Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Berusaha tegar


__ADS_3

Karena khawatir dengan kondisi kesehatan Bulan dan bayinya, akhirnya Bumi memutuskan untuk memindahkan semua barang-barang mereka yang ada didalam kamar mereka kekamar yang berada dilantai bawah. Perut bulan sudah terlihat membuncit hingga membuatnya semakin sulit untuk bergerak dan dia menjadi cepat lelah karena mengimbangi badannya yang sudah bertambah naik juga. Bulan mengalami kenaikan berat badan yang cukup drastis karena pola makannya yang tidak teratur dan suka ngemil dimalam hari.


Sambil berlutut dibawah kaki Bulan, Bumi mengelus lembut perut Bulan sambil berbicara dengan bayinya.


"Hey Baby.. papa berangkat keluar kota, jangan menyusahkan mama jika papa lagi nggak ada ya. Maaf papa nggak bisa menemani mama dan kamu buat check up didokter hari ini. Semoga kedepannya papa bisa menemani mama buat check up dan bisa melihat kondisi kamu didalam perut mama. Aku akan berangkat sayang." Bumi berdiri dan mengecup kening Bulan.


"Mas, jangan pergi! Aku maunya sama mas pergi ke dokter kandungan." Bulan merengek.


"Sayang hanya seminggu mas pergi keluar kota, setelah itu mas janji akan temanin kamu dirumah, jalan-jalan atau terserah kemana kamu mau pergi. Kalau kamu tidak hamil mas akan membawa kamu pergi tetapi mas takut jika menempuh perjalanan jauh kamu dan bayi kita akan kenapa-kenapa. Kamu baik-baik dirumah, jaga lupa minum vitamin, jangan lupa minum susu, jangan makan mie instan, jangan lupa makan buah dan istirahat yang cukup." Bumi berdiri dan berjalan keluar dari pintu kamar. Bulan langsung menundukkan kepala bersembunyi didalam rambutnya yang berjatuhan.


Bumi berjalan tanpa berpaling melihat Bulan yang sedang menangis, bukan karena dia tidak mau membujuk Bulan tetapi karena jika dia kembali pastinya dia tidak akan pergi karena tidak mampu melihat tangisan istrinya. Bumi menutup pintu dengan pelan, Bulan masih menangis didalam kamar tanpa mengantar kepergian Bumi.


Di mobil Bumi berbicara dengan bi Anti yang sedang berdiri disamping mobil.


"Bi jaga baik-baik istriku, aku harap bibi mengatur pola makannya, jangan lupa buatkan dia susu setiap pagi dan malam hari. Satu lagi, temani dia hari ini untuk pergi check up ke dokter kandungan. Kalau terjadi apa-apa dengannya langsung hubungi aku." Seru Bumi, kembali memandang ke pintu rumah berharap Bulan mengejarnya sampai ke luar rumah.


"Iya tuan, aku akan melakukan semua perintah tua." Sahut bi Anti.


Pak satpam sudah membuka dengan lebar pintu gerbang, Bumi masih menoleh sekali kepintu berharap Bulan masih mengejarnya tetapi setelah lima menit dia menunggu Bulan tidak menampakkan dirinya didepan pintu.


"Sayang bagaimana aku mau berangkat dengan tenang jika belum keluar gerbang saja aku sudah merindukanmu." Kata Bumi sambil memegang kepalanya seperti sedang pusing. Bumi tidak bisa menahan perasaan bersalahnya meninggalkan Bulan akhirnya dia kembali keluar dari mobil dan berlari menuju kedalam kamar. Saat didalam kamar Bulan sedang berbaring menghadap tembok sambil menangis memeluk foto Bumi didadanya. Bulan tidak menyadari jika Bumi telah berada dibelakangnya.


"Hei..!" Bumi duduk disampingnya.


"Mas?" Bulan langsung bangun dan memeluk Bumi dengan erat.


"Kamu enggak sayang lagi sama mas?"


"Kamu pikir aku menangis karena apa kalau bukan karena sayang!" Balas Bulan masih berada dalam pelukannya.


"Bagaimana mas mau tenang jauh dari kamu kalau saat mas pergi kamu tidak mengantar mas sampai dimobil. Ayolah sayang ini hanya seminggu, maukan antar mas sampai dimobil biar mas pergi dengan hati yang senang tanpa rasa bersalah meninggalkan kamu."

__ADS_1


Bulan menggeleng karena tidak mau.


"Yakin nggak mau antar mas? Nanti nyesel loh?"


Bulan masih menggeleng karena tidak mau.


"Oke mas pergi yah." Bumi melepaskan tangan Bulan yang melingkar dari tubuhnya.


"Mas? Iya aku mau." Panggil Bulan saat Bumi berada didepan pintu. Bulan beranjak dari tempat tidur dan mendekati Bumi yang berdiri dipintu.


Mereka berjalan bersama menuju mobil yang berada di halaman rumah, masih tertinggal kunci mobil tergantung didalam mobil. Bumi mengecup kepala Bulan dan masuk kedalam mobil. Bulan melambaikan tangannya saat Bumi pergi dan menyeka air matanya dengan kasar dipipinya.


"Semoga kamu baik-baik saja mas, aku menunggu kepulanganmu." Ucap Bulan sambil mengelus perutnya.


****************************************


Keesokan harinya Bulan berencana akan berbelanja baju bayi bersama Valen dipusat perbelanjaan terbesar dikota itu. Mama Lina tidak bisa menemaninya karena mama Lina juga sangat sibuk ditoko berliannya. Bulan telah melakukan pemeriksaan pada sore hari didokter kandungan setelah kepergian Bumi hari itu. Dari hasil pemeriksaan kondisi kesehatan Bulan baik-baik saja dan perkembangan janinnya semuanya normal. Dokter juga sudah memberi tahu kepada Bulan jika bayi yang dikandungnya adalah perempuan tetapi Bulan belum memberi tahu kepada Bumi kabar tersebut. Sejak kemarin nomor telfon Bumi susah dihubungi karena dia lebih banyak menonaktifkan handphonenya karena tidak ingin diganggu.


"Sayang, mas sudah sampai. Jangan lupa minum vitamin, jangan lupa minum susu, tidur yang nyenyak karena mas mengwatirkanmu jika kamu tidak mau menuruti perkataan mas. Aku rindu kamu dan calon bayi kita. I love you." Isi pesan Bumi dalam chatingnya.


"Aku juga rindu kamu mas, i love you too." Jawab Bulan setelah itu Bumi tidak membalas lagi pesannya.


Bulan diantar oleh sopir dan Valen telah terlebih dahulu menunggunya dipusat perbelanjaan.


"Valen?" Teriak Bulan saat melihat Valen sedang berdiri dengan perut besarnya sedang mencari keberadaannya setelah mereka chating.


"Bulan." Valen berjalan dengan pelan kearahnya. Wajahnya sangat gembira saat melihat kedatangan Bulan, mereka saling berpelukan.


"Lama tidak bertemu ternyata badanmu sangat subur sekarang. Pasti kamu sangat bahagia karena Bumi memperlakukanmu bagaikan putri." Ucap Valen terkejut melihat Bulan dengan bodinya yang membesar.


"Ih kamu bisa saja, bukan putri tapi Cinderella hehehe becanda. Kamu kok kurusan Len, hanya perutmu saja yang terlihat besar." Bulan melihat Valen lebih kurus karena terlihat pipinya semakin kempes.

__ADS_1


"Ya begitulah." Valen hanya tersenyum.


"Kamu merokok lagi? Atau jangan-jangan kamu mabuk-mabukan lagi?"


"Enggaklah, sejak kamu memberi tahuku untuk tidak lagi menyentuh semua itu aku tidak pernah lagi menyentuhnya. Aku merasa sangat bersalah pada bayiku Bulan, aku merasakan tendangannya membuatku semakin yakin untuk menjaganya dengan baik." Sahut Valen sambil berjalan menuju perlengkapan Bayi.


"Eh bayiku perempuan loh." kata Bulan senang.


"Benarkah? Aku baby boy." Jawab Valen.


"Ih senangnya akhirnya kita dapat suami yang penyayang dan bisa mengandung bayi dengan jenis kelamin berbeda." Kata Bulan. Valen hanya datar mendengar kata suami yang penyayang.


"Itu kamu... lain denganku Lan, dia hanya menganggap pernikahan kami sebagai formalitas. Dia tidak mencintaiku ditambah lagi orang tuanya masih tidak menyukai keberadaan aku dan bayi ini. Sebenarnya aku ingin menyerah dengan semua ini tetapi karena bayi ini aku menjadi kuat menjalani semua ini dan setidaknya dia masih menafkahi aku dan bayi ini dengan cukup walaupun aku tidak pernah merasakan kasih sayangnya." Kata Valen yang matanya berkaca-kaca sedih sambil melihat baju bayi yang terjejer rapi didalam toko tersebut.


"Mengapa kamu mau melakukan ini dengannya waktu itu? Seharusnya kamu memikirkan konsekuensi yang terjadi Len." Bulan juga melihatnya dengan sedih.


"Semua mengalir begitu saja, saat itu aku menemani Reno untuk minum diklub malam karena dia patah hati denganmu. Pada saat itu aku juga mabuk dan entah apa yang merasukiku hingga aku melakukan dosa terindah itu dengannya. Setelah kejadian itu dosa itu semakin berlanjut tanpa bisa aku kontrol. Pada saat tubuhku berada tidak dalam kondisi baik dan barulah aku menyadari bahwa aku sedang hamil setelah melakukan pemeriksaan dengan tespeck. Saat aku memberi tahunya dia tidak percaya dan mengatakan bahwa anak ini bukanlah anaknya dan bisa saja ini adalah anak orang lain."


"Jadi kamu tinggal bersama Reno?"


"Aku tinggal sendiri, kadang dia datang menemuimu setiap dua hari untuk membawakan aku makanan dan kadang juga dia sampai seminggu baru datang menemuiku."


"Bagaimana dengan orang tuamu?" Tanya Bulan lagi.


"Mereka malu, aku juga jarang pulang kerumah orang tuaku karena mereka akan selalu menyalahkan aku. Aku juga berterima kasih karena kamu Reno mau menikahiku." Ucap Valen menunduk.


"Bukan aku yang melakukannya tapi mas Bumi, aku juga tidak tahu alasan apa yang dia berikan hingga Reno mau menikah denganmu." Jawab Bulan.


"Bulan, setidaknya aku bersyukur dia masih mau menafkahi bayi ini." Sahut Valen tegar.


"Len, aku tidak sanggup lagi mendengar deritamu." Bulan langsung memeluknya dan Valen menangis didalam pelukannya berada didalam toko bayi.

__ADS_1


Beberapa orang menatap mereka berdua yang telah hanyut dalam kesedihan.


__ADS_2