Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Ada apa dengan Valen?


__ADS_3

"Kita pulang sekarang sayang, kasian mama sendirian dirumah." Ucap Bumi.


"Iya mas, tapi bisa tidak kurangi rasa cemburumu itu kepadaku? Aku tidak akan mungkin menyukai orang lain lagi karena kamu sudah sangat sempurna untukku."


"Kamu bisa meminta apapun dariku tapi untuk berhenti mencemburuimu aku belum mampu memenuhinya sekarang karena aku tidak bisa melihatmu berdekatan atau melirik laki-laki lain."


"Mas?"


"Harap mengerti dengan keadaanku sayang."


"Iya mas." Sahut Bulan dengan wajah cemberut.


Mereka pulang setelah berpamitan dengan mama Rida, bahkan Bulan belum sempat bertemu sama Tasya.


Bip..bip..bip.. suara handphone berdering.


"Sayang handphonemu berdering." Ucap Bumi sambil mengendarai mobil.


Bulan melihat layar ponselnya ternyata panggilan dari Valen, dia mengusap tombol hijau pada layar ponselnya.


"Haloo..?" Ucap Bulan.


"Bulan aku butuh kamu sekarang, aku sudah tidak sanggup lagi menghadapi ini."


"Masalahmu apa? Bagaimana aku mau bantu jika masalahmu saja aku tidak tahu. Kamu dimana sekarang?"


"Aku ada dirumahku, Bulan." Jawab Valen terdengar suaranya sedang menangis.


"Aku akan kesana sekarang!"


"Aku menunggumu." Sahut Valen.


"Mas, bisa antarkan aku kerumah Valen sekarang? Kamu tidak perlu menungguku. Aku akan naik taksi pulang. Ada hal penting yang aku bicarakan dengannya."


"Masalahnya apa? Bukan tentang pria lainkan?"

__ADS_1


"Mas? Kapan sih kamu percaya denganku? Aku tidak mungkin selingkuh."


"Baiklah, jangan pulang terlalu larut karena aku tidak bisa berpisah denganmu dalam waktu yang lama."


"Iya mas terima kasih." Bulan tersenyum dan mencium punggung tangan Bumi.


Hhhh..Aku tidak percaya mempunyai suami cemburuan sepertinya.


Bumi mengantar Bulan kerumah Valen. Sesampainya disana Bumi kembali berulah karena memeluk Bulan didalam mobil sudah hampir 20 menit.


"Mas kapan aku masuk kerumah Valen jika kamu sejak tadi tidak melepaskan pelukanmu."


"Lima menit lagi aku memelukmu setelah itu kamu boleh pergi."


"Iya mas." Bulan pasrah.


Setelah lima menit Bulan melihat jam ditangannya.


"Mas sudah lewat lima menit 30 detik dan kamu belum melepaskan pelukanku."


"Dua menit lagi sayang aku tambah waktunya."


"Oke aku lepaskan, tapi berciuman selama semenit saja bolehkan?"


"Iya, iya boleh deh."


Bumi mulai merapatkan bibirnya hingga menyatu dalam bibir Bulan, dia memainkannya dengan lembut didalam mobilnya.


"Mas sudah dong, kapan aku perginya."


"Sayang tiba-tiba aku ingin main dimobil."


"Kamu gila mas!"


"Oke sekali lagi aku menciummu setelah itu aku izinkan kamu pergi." Ucap Bumi memohon..

__ADS_1


"Oke, tapi janji ini yang terakhir mas."


Bumi tidak menjawab, dia kembali memainkan bibir Bulan dengan lembut. Bukan hanya bibirnya tetapi tangganya sudah menyentuh sebagian tubuh bulan. Bulan melepaskan ciumannya.


"Mas stop!" Bulan sudah terlihat kesal.


"Oke, biar aku antar kamu sampai depan pintu rumahnya dan memastikan tidak ada laki-laki yang bersama kalian." Bumi langsung turun dari mobil sedangkan Bulan hanya bisa memandangnya dengan kesal.


Dasar egois! batin Bulan.


Bulan berjalan bersama Bumi. Sampai didepan pintu rumah Valen, Bulan memencet bel rumah yang terlihat sederhana itu tapi berjejer rapi bunga-bunga yang bermekaran dengan berbagai warna dihalaman rumah berwarna hijau itu. Belum ada sahutan dari dalam saat bel pertama dibunyikan. Bulan kembali memencet bel tersebut hingga ketiga kalinya. Bumi berdiri tegak dibelakangnya menyingkirkan rambut panjang yang mengahalangi leher putih istrinya. Bumi menghembuskan nafasnya beberapa kali dileher tersebut mampu membuat Bulan merinding seketika.


"Mas, jika ada yang melihat kita bagaimana?Bulan menjatuhkan kembali rambutnya hingga terurai kebelakangnya.


"Aku malah lebih suka jika ada orang melihat kita, aku suka seluruh dunia tahu bahwa kamu millikku."


"Ah...terserahlah." Bulan kesal dan membiarkan Bumi mempermainkan rambut dan lehernya dari belakang.


Kreekk.. pintu terbuka..


"Maaf, lambat buka pintunya Bulan. Silahkan masuk." Valen keluar dengan muka pucat dan menunduk.


"Iya nggak apa-apa kok." Jawab Bulan.


"Mas kamu pulang sana, aku mau masuk."


Bumi tak menjawab hanya menyentuh bibirnya agar Bulan menciumnya. Bulan menatap Valen yang berdiri didepan pintu karena Bumi tak pernah malu kepada siapapun.


"Oke aku mengerti, aku menunggumu didalam Bulan." Ucap Valen lalu pergi meningallkan mereka berdua.


Bulan memberikan ciumanya perpisahannya dan Bumi menahan kepalanya agar tidak melepaskannya walaupun sedikit lama mereka berciuman.


"Haaaaa." Bulan mengambil nafasnya karena kekurangan oksigen saat berciuman dengam Bumi.


"Ingat jangan pulang sampai larut!." Bumi menarik lagi tangannya dan mencium puncak kepalanya.

__ADS_1


"Iya, iya, mas aku mendengarnya." Bulan langsung berlari masuk kedalam rumah meninggalkan Bumi yang masih merindukan dirinya.


"Oh hatiku, tetaplah menjadi Bulan yang aku rindukan." Bumi memegang dadanya menatap kepergian Bulan dari depan pintu.


__ADS_2