
Sementara itu Bulan menuruni anak tangga menuju dapur milik orang tua Bumi. Mama Lina dan kedua ARTnya berkutat didapur untuk menyiapkan hidangan makan malam.
"Maaf ma aku baru bisa bantuin mama dan bibi." Seru Bulan malu-malu karena semua pekerjaan hampir selesai mereka kerjakan.
"Eh.. mantu mama nggak usah masuk-masuk dapur, sana pergi temanin suami kamu. Sejak tadi dia selalu mengatakan rindu padamu. Mama nggak mau ganggu kebahagiaan kalian. Biar mama dan bibi saja yang urus ini." Sahut mama Lina dan mendorong Bulan keluar dari dapur mewah dengan segala perlengkapan mewah yang ada didalamnya.
"Tapi Ma..." Bulan merasa tambah tidak enak karena mama Lina tidak memberi izin untuk membantunya.
"Ayolah Bulan. Mama sayang padamu, sama seperti mama sayang pada Bumi. Mama hanya ingin kebahagiaan kalian jangan sampai terputus karena mama ingin kalian cepat punya anak."
"Ma, Bulan terharu. Bulan juga sayang sama mama, Bulan sudah menganggap mama sudah seperti mama Bulan sendiri." Bulan memeluk mama Lina karena bahagia.
"Mama juga sayang sama kamu, mama sangat bersyukur karena kamu mau menerima Bumi dengan segala keburukannya dimasa lalu. Mama tahu rasanya pasti sakit karena harus menerima kenyataan pahit itu, karena mama bisa merasakan itu juga waktu mama masih awal-awal menikah dengan papa Bumi. Mama harap kamu bersabar nak, mama hanya ingin kalian bahagia karena mama yakin Bumi akan merubahnya dengan sungguh-sungguh." Ucap mama Lina dan tak terasa air matanya jatuh dikedua pipinya.
"Mama kok nangis? Bulan salah bicara?"
"Ngaak ada kok sayang, sana pergi temui suamimu." Mama Lina masih mendorong Bulan keluar dari dapur tersebut.
"Iya ma." Jawab bulan sedikit bingung karena tiba-tiba mama Lina menangis dihadapannya.
Mama kenapa yah? Kok dia tiba-tiba nangis? Jangan-jangan dia sama sepertiku? Tapi papa Handoko terlihat sangat baik dan tegas kepada Bumi jadi mana mungkin dia lakuin hal yang sama seperti Bumi. Keluarga mereka juga terlihat sangat romantis dan tidak pernah ada kabar miring yang beredar. Batin Bulan sambil berjalan kembali lagi masuk kedalam kamar.
__ADS_1
Sampai didalam kamar dia masih berpikir dengan ucapan yang mama Lina ucapkan tadi. Perasaannya merasa ada yang mengganjal bahkan kata-kata itu seperti melekat didalam pikirannya. Bulan membuka pintu dan Bumi sedang memakai handuk karena baru selesai mandi.
"Kok balik lagi?" Tanya Bumi sambil mengeringkan rambutnya.
"Mama tidak mengizinkan aku untuk membantunya dan menyuruhku untuk menemani kamu." Jawab Bulan dan kembali berbaring ditempat tidur.
"Kenapa? Kamu sakit?" Bumi bertanya setelah melihat ekspresi Bulan yang tidak ceria.
Bulan menggelengkan kepalanya.
Atau aku bertanya saja sama Bumi tentang ucapan yang mama Lina ucapkan tadi? Tapi itu sangat tidak sopan untuk bertanya masalah rumah tangga orang. Aku yakin Bumi juga tidak akan memberi tahu masalah ini kepadaku.
Bulan memeluknya melingkarkan tangannya di atas perut Bumi untuk pertama kalinya.
"Kamu memelukku Bulan?"
"Kenapa? Tidak suka? Ya sudah aku lepaskan!" Jawab Bulan lalu menyingkirkan tangannya ditubuh Bumi.
"Hei... bukan itu maksudku, sini peluk lagi. Aku sangat menyukainya!" Bumi menarik lagi tangan Bulan ketubuhnya.
"Bumi, mamamu sangat baik, aku beruntung punya mertua seperti dia." Ucap Bulan.
__ADS_1
"Aku bahagia karena kamu memelukku Bulan, ini pertama kalinya loh kamu berani memelukku."
"Bumi aku berbicara tentang mama Lina."
"Hehehe.. aku masih terpana dengan cintamu. Iya mama memang baik. Sangat penyabar, tenang dalam menghadapi masalah walaupun diluar kita melihatnya selalu marah-marah tapi mama orang yang pemaaf."
"Apa mama Lina pernah disakitin sama papa Handoko?" Ucap Bulan melontarkan pertanyaan yang sejak tadi ingin dia keluarkan.
"Mengapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu? mama dan papa baik-baik saja sampai sekarang." Jawa Bumi dengan santai.
"Kamu beruntung punya mama seperti mama Lina."
"Dia malaikat untukku Bulan, aku tidak bisa menolak permintaannya walaupun aku kadang-kadang membantahnya tetapi aku tetap mengiyakan permintaannya. Dulu dia memaksaku menikah denganmu. Awalnya aku menolak keras tapi karena mama sedih, aku rela melakukannya demi malaikat yang telah melahirkan aku itu." Ucap Bumi penuh haru.
"Ternyata kamu anak yang baik juga." Jawab Bulan.
"Maksud kamu? Jadi selama ini kamu menganggapku tidak baik?" Bumi melotot dengan ucapan yang Bulan lontarkan.
"Hehehe.. kira kira seperti itu."
"Kamu nggemesin, membuat aku tambah mencintaimu." Bumi mencium Bulan dengan spontan dipipi dan Bulan hanya tertawa.
__ADS_1