Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Berendam di air es


__ADS_3

"Pak aku hanya bercanda mengatakan ide untuk berendam di air es." Luna masih tidak percaya jika bosnya menjadi bodoh dengan mengiyakan ide gilanya.


"Aku serius Lun, sana keluar aku mau berendam dikamar mandi." Bumi mengibaskan tangannya menyuruh Luna keluar dari dalam ruangannya.


"Pak?" Luna nampak khawatir. Luna menyuruh karyawannya untuk membawa beberapa balok es keruangan bosnya.


Mungkin dia lelah dicuekin, kalau dia sakit aku kan jadi repot juga karena semua pekerjaan aku yang menghendelnya. Uh bodohnya aku memberikan ide ini kepada pak Bumi. Batin Luna.


"Keluar Luna! apa kamu mau melihat aku berendam?"


"Eh tidak pak." Luna dengan pasrah keluar dari dalam ruangan bosnya.


Beberapa jam menunggu dengan khawatir akhirnya Luna menyuruh Bayu dan beberapa karyawan laki-laki untuk melihat keadaan Bosnya didalam kamar mandi yang ada diruangan bosnya.


"Mba Luna?" Teriakan Bayu begitu keras hingga membuat Luna menjadi panik diluar.


"Mba Luna cepat kesini?"


"Apa pak Bumi memakai baju?" Tanya Luna masih mondar mandir didepan pintu karena takut mendapati bosnya tanpa menggunakan pakaian.


"Mba?" Panggilan kembali diteriakan oleh Bayu.


"Oke."


Luna dengan cepat berlari menemui bosnya, dia mendapati Bumi tak berdaya lagi.


"Dia mati?" Luna panik. Tubuh Bumi kedinginan bibirnya nampak biru.


"Aku masih hidup Luna? bawa aku pulang!" Jawab Bumi dengan lemas.


Apa dia sudah gila? mau bunuh diri demi cinta? hufff menyusahkan. Kata Luna dalam hatinya.


"Aku akan membawa pak Bumi ke rumah sakit"


"Aku mau pulang Luna!" Bumi berbicara sambil gemetar kedinginan.


"Tapi pak ini membahayakan kondisi kesehatan bapak!"


"Masa bodoh dengan hidupku, apa gunanya aku hidup jika istriku tidak mencintaiku lagi."


"Terserahlah aku hanya memberikan yang terbaik, cinta sih cinta tapi jangan bodoh-bodoh pak huuuu." Gumam Luna dalam hatinya kesal melihat bosnya.


Bayu memasang kembali baju bosnya seperti semula agar Bulan tidak curiga dengan tingkah nekat suaminya. Bumi pulang didampingi Bayu dan luna didalam mobil. Sepanjang jalan Bumi terlihat lemas dan kedinginan hanya jasnya yang membungkus tubuhnya yang sedang bersandar di kursi mobil bagian belakang.

__ADS_1


"Jangan berbicara apapun kepada Bulan, anggap saja ini terjadi tiba-tiba. Luna, aku hampir lupa memberi tahumu bahwa kita kehilangan kontrak kerja saat pertemuan yang diadakan dijepang minggu lalu karena aku batalkan bertemu dengan klien. Atur ulang jadwalnya kamu dan Bayu harus menyelesaikan ini karena aku akan mengurus cintaku beberapa hari ini." Bumi berkata dengan lemas.


"Siap bos." Jawab Luna dan Bayu bersamaan.


Sampai didepan rumah yang sangat mewah satpam membuka gerbang tinggi saat bayu membunyikan klakson mobilnya.


"Panggil istriku untuk menjemputku!" Perintah Bumi kepada Luna.


"Jika dia tidak mau menemui anda?" Luna bertanya.


"Oke aku yang berjalan masuk." Tanpa ragu lagi Bumi berjalan dengan lemas memasuki rumahnya. Bulan tidak terlihat diruang keluarga dan Bumi langsung masuk kedalam kamar mereka diantar oleh bayu dan Luna.


"Cepat keluar, panggilkan istriku katakan aku sakit."


"Jika dia tidak mau menemui anda?" Sahut Luna.


"Luna! setidaknya berusaha dulu!" Bumi membentak.


"Kami cari dimana pak?" Tanya Bayu kebingungan.


"Di dapur, dimana saja pokoknya temukan dia sampai dapat!" Bumi meninggikan nada suaranya sambil menggigil menutup tubuhnya didalam selimut.


Bayu dan Luna berlarian mencari Bulan didalam rumah bosnya yang begitu besar.


"Hufff selalu menyusahkan dengan sifat kekanak-kanakannya." Luna kembali mengeluh.


"Luna? Bayu?" Sapa Bulan berjalan mendekati mereka saat menuju dapur.


"Oh syukurlah tuan putri telah tiba." Bayu mengelus dadanya dengan senang.


"Ayo nona Bulan, sekarang kita menemui pak Bumi yang sedang sakit."


"Sakit?" Bulan seperti tidak percaya karena saat berangkat ke kantor Bumi terlihat sehat dan bugar.


Dengan terpaksa Bulan mengikuti Bayu dan Luna menuju kamarnya. Bulan mendapati Bumi sedang memakai selimut tebal.


"Kamu sakit mas? Bulan meletakkan punggung tangannya di kening suaminya. "Astaga kamu demam mas!" Bulan mulai merasa kasihan melihat suaminya.


Sebenarnya dia tidak mau peduli tetapi dia tidak tega memperlakukan suaminya dengan tidak mengurusnya dalam keadaan sakit. Saat Bulan terlihat panik terlihat senyuman tipis di ujung bibir Bumi dan melototi Luna dn Bayu untuk memberi kode segera keluar dari kamarnya.


"Selamat beristirahat pak, kami pamit undur diri." Luna dan Bayu menundukkan kepalanya kepada Bulan dan Bumi.


"Terima kasih telah mengantar suamiku." Sahut Bulan.

__ADS_1


"Ini telah menjadi tugas kami nona Bulan." jawab Bayu.


Mereka berdua keluar dari dalam kamar bosnya dengan bernapas lega.


"Sandiwara yang sempurna mba Lun." Ujar Bayu.


"Kapan aku akan terbebas dari sandiwara cinta bos kita, dulu aku pikir saat dia putus dari Sarah aku telah merdeka tetapi aku salah. Karena dia putus dari Sarah semua menjadi rumit dan aku kena imbasnya."


"Sabar mba Lun, hanya kamu yang bisa pak Bumi andalkan."


Dikamar Bulan memgompres Bumi, Bumi memegang tangan Bulan saat menyentuh kepalanya.


"Disini juga sakit sayang?" Bumi meletakan tangan Bulan didadanya.


"Mas jangan bercanda, istirahat saja agar kesehatanmu cepat pulih." Bulan memalingkan wajahnya tak menatap Bumi.


Sudah dua minggu dia memilih tidur dikamar mama Lina, dan karena sikap Bulan yang dingin kepadanya Bumi membatalkan pekerjaannya diluar kota.


"Aku serius sayang, rasanya sangat sakit jika kamu bertingkah seperti orang lain bagiku setiap hari. Aku merindukan kamu dan rindu mengelus Alula yang berada di dalam perutmu."


"Mas kamu mau makan? aku akan menyuruh bibi membuatkanmu bubur."


"Aku tidak mau makan, aku hanya membutuhkanmu berada disampingku. Aku minta maaf sayang. Aku mohon jangan menjahuiku lagi karena aku tersiksa dengan semua ini."


Bulan menundukkan kepalanya.


"Aku lebih tersiksa mas." Sahutnya dengan wajah sedih.


Bulan melepaskan tangannya dan berdiri dari duduknya disudut tempat tidur. Bumi menarik tangannya kembali. Bulan bisa merasakan suhu tubuh suaminya meningkat saat tangan mereka bersentuhan.


"Jangan pergi sayang!" Bumi lemas seketika untuk bangun pun dia tidak mampu.


"Mas badanmu bertambah panas." Bulan kembali duduk disamping suaminya dan mengganti air kompresan.


"Aku beritahu kepada mama untuk memanggilkan dokter mas? atau kita kerumah sakit saja mas?" Ucap Bulan.


"Tolong berbaring disampingku sayang, aku hanya butuh kamu." Seru Bumi dengan memohon.


Karena tidak tega akhirnya Bulan berbaring disamping suaminya. Bumi tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh istrinya. Dengan cepat Bumi langsung memeluknya dengan erat.


"Jangan menyiksaku lagi dengan sikap dinginmu sayang, aku tidak mampu mengahadapi ini. Aku sangat mencintaimu Bulan."


"Mas? cepat sehat aku juga tidak tega melihatmu sakit seperti ini. Aku memang masih marah kepadamu tetapi ternyata amarahku tidak mampu melawan rasa sayangku kepadamu."

__ADS_1


Bumi meneteskan air mata dan mengecup kening Bulan dengan sentuhan lembut.


"Aku beruntung memilikimu Bulan." Gumanya dalam hati seraya memeluk Bulan dengan senang.


__ADS_2