Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Diam


__ADS_3

"Aku tidak pernah tahu kapan cinta mulai tumbuh dihatiku, Bulan. Aku tahu kamu berusaha tegar menerima ini bukan karena kamu mencintaiku tapi karena kamu ingin bertahan agar perpisahan tidak terjadi. Aku tahu kamu sangat menyayangi orang tuamu bahkan kamu merelakan kebahagiaanmu hanya untuk melihat mereka tersenyum. Bagaimana aku tidak bisa bersyukur mempunyai istri sepertimu bahkan untuk masalah sebesar ini kamu berusaha tegar dan tenang dihadapanku, tapi aku tahu hatimu sangat terluka. Aku janji tidak akan pernah mengkhianati pernikahan ini dan cukup masa laluku saja yang kelam. Bulan, sekali maaf dengan semua ini. Aku sudah tidak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikanmu. Kamu melindungi aib suamimu dari keluargaku dan keluargamu. Kamu memang istri luar biasa, Bulan. Aku sangat mencintaimu." Gumam Bumi seraya menatap Bulan sejak tadi dimeja makan.


"Kamu sakit?" Seruan Bulan membuat Bumi tersadar dari lamunannya yang sejak tadi menatap Bulan.


"Seharusnya kata-kata itu tertuju untukmu bukan untukku. Kamu sakit dengan semua ini kan? Jangan membohongi perasaanmu karena raut wajahmu bisa menunjukkan rasa sakit itu." Seru Bumi lalu menggenggam erat tangan Bulan dimeja makan.


"Aku tidak ingin mengingatnya lagi, walaupun aku marah dan merontak karena sakit hati tapi itu tidak akan merubah keadaan karena semua sudah terjadi. Hanya kesabaran yang bisa membuat ini menjadi berubah. Berjanjilah untuk berubah Bumi, karena aku tidak akan memberikan kesempatan kedua untukmu jika aku mengetahui kamu berulah lagi dengan perempuan lain."


"Aku janji demi apapun, aku akan berubah untukmu. Aku akan mencintaimu dan tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan ini. Bolehkan aku memelukmu?" Ucap Bumi, terlihat matanya berkaca-kaca karena terharu.

__ADS_1


"Habiskan makananmu, setelah itu kita pergi."


Bulan kembali lagi menyantap makanannya.


"Bahkan untuk memelukmu kamu belum mengizinkan aku, Bulan." Ucap Bumi sedih.


Bumi hanya membawa pakaiannya dan begitupun dengan Bulan. Tak ada satupun barang yang mereka bawa dari rumah itu karena Bumi ingin membuang semua dosa masa lalunya bersama Sarah. Didalam mobil, Bulan tak banyak bicara dan hanya menjawab seperlunya jika Bumi bertanya. Sejak kejadian itu Bumi tidak pernah memeluk Bulan lagi walaupun hanya sekali karena Bulan lebih banyak menghindar darinya.


"Sampai kapan kamu tidak akan mengizinkan aku memelukmu?" Seru Bumi menanyakan pertanyaan konyolnya karena batinnya mulai terasa tersiksa karena tidak bisa menyentuh tubuh Bulan.

__ADS_1


"Biarkan aku yang memulainya untuk memelukmu." Jawab Bulan lugas.


"Tapi kapan?" Bumi mulai merasa kesal dengan Bulan yang selalu diam.


"Aku tidak tahu Bumi. Berhenti bertanya seperti itu karena kamu juga tidak akan mati jika tidak memelukku! Jadi berhentilah memulai pertengkaran. Apa kamu tidak bosan selama kita menikah kita selalu bertengkar?" Bulan meninggikan suaranya karena mulai terpancing dengan Bumi.


"Okey, aku salah." Sahut Bumi dan mulai diam dan fokus mengendarai mobilnya.


Sampai dirumah orang tua Bumi, pintu pagar tinggi yang membentengi rumah mewah tersebut terbuka lebar setelah Bumi membunyikan klakson mobilnya beberapa kali. Seorang satpam membukakan pagar rumah tersebut dan terlihat tersenyum kepada Bumi dan menundukkan kepalanya. Bumi membuka kaca mobilnya dan mengeluarkan tangannya dan memberikan jempol kepada satpam tersebut. Jika dilihat Bumi sangat akrab dengan satpam tersebut. Ini pertama kalinya untuk Bulan datang ke rumah orang tua Bumi karena sejak menikah Bumi tidak pernah menganjaknya datang berkunjung kerumah orang tuanya. Mama Lina sudah berdiri didepan rumahnya untuk menyambut Bumi dan Bulan. Sebenarnya bukan menyambut Bumi tapi lebih tepatnya menyambut Bulan. Mama Lina sangat mengetahui bahwa menantunya itu sudah menderita karena ulah anaknya apalagi ada beberapa pemberitaan dimedia yang menyinggung hubungan Bumi dan Sarah.

__ADS_1


__ADS_2