
-Bulan Pov-
Awalnya aku memang sudah tahu sejak awal bahwa hubungan ini akan membuatku sakit. Aku tidak ingin mengecewakan siapapun dari hubungan ini, tidak dengan orang tuaku ataupun mertuaku yang menyayangiku. Aku bukan wanita yang kuat menghadapi ini tetapi apalah dayaku yang sedang mengandung anaknya. Andai mama dan papaku tahu perasaanku sakit pasti mereka tidak akan membiarkan aku bersama Bumi lagi. Aku tidak ingin mengadu kepada siapapun karena aku ingin melindungi aib suamiku dan itu tugasku sebagai istri. Aku hanya ingin menjadi istri yang baik untuknya tidak ada kata perceraian dalam hubungan ini walaupun aku banyak kecewa dalam hubungan ini. Aku hanya ingin melihat anakku tumbuh mempunyai keluarga yang lengkap, mendengarnya memanggil kami dengan sebutan papa dan mama. Aku akan tetap bertahan karena perpisahan bukanlah jalan akhir dari suatu hubungan. Aku siap dengan semua konsekuensinya walaupun aku memang terlihat bodoh atau berpura-pura tidak mau tahu sebrengsek apa Bumi dahulunya. Aku ingin menikah hanya sekali dan biarkan rasa ini berlalu seiring dengan berjalannya waktu. Aku hanya hanya butuh bersabar sampai waktu yang tidak aku ketahui akhirnya.
Bulan kembali menangis didalam kamarnya berusaha membohongi perasaannya sendiri bahwa tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
****************************************
Diruang kerjanya Bumi melihat Luna sedang sibuk dengan berkas-berkas disudut ruangannya yang kebetulan terdapat meja kerja yang biasa digunakan Luna.
"Lun?" panggil Bumi dengan tangannya. Luna dengan cepat berjalan mendekati meja kerja bosnya.
"Ada apa pak?" Tanya Luna berdiri didepan Bumi.
"Duduk dulu!" Perintah Bumi. Luna duduk dengan canggung karena dia melihat bosnya nampak murung sejak tadi.
"Iya pak ada apa?" Tanya Luna lagi berusaha mencari permasalahan yang terjadi dari bosnya.
"Apa suamimu sebrengsek aku?"
Luna mengerutkan dahinya.
"Bukan menuduh maksudku apakah suamimu pernah melakukan hubungan diluar nikah dengan wanita lain sebelum menikah denganmu?"
"Oh itu, aku tidak pernah bertanya pak." Luna memperbaiki cara duduknya karena ini terlihat serius.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Bumi penasaran.
"Karena aku tidak sesabar nona Bulan, aku tidak bisa menerima lelaki samacam itu walaupun dia kaya raya, ganteng dan semua kesempurnaan yang dia miliki. Aku akan minta cerai jika aku mengetahuinya pak, apalagi lelaki itu masih berhubungan dengan mantan kekasihnya pokoknya aku tidak bisa menerimanya!" Luna menutup mulutnya seakan tersadar jika dia salah bicara.
"Hei maksudmu?" Bentak Bumi.
"Bukan bapak maksudku tapi pria lain selain bapak." Luna dengan cepat mencari alasan.
Kalau aku jadi nona Bulan aku tidak akan memaafkan kelakuan suaminya ini. Ihh kok aku jadi benci melihat pak Bumi mau saja diperbudak oleh Sarah. Andai dia bukan bosku pasti aku akan memakinya mewakili perasaan nona Bulan. Batin Luna.
"Masih ada yang ditanyakan lagi pak?" Luna merasa resah saat Bumi menahannya untuk curhat.
"Dia berubah selama dua minggu ini." Bumi menatap kosong seperti sedang kesepian.
"Dia tidak pernah bermanja-manja lagi kepadaku, terlihat cuek bahkan dia tidak menyambutku seperti biasa saat pulang kantor. Katanya dia sudah memaafkan aku tapi sikapnya bisa terlihat kalau dia belum bisa memaafkan aku Lun. Lagi-lagi aku mengecewakannya." Bumi terlihat sangat putus asa.
Pantas saja istrimu marah, aku mendukungmu nona Bulan. Beri pelajaran nih pak Bumi biar dia tahu kalau kamu tidak ingin diperlakukan seperti itu lagi. Batin Luna.
"Beri dia hadiah kecil pak, kejutan atau apalah yang membuat dia senang." Jawab Luna asal-asal.
"Aku sudah memberikannya banyak hadiah, Bulan hanya meletakannya dimeja dan tidak membukanya. Bahkan kartu ATMku belum dia gunakan sampai sekarang. Tahu tidak, sudah dua minggu ini dia memilih tidur berpisah denganku."
Rasain pak, makanya jadi pria tegas dikit dong. Sudah tahu punya istri masih saja membantu mantannya dan untung saja nona Bulan nggak minta cerai, kalau aku yang diperlakukan seperti ini aku pergi dari rumahnya. Batin Luna kembali memaki bosnya.
"Pak pekerjaanku masih banyak. Bisa aku pamit?"
__ADS_1
"Aku belum selesai bicara!" Bumi masih terlihat sedih.
"Apa aku mati saja?" Ucap Bumi dengan asal.
"Apa? Pak, sadar.. jangan asal bertindak. Jika bapak mati nona Bulan akan menikah lagi dengan pria yang lebih baik dari bapak lalu hidup bahagia."
"Kurang ajar kamu Lun!" Teriak Bumi dengan keras.
"Hehehe bercanda pak, aku punya ide agar nona Bulan memaafkan anda." Sahut Luna.
"Apa?" bumi penasaran, dia menggeser kursinya mendekati Luna.
"Pura-pura sakit pak, aku yakin nona Bulan akan kasihan lihat bapak." Ide Luna.
"Caranya?" Tanya Bumi semangat.
"Bapak berendam di air es beberapa jam, nanti suhu tubuh anda meningkat dan pak Bumi akan terserang flu dan demam." Luna memberikan ide gilanya.
"Ide yang bagus, siapkan semuanya!" Perintah Bumi.
"Sekarang pak?" Luna tercengang.
"Sekarang Luna!" jawabnya sumringah, dengan ide Luna.
"Ada-ada saja pak Bumi, rela sakit demi mendapatkan maaf istrinya. Padahal aku hanya bercanda tadi." Luna merasa lucu dengan tingkah bosnya.
__ADS_1