Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Bonus 1


__ADS_3

Setahun kemudian Bara tidak lagi tinggal diapartemen. Bara telah membangunkan rumah sederhana untuk Franda. Bara sedang duduk memandangi Alula yang sedang bermain bersama Bumi dan Bulan. Wajahnya nampak murung bersandar disofa sambil termenung. Bulan memberikan kode kepada Bumi agar melihat ekspresi kakaknya. Alula yang mulai bisa melangkah walaupun belum lancar berjalan, kini melangkah ke arah Bara. Alula hampir terjatuh tetapi Bara dengan cepat menangkap Alula.


"Kak ada apa?" Tanya Bumi penasaran.


Bara hanya menghela nafasnya. "Tidak terjadi apa-apa?" Sahut Bara masih dengan ekpresi murung.


"Alula sini sama mama, kita masuk kekamar yah." Ucap Bulan mengambil alih Alula dari tangan Bara. Bulan sengaja pergi agar bisa memberi ruang kepada Bumi dan Bara untuk bercerita.


"Kamu sangat beruntung punya istri seperti Maya." Ungkap Bara masih memandangi Bulan berjalan kekamar.


"Maafkan aku telah merebutnya darimu kak." Sahut Bumi sama memandang kepergian Bulan.


"Kamu tidak merebutnya, dia adalah takdirmu." Sambung Bara.


"Apa yang terjadi kak?" Tanya Bumi kembali.


"Franda, aku tidak mengerti apa yang ada dalam pikirannya. Sudah setahun lebih kami menikah tetapi dia belum ingin mempunyai anak. Aku tahu dia ingin mengejar cita-citanya tapi apakah masuk akal untuk menunda kehamilan sampai selama itu? Aku pusing Bumi. Aku harusnya bagimana? Apa dia belum bisa mencintaiku dengan sepenuh hatinya?" Ucap Bara lirih.


"Beri dia pengertian kak contohnya bilang saja kakak sudah tua.." Kata-kata Bumi terpotong saat Bara menatapnya dengan tajam. "Oke bukan tua bilang saja usia kakak sudah pantas untuk mempunyai anak. Yaelah kak Bara gitu aja nggak bisa sih."


"Kamu mah ngomong enak, tahu sendirikan usia Franda masih berapa? Apa dia selingkuh yah? Atau dia tidak ingin punya anak dariku?"

__ADS_1


"Hahaha tenang kak, aku akan konsultasi dengan Bulan soal Franda. Pulanglah siapa tau dia telah menunggu kak Bara."


"Kamu mengusirku?" Bara berdiri lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Bumi.


"Hemm sungguh rumit hubungan kalian tapi kelihatan seru juga." Ujar Bumi pelan.


Bara melaju dengan kecepatan sedang, ditengah jalan handphone berdering tetapi dia membiarkan saja handphone berdering.


"Apa dia selingkuh dengan teman kampusnya? Apa dia ingin pisah?" Batin Bara kesal.


Setibanya dirumah Bara langsung memarkirkan mobilnya digarasi. Disaat yang sama Franda baru tiba berboncengan dengan pria yang seumuran dengannya. Bara berhenti melangkah dan melihat secara detail jika benar yang dilihatnya itu adalah istrinya. Franda melambaikan tangannya kepada pria itu saat pergi. Bara dengan cepat melangkah ke arah Franda berdiri.


"De jelaskan apa yang tadi? Kamu selingkuhkan? Oh jadi ini alasanmu tidak ingin punya anak dari abang?" Teriak Bara membuat Franda mundur selangkah.


"Dia itu selingkuhanmu kan?" Bara menyela.


"Kamu egois bang, dia itu teman aku. Franda nelfon abang berulang kali tapi abang nggak angkat. Franda lupa bawa dompet tadi jadi nggak ada duit buat naik ojek online." Franda menundukkan kepalanya. Beberapa tetes air matanya lolos hingga membasahi kedua pipinya.


Bara dengan cepat meraih Franda kedalam dekapannya. "Maafkan abang de." Ucap Bara pelan.


"Abang kok jadi kasar gini sama aku?" Tanya Franda.

__ADS_1


"Ayo masuk nggak enak kalau ada yang lihat kamu nangis diluar sini." Kata Bara.


Franda menggelengkan kepalanya. "Aku nggak mau masuk, aku takut abang akan marah lebih besar lagi kepada Franda."


"Bener nggak mau masuk?" Tanya Bara mengangkat kepala Franda yang menunduk.


"Nggak mau bang, Franda mau disini saja."


Bara langsung mengangkat Franda berjalan masuk kedalam rumah. Franda membenamkan wajahnya kedalam dada Bara.


"Aku cinta abang." Ucap Franda.


"Kamu nggak cinta abang." Sahut Bara masih mengangkat Franda dengan kedua tangannya.


"Kok abang ngomong gitu sih..?" Wajah Franda cemberut.


Bara menurunkan Franda didepan pintu.


"Pikirkan kesalahanmu baru abang mau maafin kamu." Ucap Bara lalu masuk kedalam rumah tanpa menunggu Franda.


"Abang?" Sahut Franda sedih.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2