Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Diana lagi


__ADS_3

Pagi harinya, bulan tidak merasakan mual atau muntah lagi seperti hari-hari sebelumnya. Dia meregangkan otot-otot tubuhnya dengan menyimpulkan kedua tangannya keatas dan matanya langsung tertuju pada ruangannya berada.


"Ini bukan kamarku, tapi ini juga tidak asing bagiku. Inikan kamar tamu, tempat pertama kali aku bersama mas Bumi datang kerumah ini. Mas Bumi dimana? Apa semalaman aku tertidur disini? Seingatku aku tertidur dimobil semalam." Gumamnya lalu beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu.


Kamar tersebut tepat berada didepan ruang keluarga, matanya kembali melotot saat mendapati Bumi sedang duduk dikursi dan seorang wanita sedang menangis sambil memegang kakinya. Bara dan Mama Lina duduk agak berjauhan dari Bumi dan wanita itu.


"Katakan, aku belum mendengarnya." Bentak Bumi dengan segala kekuatannya memenuhi seisi ruangan.


"Aku minta maaf tuan Bumi." Diana menangis dengan keras dibawah kaki Bumi.


"Diana? Astaga mengapa mas Bumi memperlakukannya seperti itu." Bulan berjalan pelan mendekati mereka.


"Mas? Kasian dia biarkan saja aku sudah memaafkannya. Lagian aku dan bayi kita tidak terjadi apa-apa." Kata Bulan sambil mengangkat Diana dari lantai sedang duduk menangis.


"Air mata penuh kepalsuan, jangan sentuh dia sayang!" Bumi langsung menarik Bulan kesampingnya.


"Kakak ipar, mama, lakukan sesuatu untuk menolong Diana." Bulan memohon, dia tidak menyukai Diana tetapi bukan hukuman seperti ini yang ingin dia lihat.


"Biarakan saja, masih untung aku tidak membawanya kekantor polisi pagi ini dan untung saja tidak terjadi apa-apa denganmu jadi dia masih bisa bernafas lega pagi ini." Kini Bara yang bersuara, tak ada rasa kasihan ataupun cinta lagi di matanya.

__ADS_1


Dia masih menangis minta maaf dengan segala kepolosan wajahnya yang dia tampakkan didepan semua orang yang ada didalam ruangan. Tidak ada yang prihatin kecuali Bulan yang merasa iba padahal Diana hampir saja mencelakai dia dan calon bayinya.


"Mas? aku tidak suka jika kamu berlaku kasar kepada wanita." Ucap Bulan, diujung matanya sudah tertumpuk buliran-buliran yang siap membasahi pipinya.


"Siapa yang menyakitinya? Aku hanya menyuruhnya minta maaf, aku juga tidak menyuruhnya berlutut dikakiku dan semua itu dia lakukan tanpa paksaan. Benarkan ma, kak Bara?"


"Hemm." Bara menyahut singkat.


Bumi melihat sekilas kewajah istrinya, dia melihat wajahnya itu penuh dengan rasa sedih melihat Diana duduk dilantai.


"Cepat berdiri! Kalau bukan karena istriku kamu tidak akan ku beri ampun!" Bentak Bumi.


"Sana pergi! jangan pernah berani menampakan dirimu didepan kami apalagi menampakan dirimu didepan istriku! Kamu dengar?" Teriak Bumi dengan keras, emosinya semakin menjadi-jadi melihat Diana, tetapi Bulan langsung mencengkeram tangannya dengan erat mengatakan dengan isyarat bahwa menyudahi semuanya.


Diana berlari dengan cepat keluar dari dalam rumah tersebut. Bumi masih mengatur pernapasannya, berusaha tersenyum melihat istrinya yang ketakutan disampingnya.


"Ma, maafkan aku. seharusnya ini tidak terjadi kalau saja aku tidak membawanya kerumah ini." Ucap Bara menunduk didepan semuanya.


"Ini bukan salahmu nak, malahan mama senang karena semuanya belum terlambat dan kedok kebusukan Diana bisa terbaca dari awal karena ulahnya sendiri. Mama tidak menyuruhmu mencari wanita yang cantik atau kaya, mama tidak membutuhkan itu karena mama hanya ingin melihat istri kalian mencintai kalian dengan tulus bukan karena harta atau karena status sosial kalian." Mama Lina mengelus pundak Bara. Mama Lina bisa merasakan Bara sedang patah hati yang kesekian kalinya.

__ADS_1


Aku pikir Diana yang terakhir dalam pencarian hidupku tetapi dia sama saja dengan wanita yang diluar sana yang pernah mengejarku karena menginginkan sesuatu. Hanya maya yang tulus mencintaiku selama aku mengenal wanita. Hanya dia satu-satunya wanita yang mencintai tanpa mengharapkan sesuatu kecuali imbalan cinta. Batin Bara, seakan ada silet yang sedang menyayat dengan keras hingga kepedihan itu kembali terasa didalamnya**.


"Sudahlah kak, jangan ditangisi wanita seperti itu. Kak Bara kan ganteng, tajir, gaul pasti kakak bisa mendapatkan wanita mana saja kecuali istriku." Bumi meledek.


"Aku sudah mendapatkan istrimu dulu hanya saja aku kasihan padamu jadi aku melepaskannya dengan paksa, hehehe bercanda." Bara kembali meledek. Bulan terdiam disamping Bumi.


"Masih pagi sudah bicara cinta, mama jadi rindu sama papa." Sahut mama Lina dan pergi meninggalkan mereka.


"Tuh kan... kakak pake acara patah hati segala akhirnya mama ikutan baper."


"Iya aku juga baper, jadi rindu papa." Kata Bara.


"Kak, kita pergi kekuburan papa, ajak mama melepaskan rindunya." Ucap Bumi.


"Ide yang bagus, aku kasihan juga lihat mama berusaha tersenyum dan tegar kepada kita tetapi sebenarnya dia sangat rapuh tanpa papa." Balas Bara.


"Ayo sayang, kita mandi. Biarkan nih presiden jomblo memikirkan nasibnya." Bumi langsung mengangkat Bulan dengan tangannya menuju kamar.


"Presiden jomblo? Sialan kamu Bumi!" Maki Bara dengan sedikit senyuman mendapati gelar presiden jomblo.

__ADS_1


__ADS_2