Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Masih tentang masa lalu bersama Bara.


__ADS_3

Ada sesuatu yang aku rindukan, entah itu kamu, kita atau cerita kemarin yang telah usai. Mungkin itu kata-kata untuk mengungkapkan perasaan Bulan saat ini. Bulan sangat pandai menyembunyikan perasaannya kepada semua orang. Dia bisa menutup rapat-rapat rasa sedihnya dan bisa menutup rapat-rapat rasa bahagianya. Lapangan sekolah begitu luas dan teriknya matahari yang bersinar seperti ada diatas kepalanya. Bulan tersenyum menatap Bara yang ada disampingnya. Barapun tersenyum kepadanya. Semua siswa meneriaki mereka tetapi telinga mereka sudah dipenuhi dengan ungkapan cinta yang terus terngiang ditelinga antar kedua makhluk Tuhan yang sedang mencintai itu. Bagaikan memasuki lorong waktu, kembali menjelajah ke masa lalunya.


Saat itu mereka dihukum berdiri ditiang bendera karena kedapatan berciuman disudut sekolah. Bukannya takut, Bulan justru merasa senang karena bisa menaklukan makhluk yang super dingin ini disekolah mereka. Bara yang terkenal cuek kepada wanita, dan dengan bangganya Bulan menunjukan kepada semua orang bahwa Bara adalah kekasihnya.


"Aku cinta kamu, aku cinta kamu, aku cinta kamu." Ucap mereka berdua masih saling melempar senyum.


Setelah selesai mendapatkan hukuman mereka berdua masih terlihat santai kembali berboncengan setiap pulang sekolah. Bulan selalu melingkarkan tangannya dipinggang Bara setiap dia naik motor bersama Bara. Bara menurunkan dia di ujung gang rumahnya agar tidak diketahui orang tuanya bahwa mempunyai pacar. Bulan tidak diizinkan pacaran karena isu perjodohannya dengan Bumi itu yang membuat tidak punya ruang dan waktu untuk mempunyai kekasih.


"Mas.. pergilah nanti kita bertemu lagi ditempat ini besok pagi." Ucap Bulan saat itu kepada Bara.


"Okey..beri kecupan disini baru aku pergi."


"Mmuach..aku cinta kamu." Kecupan lembut dari Bulan membuat Bara mampu pulang dengan sejuta senyumnya sepanjang jalan.


Bulan masih melamun membayangkan waktu yang telah usai itu tapi masih melekat dalam pikirannya. Dia berada ditempat tidur bersama Bumi tetapi pikirannya berada disekolahnya dulu dimana tempat itu menjadi kenangannya memadu kasih bersama Bara.


"Sayang, hei.. kamu belum tidur? Lagi mikirin siapa?" Panggil Bumi dengan segala kegelisahan yang kembali muncul dalam lubuk hatinya. Ia menatap mata wanita yang ada disampingnya dengan pandangan kosong tapi bibirnya terlihat melebar karena sebuah senyuman.


"Eh mas, aku..." Jawab Bulan dengan keterkejutannya dan perasaan takutnya jika Bumi mengetahui jika pikirannya sejak kemarin telah dihantui oleh sosok Bara.


"Tidak usah di jawab, aku takut hatiku terluka mendengarnya." Bumi menutup matanya, dadanya kembali naik turun berusaha menenangkan segala kekhawatiran yang ada didalam hatinya.


"Mas, mas aku tidak akan pergi kemanapun. Aku tetap disini berada disampingmu." Bulan menyatukan jari jemarinya ditelapak tangan Bumi yang lebih besar dari tangannya.

__ADS_1


"Aku membutuhkan hatimu, bukan hanya ragamu yang berada disini. Dimana pikiranmu melayang sekarang Bulan? Sorot matamu mengatakan bahwa pikiranmu tak ada disni bersamaku. Jangan berbohong, aku bisa merasakan hatiku telah jauh dari pemiliknya." Dengan pelan Bumi melepaskan jari jemarinya dari tangan lentik Bulan dan membalikkan badannya membelakangi Bulan.


"Mas? mas?" panggilnya dengan lembut seperti tersambar petir karena Bumi mengetahui apa yang ada dalam pikirannya.


"Tidurlah, aku sangat lelah."


"Mas, hiks..hiks..hiks.." Bulan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, bibirnya terkatup karena sadar bahwa dia telah menyakiti lelaki yang telah mencintainya itu.


"Mas.. maafkan aku, mas, hiks,,hiks..hiks.." Bulan masih terisak dalam tangisnya. Berusaha melingkarkan tangannya ditubuh Bumi tetapi Bumi melepaskannya dengan pelan dan membuatnya nafasnya semakin tersengal-sengal karena merasa bersalah.


Bumi memejamkan matanya, tapi telinganya tak mampu mendengar tangisan yang begitu sendu. Dia kembali membalikkan badannya dan menarik kepala Bulan didalam dadanya.


"Berhentilah menangis, aku tidak kuat mendengar tangisanmu. Aku yang salah, aku terlalu cemburu berlebih dan terlalu mengkhawatirkan yang belum tentu terjadi. Maafkan aku telah menyingkirkan tanganmu tadi. Sini, peluk aku lagi."


"Kamu tidak perlu mengatakan maaf. Seharian dirumah kegiatanmu apa saja? Apa bibi melayanimu dengan baik?" Bumi masih memeluk Bulan didadanya dan memperbaiki rambut yang jatuh menutupi wajah istrinya.


"Mas?"


"Ia sayang?"


"Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu. Tidurlah dipelukanku karena aku tidak ingin setiap malam berlalu tanpa sentuhan lembutmu."

__ADS_1


"Mas?"


"Ada apa lagi sayang?"


"Aku haus."


"Tunggu, aku ambilkan air minum untukmu." Bumi melepaskan pelukannya dan hendak beranjak dari tempat tidur.


"Bukan ingin minum air." Ucap Bulan sambil tersenyum?"


"Aku bingung? maksudmu apa?"


"Aku haus dengan ciumanmu."


"Hahahaha." Bumi menjatuhkan tubuhnya kembali dan tertawa.


"Kenapa? Ada yang lucu?"


"Sejak kapan kamu mulai genit?"


"Sejak.." Belum selesai dia berbicara Bumi langsung menyatukan bibirnya dengan bibir merah muda yang Bulan miliki.


Aku mencintaimu Bulan, tetaplah menjadi Bulan yang mampu menyinari Bumi disetiap malamnya. Aku mencintaimu dan rasa ini aku tidak bisa membiarkanmu untuk membaginya kepada lelaki lain selain aku. Aku egois dengan milikku karena aku tidak mampu melihatmu walaupun hanya sekilas memikirkan pria selain aku.

__ADS_1


__ADS_2