam rumah tersebut.

__ADS_1


"Berapa kamar yang ada didalam ruangan ini? Berapa orang asisten yang ada didalam rumah ini? Kelihatannya hidupmu sangat enak menjadi istri dari seorang kaya raya." Tanya Diana dengan segala kekagumannya.


Bulan melongo mendengar pertanyaan Diana. "Aku tidak pernah tahu berapa kamar yang ada didalam rumah ini dan jumlah yang membantu didapur hanya dua dan selebihnya mereka tidak tinggal disini kecuali satpam." Balas Bulan terheran-heran dengan Diana.


"Katanya kamu dan Bumi dijodohkan? Enak dong, enggak perlu susah payah mengejar cintanya dan langsung duduk menjadi istri orang kaya raya. Beda kayak aku, aku harus berjuang untuk mendapatkan cinta Bara tetapi setelah mengetahui bahwa Bara hanya mendapatkan 40 persen dari kekayaan papanya aku tidak puas dengan perjuanganku selama ini. Bumi mendapatkan 60 persen dan aku merasa iri kepadamu." Ucap Diana dengan santai tidak merasa bersalah atau malu dengan ucapan yang dia lontarkan.


"Maksudmu apa? Aku menikah dengan Bumi tidak pernah memikirkan masalah harta." Bulan merasa kesal dengan Diana.


"Bohonglah kalau wanita jaman sekarang menikah bukan karena harta, aku dengar-dengar Bara adalah mantan kekasihmu? Aku lihat kamu juga masih suka dengannya. Andai kita bisa berganti peran, kamu menikah dengan Bara dan aku menikah dengan Bumi. Aku bisa mengatur semuanya jika kamu mau."


"Lancang kamu yah." Prakk.. Bulan langsung menampar Diana dengan keras dan berdiri meninggalkan Diana. Diana tidak terima dengan tamparan yang Bulan berikan dan langsung menarik rambut bulan dengan keras hingga bulan terjatuh dan kepalanya terbentur disudut meja kaca. Saat kejadiaan itu Bi anti yang kebetulan lewat langsung berlari mendekati Bulan.


"Nona Bulan?" Bi Anti berteriak dengan kuat hingga semua orang yang ada didalam rumah berkumpul disatu titik ditempat suara itu berasal.


"Sayang!" Bumi juga berteriak.


"Maya?" Bara berteriak, kemudian matanya langsung tertuju kepada Diana. "Kamu apakan dia?" Tanya Bara melototi Diana.


"Aku tidak sengaja." Diana langsung berlari keluar meninggalkan semua orang yang ada didalam ruangan tersebut.


Karena fokus mereka dengan Bulan, mereka tidak mempedulikan lagi Diana yang sudah pergi.


"Bumi cepat angkat istrimu! Kita bawa kerumah sakit sekarang." Perintah Bara panik.

__ADS_1


"Kak, aku takut terjadi apa-apa dengan dia."


"Bodoh, bukan waktunya berpikir." Bara langsung cepat mengangkat tubuh Bulan berlari kemobilnya. Mama Lina dan Bumi juga ikut berlari ke mobilnya.


Bara melaju dengan cepat karena Bulan tak sadarkan diri. Bumi duduk dibelakang bersama Bulan sedangkan mama Lina duduk sebelah Bara yang sedang mengendarai mobil. Bumi terus menangis dibelakang memeluk tubuh istrinya yang tidak sadarkan diri. Setelah perjalanan yang cukup menguras emosi akhirnya mobil mereka langsung memarkir diunit gawat darurat. Petugas medis langsung menyambut mereka dengan cepat melakukan tindakan setelah Bulan dibaringkan di bad UGD.


Semua keluarga menunggu diluar dengan cemas terutama Bumi yang sedari tadi tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Setelah cukup lama seorang perawat datang menemui mereka.


"Suami ibu Bulan ya?" Panggilnya dari pintu UGD.


"Iya." Sahut Bumi dengan keras.


"Ibu Bulan sudah sadarkan diri, dia mencari anda?" Balas perawat tersebut lalu masuk kembali keruangan tersebut.


"Syukurlah." Bara dan mama Lina langsung mengelus dadanya sedangkan Bumi langsung berlari menemui Bulan.


Setibanya didalam ruangan Bumi langsung memeluk Bulan, terlihat ada perban yang menutupi sudut kepalanya.


"Sayang, syukurlah kamu baik-baik saja. Aku hampir tidak bisa bernapas karena khawatir."


"Mas, kamu menangis?" Bulan tersenyum mendapati suaminya yang sedang menangis.


"Hemm. Kak Bara dan mama juga ada diluar. Aku akan menemui dokter apakah kamu akan dirawat atau hanya diobservasi diruangan ini beberapa jam." Ucap Bumi.

__ADS_1


"Iya mas, aku menunggumu."


Setelah lama berbicara dengan dokter yang ada diruang UGD ternyata Bulan diizinkan pulang dan kondisinya baik-baik saja termaksud bayi yang ada didalam perutnya.


__ADS_2