
Saat semua orang sudah istirahat ditengah kesunyian malam, Bulan masih membuka matanya lebar-lebar melihat layar ponselnya. Dia terus memandangi beberapa foto kebersamaan keluarganya yang sempat dia abadikan didalam galeri handphonenya. Bumi sudah terlelap disampingnya setelah permainan mereka malam ini. Malam ini rasanya hatinya sangat rindu pada seseorang yang telah memberikannya kasih sayang sepanjang masa.
"Ma, tiba-tiba aku merindukanmu. Ternyata rasanya seperti ini saat berpisah darimu beberapa bulan ini. Andai dulu aku lebih banyak menghabiskan waktuku denganmu dibanding dengan teman-temanku atau pekerjaanku pasti aku aku tidak menyesal seperti sekarang." Ucap Bulan, disudut matanya telah keluar cairan bening menahan kerinduannya hingga Bulan tertidur dengan rasa rindunya yang terlalu malu untuk dia ungkapan kepada mamanya.
Pagi hari sekitar jam 07.00 Bulan yang merasa kantong kemihnya telah full langsung terbangun saat ada rasa yang tak mampu dia tahan lagi untuk keluar. Bulan berlari masuk kedalam kamar mandi untuk buang air kecil, mengosongkan kantong kemihnya. Saat dia keluar dari dalam kamar mandi, Bumi berjalan dari arah pintu membawa segelas susu putih digelas kaca. Bulan tersenyum ke arah Bumi berdiri dan langsung berlari memeluknya.
"Bibi membawakan susu untukmu, aku menyuruhnya untuk membuatkan kamu susu setiap pagi. Ucap Bumi.
"Mas aku minta sesuatu boleh?" Bulan masih menyilangkan kedua tangannya dibelakang Bumi.
"Biarkan aku duduk, kamu minum susu dulu dan setelah itu kita berbicara dengan tenang." Bumi menundukkan kepalanya untuk mencium keningnya yang kebetulan lebih rendah darinya.
"Baiklah mas." Ucap Bulan dengan pelan mengikuti semua perintah Bumi.
__ADS_1
Setelah mereka duduk di sofa, Bulan langsung mengahabiskan susunya dan menyimpannya dengan cepat diatas meja kaca dan terdengar suara pantulan gelas saat bertemu dengan meja tersebut.
"Sekarang bolehkan aku berbicara?" Ucap Bulan penuh semangat.
"Iya boleh, kamu mau minta apa sayang." Bumi mengelus rambut istrinya dengan sebelah tangannya.
"Mas aku mau pulang kerumah orang tuaku boleh?"
"Kamu masih marah karena aku mengusirmu semalam? aku sudah minta maaf berulang kali sayang, aku hanya terbawa emosi malam itu." Bumi menegakan badannya dan mencengkram bahu Bulan dengan pelan.
"Aku akan menyuruh mama untuk tinggal bersama kita." Bumi terlihat panik. Padahal semalam dengan lantangnya dia mengusir Bulan dari dalam mobilnya.
"Aku juga rindu papa dan Tasya mas." Jawab Bulan lirih, berusaha menahan air matanya.
__ADS_1
"Itukan kamu masih marah, kamu berusaha mencari alasan untuk pergi dari sini. Aku akan mengajak Tasya dan papa untuk tinggal bersama kita juga sayang, asalkan kamu jangan pergi dari sini."
"Mas, aku merindukan suasana rumahku, bukan hanya orang yang ada didalamnya. Maaf mas aku juga tidak tahu sebenarnya apa yang sedang aku rasakan sekarang. Aku merasa sedih, aku merasa rindu, aku merasa aku berbeda dari sebelumnya mas." Sahut Bulan menunduk.
"Atau kita ke dokter kandungan sayang."
"Aku tidak butuh dokter mas, aku butuh keluargaku."
"Bulan, apa yang salah denganmu pagi ini? semalam kamu baik-baik saja dan kenapa tiba-tiba kamu memberikan aku kata perpisahan."
"Mas, bukan berpisah. Hanya pergi untuk sementara waktu, beberapa hari mas. Aku rindu masakan mama, aku rindu tidur dipangkuan mama, aku rindu sentuhan tangannya yang membelai rambutku, aku rindu teriakannya yang membangunkan aku pagi-pagi, aku rindu ocehanya, aku rindu segalanya mas tentang mama." Bulan begitu terhanyut dalam perkataannya hingga air matanya mengalir begitu saja.
"Bulan, aku tidak bisa ikut denganmu karena mamaku sendiri dirumah ini, aku juga tidak bisa pisah denganmu walaupun untuk beberapa hari saja, jadi aku juga mohon pengertianmu sayang." Jawab Bumi, menggenggam erat tangan Bulan dengan memberikan pergertian kepadanya.
__ADS_1
"Mas, aku juga ingin kamu mengerti dengan keadaanku, aku dalam kondisi tidak stabil. Aku lagi hamil mas, aku juga tidak mau melakukannya ini kepadamu tetapi rinduku kepada mama tidak bisa aku tahan lagi." Masih menagis, Bulan menutup wajahnya.
Ada apa denganku? saat mas Bumi menyuruhku pulang kerumah orang tuaku aku merasa tidak ingin berpisah darinya tetapi setelah itu tiba-tiba aku merindukan mama. Mama aku rindu, sangat rindu. Batin Bulan.