
Saat tiba didepan rumah Bulan, Bumi langsung keluar dari dalam mobil menahan muntah, karena melihat muntah Bulan disekujur tubuhnya. Bulan masih tersandar lemas didalam mobil, tak mampu bicara apalagi berjalan keluar dari dalam mobil. Bumi langsung mengetuk pintu rumah mama nya. Tak lama kemudian Tasya membuka pintu dengan lebar dan Bumi langsung bergegas kedalam rumah mencari kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tasya sempat kebingungan karena ulah kakak iparnya tetapi matanya langsung tertuju kepada wanita yang ada didalam mobil sedang bersandar dikursi mobil. Tasya langsung berlari mendekatinya saat melihat Bulan sedang duduk lemas sambil menutup matanya.
"Kakak?" Tasya mengguncang tubuh kakaknya dengan kuat karena melihat Bulan tidak bergerak dan tak ada sahutan.
"Kakak kenapa? Jangan-jangan kakak meninggal." Kata Tasya. Kini dia tidak mengguncang tetapi mencubit tangan Bulan dengan kuat.
"Aww, Tasya! Apa-apaan kamu?" Sahut Bulan dengan sedikit teriakan karena kesakitan.
"Eh kakak masih hidup? Hehehe aku kira tadi kakak..." Tasya tidak melanjutkan bicaranya dan hanya tersenyum-senyum.
"Kamu kira apa? Kurangajar yah, kamu mengharapkan kakakmu meninggal? Ayo bantu kakak berjalan kedalam, kaki kakak terasa lemas."
"Kakak bawakan oleh-oleh apa untuk untuk Tasya."
"Tuh bawa muntah, pake tanya oleh-oleh lagi nggak lihat apa kakak lagi sakit?" Bulan memajukan mulutnya menunjuk muntahnya yang ada didalam mobilnya.
"Ihhhh kakak jorok banget, sana jalan sendiri saja. Tasya jijik pegang-pegang kakak." Tasya mundur satu langkah dan menutup hidungnya dengan menggunakan dua jari.
"Tasya, ayo bantu kakak berjalan atau tidak panggil mas Bumi didalam rumah."
"Aku panggil suami kakak saja." Tasya langsung berlari masuk kedalam rumah.
"Dasar anak itu, coba kalau masalah duit pasti dia cepat menolongnya. Pas di bilang nggak ada oleh-oleh langsung ogah-ogahan disuruh." Gumam Bulan menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya.
Tak lama berselang Bumi datang dengan rambut yang masih basah dan telah beganti pakaian.
"Kamu lupa aku yah? Tega kamu mas." Bulan cemberut.
"Aku pikir kamu sudah keluar dari mobil sayang, eh nanti Tasya bilang kalau kamu masih dimobil baru cepat-cepat pakai baju."
"Mas, enggak sayang lagi sama aku?"
"Hehehe kok jadi manja begini sih kamunya? Tapi mas suka kamu tiap hari manja seperti ini. Bikin mas betah dirumah." Bumi hanya tersenyum dan mengangkat Bulan masuk kedalam rumah.
"Aduuuh manja banget anak mama pake digendong segala lagi, katanya dulu enggak bakalan jatuh cinta sama Bumi. eh tahunya sekarang lengket kaya perangko."
__ADS_1
"Apaan sih ma, mas turunin aku!" Sahut Bulan malu.
Bumi langsung menurunkan Bumi disofa yang berada diruangan keluarga.
"Ma, aku mau makan masakan mama." Ucap Bulan.
"Iya tunggu mama baru masak, tadi Bumi sudah kasih tahu mama katanya kamu rindu dengan mama sampe nangis-nangis."
"Mama?" Bulan langsung punya kekuatan untuk berdiri dan memeluk mamanya.
"Mama juga rindu sama kamu, tunggu dikamar saja sambil rebahan nanti kalau makanannya sudah siap mama panggil kamu ya." Seru mama Rida sambil mengelus kepala putrinya yang telah tumbuh dewasa.
"Tapi Bulan masih ingin memeluk mama."
"Kapan masaknya kalau kamu tidak melepaskan pelukanmu ke mama."
"Iya deh." Bulan melepaskan pelukannya.
"Ma, aku dan Bulan masuk kamar dulu." Ucap Bumi.
"Tasya mana ma?" Tanya Bulan.
"Dikamarnya, katanya jijik lihat kamu." Ucap mama Rida.
"Awas kamu Tasya." Ucap Bulan kesal.
Sampai didalam kamar Bulan langsung membuka bajunya dan mengambil handuk lalu masuk kedalam kamar. Bumi duduk disofa sambil menghidupkan laptopnya.
"Mas, aku mandi dulu."
"Iya sayang, mas juga lagi sibuk." Sahut Bumi tak menoleh kearahnya.
Setelah mandi Bulan berganti pakaian dengan baju rumah. Bumi masih dengan posisinya yang sama dan terlihat serius menatap layar laptonya.
"Sibuk ya mas?" Tanya Bulan duduk diatas tempat tidur sambil mengunakan lotion pada tubuhnya.
__ADS_1
"Iya sayang." Sahut Bumi.
"Besok kamu kekantor saja mas, aku enggak apa-apa kok ditinggal sendiri disini."
"Iya sayang." Sahut Bumi singkat.
"Mas kamu sayang sama aku atau pekerjaanmu sih? Dari tadi aku bicara enggak diperhatikan." Kata Bulan kesal.
"Iya deh, mas matikan laptopnya." Bumi menyimpan laptopnya dan mendekati Bulan yang ada ditempat tidur. Bumi langsung memeluk Bulan dan mengelus perutnya dengan lembut.
"Mas, kalau badanku nantinya gemuk kamu masih sayang nggak sama aku?" Tanya Bulan
"Pertanyaan macam apa itu? aku sayanglah walaupun kamu gendut. Aku bangga punya istri yang mau merelakan badanya menjadi gemuk demi memberikan aku seorang anak." Sahut Bumi dan mencium kepala Bulan.
"Mas kalau aku gendut kamu enggak selingkuhkan? pasti kamu kembali tergoda melihat gadis-gadis langsing dan seksi diluar sana." Bulan kembali mencemaskan dirinya.
"Sayang berhenti bertanya seperti itu, karena aku tidak akan melakukan semua itu. Aku sangat sayang sama kamu, jadi biar kamu berubah jadi apapun aku tetap menyanyangimu." Sahut Bumi.
Tok..tok..tok..Suara ketukan pintu.
"Bulan ayo makan, makanannya sudah masak." Teriak mama Rida dari balik pintu kamar.
"Iya ma." Jawab Bulan.
Bumi dan Bulan keluar dari kamar menuju meja makan. Mereka duduk bersama Tasya dan mama Rida.
"Papa sudah berangkat kerja ma?" Tanya Bumi.
"Iya nak, seperti biasa. Kamu mengapa tidak masuk kerja?" Tanya mama Rida. Bumi hanya melirik Bulan, takut salah bicara.
"Oooh aku lagi ingin menemani istriku ma." Jawab Bumi.
"Mama senang kalian akhirnya bisa saling mencintai, dan tidak lama lagi mama akan mempunyai cucu." Mama Rida terlihat sangat senang dengan kehadiran anak dan menantunya.
"Heheheha mama." Bulan tersipu malu.
__ADS_1
Mereka akhirnya makan bersama dan Bulan dengan lahap menyantap makanan yang dibuat oleh mamanya.