Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Pilihan macam apa ini?


__ADS_3

Kamar mama Lina tergolong luas, bukan hanya luas tetapi sangat mewah. Didalam kamarnya terdapat kulkas, meja makan kecil, sofa panjang beserta meja. Didepan sofa ada sebuah televisi lebar yang tergantung didinding. Lemari-lemari mewah terjejer rapi beserta tas dan sepatu yang tergolong mahal untuk kalangan pengusaha sepertinya.


Pagi hari, Bulan berusaha membuka matanya karena merasa ada yang yang berat sedang menindih kakinya. Dia melihat diperutnya ada tangan kekar sedang memeluknya dan kakinya sedang bersilangan dengan kaki Bumi. Bulan menoleh kesampingnya ternyata suaminya sedang tidur dengan mulut ternganga.


Bulan mencoba menyadari dirinya saat melihat seluruh kamar. Dia ternyata masih berada dikamar mertuanya dan terlihat mama Lina sedang tertidur disofa panjang.


"Mengapa dia memelukku? Iih sumpah dia sangat menyebalkan." Gumamnya dengan pelan lalu menyingkirkan dengan pelan lengan Bumi dari tubuhnya.


"Eh sudah bangun nak." Ucap mama Lina baru bangun dari tidurnya.


"Mama, kok mas Bumi berada disini?" Sahut Bulan bingung.


"Maafkan mama, semalaman dia mengetuk pintu membuat mama susah tidur karenanya. Akhirnya dengan terpaksa mama membuka pintu dan dia langsung naik diatas tempat tidur dan memelukmu. Mama masih marah kepadanya tetapi mama bosan mendengar rengekannya diluar kamar." Jawab mama Lina.


Kebiasaan nih mas Bumi, habis berbuat salah lagi-lagi minta maaf, setelah itu berbuat salah lagi dan minta maaf lagi. Batin Bulan kesal.


"Iya ma, aku mau kekamarku mau mandi dan cari udara segar." Bulan turun dari tempat tidur dan meninggalkan Bumi yang masih terlelap.


Mama Lina membiarkan Bumi tidur didalam kamarnya sedangkan dia masuk kekamar mandi karena mau berangkat ke tokonya pagi ini.


Bumi membuka matanya mendapati kamar mamanya telah kosong tinggal dirinya seorang.


"Pada kemana nih orang?" Ucapnya memandangi seisi kamar.

__ADS_1


Bumi juga langsung pergi meninggalkan kamar mamanya mencari Bulan didalam kamar mereka.


"Sayang?" Panggil Bumi membuka pintu sambil melihat Bulan didalam kamar.


Bulan tidak berada didalam kamar. Bumi berjalan didalam kamar mandi ternyata Bulan juga tidak ada. Bumi keluar dari kamarnya menuju meja makan ternyata bulan tidak ada di tempat itu. Tidak putus asa Bumi berjalan keluar rumahnya menuju halaman ternyata Bulan sedang duduk ditaman kecil yang berada dihalaman rumahnya. Bumi mendekatinya dan duduk disampingnya.


"Selamat pagi sayang." Sapanya dengan penuh senyuman.


Bulan tidak menyahut hanya memandang ke lain tempat.


"Kamu masih marah kepadaku?" Kali ini Bumi mengambil tangan Bulan tapi Bulan dengan cepat Bulan menepis tangannya.


"Aku harus berbuat apa agar kamu mau memaafkan aku sayang?" Sahut Bumi masih mengemis meminta maaf di hadapan Bulan.


Bulan berdiri dan meninggalkannya begitu saja ditaman tersebut.


"Sayang aku harus bagaimana? Aku sudah minta maaf banyak kali tapi kamu tetap masih marah kepadaku." Sambil berjalan dibelakang Bulan.


"Aku sudah pernah bilang kepadamu, aku memaafkan kesalahanmu pernah tidur bersama Sarah tetapi aku tidak memberi maaf kedua kalinya jika kamu masih berhubungan dengannya." Sahut Bulan dengan keras.


"Tapi aku tidak tidur dengannya hanya meminjamkannya uang." Bantah Bumi.


Bulan terus berjalan hingga kedalam kamarnya.

__ADS_1


"Percuma bicara dengamu, aku muak!" Balas Bulan.


Bulan tidak pernah semarah ini kepada Bumi. Dulu saat mengetahui bahwa Bumi pernah tidur dengan Sarah dia marah tetapi dia bisa memaafkannya dengan cepat. Bulan sosok pemaaf tapi jika orang tersebut mengulanginya maka kata maaf terasa berat untuknya.


"Apa yang harus aku lakukan sayang? aku tidak mau kamu terus memperlakukan aku seperti ini?" Bumi masih memohon disampingnya.


"Pertemukan aku dengannya." Bulan menyahut dengan keras.


"Dengan siapa?" Tanya Bumi mengerutkan dahinya.


"Sarah!" Jawab Bulan tegas.


"Apa?" Bumi terkejut.


"Kenapa? Kamu takut karena tidak bisa memilih aku atau dia.


"Bukan begitu sayang, tapikan kamu sedang hamil?" Bumi mencari alasan.


"Kenapa kalau aku hamil? Kamu bisa melindungiku jika Sarah berbuat kasar kepadaku atau kamu takut aku yang berbuat kasar kepadanya?"


"Sayang tidak ada pilihan lain?"


"Katakan iya atau tidak? Jika kamu masih tidak setuju ya sudah aku pergi dari rumah ini dan kamu urus saja Sarahmu yang lagi jatuh miskin." Bulan mengatakan dengan sungguh-sungguh. Dia kini terlihat sangat emosi bahkan dia tidak memberikan Bumi celah untuk dimaafkan.

__ADS_1


Bumi terlihat berpikir sambil memegang rambutnya.


"Ahhh... pilihan macam apa ini?" Bumi kesal.


__ADS_2