Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Masa depanmu adalah aku


__ADS_3

Setelah makan mereka duduk bersama diruang keluarga sambil mengobrol tentang hubungan Franda dan Bara.


"Franda umur berapa?" Tanya mama Lina.


"Jalan sembilan belas tahun tante." Franda berbicara masih canggung kepada semua orang.


"Sembilan belas tahun? Ampun deh kak, kamu mau nikah sama anak dibawa umur?" Bumi berteriak kaget.


"Kamu nggak hamilin Franda kan Bara?" Mama Lina memelototi Bara.


"Mama apaan sih, cium aja nggak pernah apalagi mau hamilin anak orang." Sahut Bara santai sambil membentangkan tangannya kebelakang dan memegang pundak Franda.


"Franda kamu yakin mau nikah sama om-om kaya kak Bara, kalau aku jadi kamu ogah nikah sama dia udah tua." Ledek Bumi.


"Sialan kamu bilang aku om-om." Balas Bara.


"Sudah berapa lama kalian pacaran?" Tanya mama Lina lagi.


Franda menoleh sejenak kepada Bara seperti sedang takut.


"Aku nggak pacaran sama pak Bara, aku terpaksa datang kesini katanya kalau nggak mau nikah nanti dipecat."


"Hahahaha." Bumi tertawa sampai terduduk dilantai karena melihat kepolosan Franda.


"Jadi keputusannya apa? mama nggak mau kamu bawa lari anak orang Bara!" Seru mama Lina.


"Bukan bawa lari anak orang ma, hanya dia satu-satunya wanita yang tidak tertarik kepadaku bukannya dia wanita yang menarik untuk dinikahi?" Bara tersenyum kepada Franda tapi Franda malah menunduk takut.

__ADS_1


Mama Lina menghela nafasnya dengan panjang.


"Besok mama akan bertemu dengan orang tua Franda untuk membicarakan masalah ini, jangan asal ajak nikah anak orang, Bara! Belum tentu orang tuanya setuju apalagi Franda masih kuliah semester awal."


"Ma, pasti orang tuanya setuju. Iyakan orang tuamu setuju Franda?"


"Aku yatim piatu, aku dibesarkan dipanti asuhan." Franda kembali menunduk.


Deg! Bara terdiam sambil menatap Franda yang menutup wajahnya dengan rambutnya yang berjatuhan. Jujur Bara belum mengetahui seluk beluk keluarga Franda karena dia tidak pernah bertanya. Dia mengenal Franda saat beberapa kali berpapasan membersihkan ruangannya, Franda selalu menunduk bahkan tidak pernah menatapnya seperti wanita lain saat melihat pesonanya. Franda tergolong remaja yang cantik, sosok pekerja keras dan tidak malu dengan pekerjaannya sebagai cleaning service.


Baru seminggu Bara dekat dengan Franda dan selama itu pula Franda menolaknya. Karena penolakan secara terus menerus membuat Bara semakin tertantang mendekati Franda. Semakin Bara mendekati Franda dan semakin takutlah Franda kepada Bara hingga akhirnya Bara menggunakan jurus terakhirnya yaitu ingin memecatnya jika tidak mau ikut bersamanya kerumah mamanya.


"Ma, aku mau antar pulang Franda. Aku akan tetap menikah dengannya tanpa harus menunggu persetujuan dari siapapun." Bara berdiri dan merangkul Franda saat dia melihat mata Franda mulai berkaca-kaca.


"Tante, kak Bulan dan ka Bumi.. aku pamit pulang. Makasih atas kesempatannya yang diberikan kepadaku untuk merasakan bagaimana rasanya mempunyai keluarga yang harmonis." Ucap Franda. Mama Lina berjalan mendekatinya dan langsung memeluknya dengan erat.


Franda tak mampu menahan air matanya akhirnya dia menangis dalam pelukan mama Lina.


"Peluk abang juga Franda." Ucap Bara membentangkan kedua tangannya menyambut Franda.


"Enggak Boleh ada adegan peluk-peluk kalau belum dinikahi!" Sahut mama Lina.


"Hehehe, ayo dong nikah sama abang besok." Balas Bara sambil tersenyum.


Bumi dan Bulan hanya bisa menyaksikan mereka terhanyut dalam emosi yang membawa mereka dalam keharuan.


Setelah berpamitan Franda dan Bara pergi dari rumah mama Lina. Didalam mobil Franda masih menunduk tak berani menoleh ke arah Bara yang sedang mengemudi. Bara menarik tangan Franda kedalam genggamannya dan menciumnya beberapa kali.

__ADS_1


"Kita sama, aku juga sudah tidak punya orang tua." Ucap Bara.


"Maksudnya? Bukannya tadi itu mama kamu?" Franda mengangkat kepalanya lalu menoleh kearahnya karena merasa penasaran atas ucapannya.


"Mama Lina malaikat bagiku, aku bukan anak kandungnya tetapi aku tidak pernah diperlakukan sebagai orang asing dalam keluarganya. Dia membesarkan aku penuh kasih sayang sama seperti anaknya sendiri. Kita sama sama terlahir dari keluarga yang tidak lengkap."


"Pak Bara maafkan aku, tapi aku masih ingin mencapai masa depanku." Sahut Franda pelan.


"Masa depanmu adalah aku, aku akan menemui ibu pantimu untuk meminta restu pernikahan kita. Walaupun kamu menolak aku akan memaksamu untuk menikah."


"Ini tidak adil pak!"


"Heeemmmm." Bara menjawab singkat.


"Pak, tapi bagaimana dengan kuliahku?"


"Kamu kamu akan tetap kuliah dan menjalani aktifitasmu seperti biasa tetapi kamu tidak akan bekerja lagi sebagai cleaning service."


"Aku tidak pernah menyangka akan menikah dengan om-om." Franda berbicara pelan.


"Aku mendengarnya Franda, umurku 29 tahun dan itu masih tergolong muda." Balas Bara.


"Sama saja, jaraknya kan jauh dari umurku."


"Jangan menyahut lagi! karena pernikahan ini akan tetap berlangsung."


"Pemaksaan!" Ucap Franda kesal.

__ADS_1


Bara tak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis melihat Franda yang cemberut.


__ADS_2