Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Maaf, aku membohongimu Bulan....


__ADS_3

Didalam ruangannya Bumi masih berpikir, rasa khawatirnya semakin berlebih.


"Maafkan aku Bulan, aku tidak bermaksud membohongimu tetapi aku khawatir jika kamu meninggalkan aku. Sebenarnya Bara tidak meninggal, dia baik-baik saja sampai sekarang. Ternyata gadis yang sering dia ceritakan dulu itu adalah kamu. Sebenarnya Bara sangat mencintaimu, sama seperti kamu mencintainya. Tapi aku juga tidak tahu mengapa dia tiba-tiba memutuskanmu? Atau jangan-jangan papa mengetahui hubunganmu dengan Bara dan dia menyuruh Bara untuk memutuskanmu? Andai dulu aku peduli denganmu dan mau untuk bertemu denganmu pasti kamu tidak mengenal Bara. Jika aku tahu kamu tumbuh menjadi gadis yang cantik pasti aku tidak akan menolak untuk bertemu denganmu. Bara sudah banyak berkorban dalam keluarga ini dan dia banyak mengalah dariku. Cepat atau lambat kamu pasti akan mengetahui keberadaan Bara. Ini karena papa yang tidak pernah benar-benar sayang kepada Bara dia selalu membeda-bedakan aku dengannya makanya dia jarang menemui keluarga bahkan waktu aku menikah dia juga tidak hadir." Batin Bumi.


Luna masuk dan langsung menghampiri Bumi dimeja kerjanya.


"Pak Bumi, ini ada beberapa berkas yang harus ditanda tangani dan jadwal kita untuk keluar kota dimajukan besok untuk mengecek Villa yang akan dibangun didaerah puncak. Rencananya kita akan bertemu warga untuk membebaskan beberapa lahan yang belum disetujui oleh warga." Ucap Luna.


"Berapa lama kita berada disana?"


"Paling cepat dua hari dan paling lambat tiga hari." Jawab Luna.


"Tolong siapkan tempat untukku disana, aku akan mengajak istriku ikut serta."

__ADS_1


"Siap pak." Jawab Luna sigap.


"Kamu sudah izin dengan suamimu?" Tanya Bumi kepada Luna.


"Iya pak, suamiku memberi izin untuk pergi bersama anda."


"Baiklah, terima kasih Luna."


"Terima kasih kembali pak." Sahut Luna lalu meninggalkan ruangan Bumi.


"Bulan? astaga aku lupa jika kamu ada dirumah." Bumi dengan cepat memasang kembali jasnya dan mengambil tasnya dan pulang kerumah.


Masa-masa indahnya bersama Bara terus terbayang didalam pikiran Bulan. Dibalkon kamar Bumi bisa terlihat jelas halaman rumah Bumi yang luas dan sangat asri. Sangat berbeda dengan rumahnya yang hanya berada digang yang padat penduduk. Bulan berdiri melepaskan pandangannya dan terlihat satpam rumah mereka meliriknya sesekali. Angin malam yang berhembus seakan membuatnya ingin mengulangi masa indah bersama Bara. Walaupun hanya setahun bersama Bara, dia masih mengingat luka dan cinta yang berkumpul menjadi satu didalam hatinya. Dua insan yang pernah dimabuk cinta itu tidak peduli panas atau hujan mereka selalu datang dan pulang kesekolah berboncengan bersama menggunakan motor. Rasanya jaman putih abu-abu itu adalah masa yang terindah untuk Bulan, dimana pertama kali dia belajar berciuman dikontrakan temannya dan orang yang mengajarinya adalah Bara. Saat pertama kali ia berciuman, Bara bahkan sempat tertawa karena dia hampir kehabisan nafas.

__ADS_1


"Bumi?" Bulan melihat mobil Bumi memasuki gerbang rumahnya dan dia bergegas turun kelantai bawah untuk menemui Bumi. Bulan setengah berlari untuk menyambut Bumi dimobilnya.


"Hai sayang, aku kira kamu sudah tidur." Seru Bumi.


"Aku menunggumu mas." Bulan langsung memeluk Bumi.


"Aku belum mandi."


"Aku menunggumu untuk mandi bersama." Sahut Bulan sambil tersenyum. Mereka berdua berjalan masuk kedalam rumah.


"Kamu mulai nakal." Bumi tertawa melihat tingkah Bulan yang mulai genit kepadanya.


"Kan nakalnya sama suami sendiri, bukan dengan suami orang."

__ADS_1


"Iya yah, kamu benar juga. Hahaha."


Sampai didalam kamar mereka bersama melepaskan pakaian dan masuk kedalam kamar mandi untuk mandi bersama.


__ADS_2