
"Buka mulutmu, jangan biarkan perutmu kosong..!" Ucap Bumi dengan nada serius.
Bulan duduk bersandar ditempat tidurnya sambil mengunci mulutnya dengan kuat, memalingkan wajahnya dari pandangan Bumi.
"Cepat makan!" Bumi mencengkam mulutnya, membuka paksa mulut Bulan dan menyuapinya. Bulan menahan makanan dalam mulutnya lalu menyemburkan ke wajah Bumi.
"Ahrggh..!" Bumi berteriak. Tangannya hampir saja melayang ke wajah Bulan tapi untung saja pikirannya masih berjalan dengan baik.
"Aku tidak mau makan apapun darimu! Aku mau bercerai!" Ucap Bulan lugas.
"Jangan gila! Bahkan umur pernikahan kita belum seumur jagung. Tapi jika kamu ingin bercerai sekarang silahkan, aku akan menantangmu jika kamu berani."
"Oke, besok pagi aku akan pergi mendaftarkan perceraian kita!"
"Oke, oke, aku minta maaf karena telah kasar kepadamu. Aku mengaku salah dan jika kamu belum menerima maafku silahkan pukul aku sekarang. Tapi aku mohon jangan lakukan itu, aku belum mau mengakhiri hubungan ini."
Prak,prak,prak,prak,... beberapa kali pukulan dilayangkan oleh Bulan didada Bumi. Bumi memasang dadanya dengan tegap membiarkan Bulan melakukannya dengan puas hingga dia tidak sanggup lagi. Bulan lalu menjatuhkan wajahnya kedalam dada bidang Bumi dengan menangis sekuat mungkin.
"Maafkan aku Bulan, mungkin aku terlalu bodoh karena telah menyakitimu. Aku hanya tidak tahu bagaimana memulai hubungan baik denganmu."
"Hiks,hiks, apa kamu senang menyakitiku? padahal aku tidak pernah menganggu hidupmu, bahkan aku tidak pernah melarangmu untuk tetap berhubungan dengan Sarah."
"Aku ingin berteman dengamu, jika hubungan pernikahan ini membuatmu tersiksa. Mulai sekarang anggap saja kita sedang berteman, tak ada jarak, tak ada hubungan kekerasan, tak ada hubungan fisik."
"Aku tidak mau."
"Please.. just friend Bulan, tidak lebih dari itu. Kamu bebas berhubungan dengan laki-laki manapun termasuk Reno, tapi aku mohon biarkan hubungan kita terjalin dengan baik."
Bulan mengangkat wajahnya melihat Bumi dengan kesungguhan hatinya.
"Just friend? Promise?".
"I'm sure, friend." Bumi tersenyum menyilangkan tangannya kepada jari kelingking bulan.
__ADS_1
"Just friends, okey saya setuju." Ucap Bulan membalas senyuman dari Bumi.
"Begini kan lebih baik. Ayo makan, aku akan menyuapimu."
"Kamu tidak memberi racun dalam makananku kan?" Ucap Bulan menatapnya curiga.
"Jika aku mau memberi racun dalam makananmu sudah aku lakukan sejak kita tinggal bersama." Bumi tertawa, kemudian menggelengkan kepalanya. Bumi memiringkan wajahnya mendekati bibir mungil merah merona yang ada didepannya. Seketika Bulan menutup mulutnya dengan tangannya.
"Just friends, tidak lebih dari itu kan?"
"Oke baiklah, tapi biarkan aku tidur bersamamu malam ini, jangan menolaknya karena aku akan memaksamu."
"Aku mau makan, setelah itu baru aku putuskan." Ucap Bulan.
"Apa aku mau menyuapimu?"
"Tidak perlu, tanganku belum kamu sakiti, jadi masih bisa aku gunakan." Bulan menarik piring yang ada disamping Bumi dan melahap makanan tersebut.
"Uhuk!! uhuk!!" Bulan terbatuk.
"Cepat minum!" Bumi memberikan dia air minum dan menepuk belakangnya.
"Tidak ada kata cinta untuk kedua kalinya, karena dulu kamu pernah menolak cintaku. Aku tidak akan pernah untuk menerima kembali orang yang telah menyakitiku."
"Bulan.. saat itu aku masih kecil, aku belum tahu jika menikah itu indah dan aku belum tahu cinta itu apa? Mengapa kamu mengingat masa itu. Apakah memang wanita itu pendendam?
"Yupss, Ayo tidur." Bulan turun dari tempat tidur dan mematikan lampu.
"Gelap dan dingin. Andai istriku itu nyata pasti aku bisa leluasa memeluknya." Ucap Bumi dalam kegelapan.
Bulan membalikan badannya membelakangi Bumi. Dia tidak tidur tetapi seakan tersentak dengan perkataan Bumi.
"Hei.. kamu sudah tidur?" Ucap Bumi.
__ADS_1
"Bulan? Secepat itukah kamu tidur?" Tanya Bumi sekali lagi tapi dia tidak menjawab.
"Baiklah... jika kamu sudah tidur biarkan aku memelukmu dalam waktu yang lama malam ini."
"Akan ku usir kamu dari dalam kamar ini jika kamu berani melakukan itu." Ucap Bulan tiba tiba.
"Hemmm.. aku tahu kamu belum tidur."
"Aku merindukan kamarku, Bum." Ucap Bulan sedih.
"Aku akan merubah kamar ini seperti kamarku jika kamu mau, tapi tetaplah berada disni karena aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu."
"Jangan bercanda, berhenti untuk mengharapkan hubungan ini lebih dari teman karena aku mencintai Reno."
"Bulan, Reno itu tak sebaik yang kamu pikirkan."
"Berhenti memulai pertengkaran Bumi! Aku lelah dengan hari yang panjang ini."
Bulan masih membelakanginya. Bumi melihat punggung Bulan lalu mengukir huruf dipunggungnya menggunakan jari telunjuknya.
"I-L-O-V-E... kamu membentuk huruf I Love."
"Kamu tahu artinya?"
"Aku cinta." Ucap Bulan lalu membalikkan badannya menghadap Bumi.
"Kamu." Bumi melanjutkan kata-kata Bulan lalu menatapnya dengan dalam. Kedua sorot mata itu saling beradu pandang dalam gelap membisu dalam kesunyiaan malam dan terdengar suara nafas kasar Bumi di telingga Bulan.
"Aku cinta kamu." Ucap Bumi mengulangi kata-katanya.
Bulan merasa gugup. Dia kembali membalikkan badannya membelakangi Bumi. Bumi mendekatkan mulutnya ketelingga Bulan dan berkata sekali lagi. "Aku cinta kamu Bulan, aku jatuh cinta saat kamu keluar dari dalam kamarmu dengan mengunakan baju pengantin berwarna putih dan aku yakin bahwa hatiku telah jatuh cinta kepadamu untuk pertama kalinya."
Bulan menutup matanya, berusaha tidak mendengarkan Bumi berbicara tetapi jantungnya berdetak kencang mendengarkan bisikan cinta dari Bumi.
__ADS_1