Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Jerry Nagea


__ADS_3

'Dia bahkan tidak membaca pesanku?'


'Apa dia sesibuk itu?'


'Apa mungkin ... dia sudah lelah dengan sikapku selama ini?'


'Ya ... itu mungkin saja. Seperti yang mama bilang, tidak baik mendiamkan suami. Nanti suaminya bisa beralih ke lain hati.'


'Tunggu! Apa kak Jerr seperti itu?'


Drrrrrt drrrrt.


Tertera nama pelayan pribadi Tuan Muda menghubungi ponsel Nagea. Wanita itu dengan segera menjawabnya.


(Ha-halo bik, bicaralah)


[Non, Tuan Muda sudah tiba di rumah]


(Hah?)


Drebb.


Ponsel itu mati karena kehabisan daya.


'Cssshhhh! Heh, aku memang tak seberuntung oranglain.' Rasanya, Nagea ingin sekali menertawai dirinya sendiri. Akan tetapi, rasa sesak di dadanya sangat menusuk.


'Aku menunggunya selama berjam-jam, tiba-tiba saja dia sudah di rumah?'


Kali ini, rasanya ingin sekali Nagea duduk di pojokan sepi dan menangis sepuasnya disana.


Bukannya apa, supir yang mengantarnya sudah ia suruh pulang.


Oke, bisa saja dia naik taxi. Tapi, ia tidak cukup berani jika hanya seorang diri naik taxi di tengah malam begini.


Nagea hanya mampu menangisi kesialan yang menimpanya. Dengan kedua tangan, ia tutup wajahnya, agar tidak ada yang tahu dia sedang menangis.


Di posisi lain.


Jerry bersama dengan mobil kesayangannya masih membelah jalan dengan kecepatan tinggi.


"Padahal aku tadi melihatnya, tapi ku abaikan." gumamnya, meneyesal.


Memang benar, saat tiba beberapa jam lalu, Jerry melihat istrinya diantara banyak orang, namun pria itu mengabaikannya saja karena merasa mungkin saja hanya halusinasi belaka.


Segera pria itu keluar dari mobilnya setelah berhasil tiba di lahan parkir bandara. Dengan langkah cepat ia menuju dimana istrinya itu kemungkinan berada.


Sementara itu Nagea, wanita itu kini sudah kembali tenang. Tidak lagi menangis.


'Baiklah, aku harus pergi. Untuk apa aku disini kalau yang ditunggu sudah beristirahat dengan nyaman di rumah? Tapi ... apa yang harus kukatakan saat tiba dirumah? Apa dia akan menertawaiku karena terlihat bodoh?'


Baru saja hendak melangkah, matanya menangkap sosok yang sangat ingin dia lihat.


"Dia ... datang? Menjemputku?"




Degh degh degh.

__ADS_1


'Aku sangat gugup. Benar! Dia datang kearahku.'



Sementara Jerry, dengan pikiran seribu tanya, ia menghampiri istrinya itu. 'Benarkah wanita ini sedang tersenyum? Benarkah ini istriku? Dia tidak sedang dirasuki apapunkan?'


"Hai !" sapa Jerry.


Untuk saat ini, hanya kata itu yang terselip di benaknya untuk ia katakan.


"Ha-hai" jawab Nagea, dengan perasaan tak menentu. 'Bolehkah aku memeluknya? Apa dia tidak akan bingung dengan sikapku yang tiba-tiba berubah?'


"Maaf, tadi ... aku tidak tahu kau menungguku."


"I-iya, tak apa, aku ... baik-baik saja."


"Syukurlah, kalau begitu ayo pergi dari sini." Jerry menggenggam jemari istrinya itu, membawanya pergi dari sana.


Merasakan tangan istrinya membalas genggamannya, Jerry tersenyum simpul disudut bibirnya. 'Terima kasih sayang, sepertinya ... kamu mulai melunak.' batinnya.


Tiba di tempat parkir.


"Masuklah" suruhnya pada Nagea setelah membukakan pintu mobil.


Bukannya masuk, Nagea malah mendekati suaminya lalu memeluk pria itu.


Upsss. Rasanya Jerry seperti sedang ketimpa duren mateng. Tidak hanya senyuman istrinya, balas menggenggam tangan, dan kali ini adalah sebuah pelukan erat. Rasanya ... ahhh mantap.


Meski Nagea tak mengatakan apapun, Jerry menebak bahwa istrinya melakukan ini dengan penuh kesadaran.


"Hei ... ada apa denganmu sayang? Apa kamu ada masalah?"


"Lalu kenapa? Tidak biasanya seperti ini!"


Nagea melepaskan pelukannya. "Aku ... hanya ingin memastikan perasaanku."


"Kau merindukanku?" Jerry mulai menggoda.


"Ssshhh, kau ini! Aku hanya berlatih, biar akrab denganmu."


"Begitukah? Ya ... baiklah. Kita akan akrab mulai sekarang."


'Lihatlah wanita ini. Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Kalau rindu bilang saja, tidak akan ada yang memarahimu Nagea!'


Jerry pun kembali meminta Nagea untuk masuk ke mobil.


....


Akhirnya, tibalah keduanya di kediaman Barata. Di ruang tengah, keluarga itu sedang berkumpul, tanpa kekurangan satu orang pun, kecuali sang kakek Barata, yang sedang beristirahat karena kurang sehat.


"Akhhhh! Akhirnya kalian pulang juga. Lain kali jangan bikin khawatir semua orang begini bang." Kemunculan pasangan itu langsung mendapat sambutan ocehan si bontot, Abner.


Jerry dan Nagea terlihat sedikit bingung.


"Nagea, kamu tidak apa sayang? Sudah mama bilang tunggu dirumah saja." Mama terlihat sangat khawatir pada menantunya itu.


"Istriku tidak apa-apa Mah. Iya kan sayang?"


"Iya Mah ... aku tidak apa-apa."

__ADS_1


Merasa legah putra dan menantunya tiba di rumah dengan selamat, Papa Juan pun berdiri dari duduknya.


"Karena mereka sudah tiba, ayo kita semua beristirahat. Ini sudah tengah malam."


Semua orang pun, seperti anak ayam yang dituntun memasuki kandangnya, bubar, kembali ke kamar masing-masing. Kecuali Marsha. Sebuah ide usil tengah ia rencanakan di otaknya.


Bukannya menuju kamarnya sendiri, gadis itu malah membuntuti pasangan suami istri yang sedang PDKT itu.


"Kakak, aku merindukanmu." gadis itu menghambur kedalam pelukan sang kakak.


"Kakak senang, sekarang adik manja ini sudah baikan. Apa masih terasa sakit Sha?"


"Terkadang terasa kak, tapi bisa di tahan. Itu tidak apa. Kata dokter memang terasa seperti itu."


"Baiklah, mari kita istirahat." Melepas pelukan adiknya, lalu meraih tangan istrinya itu dan meminta adiknya segera kembali ke kamar.


"Kak, Marsha pengen tidur dikamar kalian malam ini."


"Yah? Untuk apa? Mana boleh." Setelah sekian tahun, akhirnya Jerry kembali melontarkan nada ketus pada adiknya itu.


"Sudah, tidak apa. Sha, boleh kok, kembalilah 20 menit lagi karena kakakmu harus membersihkan diri." ujar Nagea.


"Kenapa kau memperbolehkan dia kesini?" Jerry mulai memperlihatkam rasa keberatannya, setelah mereka tinggal berdua saja. Maka, perdebatanpun dimulai.


"Memangnya kenapa? Dia kan adikmu, tumben kamu terdengar tidak menyukai dia?"


"Ya, ini kan kamar kita. Kita adalah pasangan. Aku hanya tidak ingin ada pengganggu."


"Pengganggu? Memangnya kita mau melakukan apa sampai - sampai tidak boleh ada pengganggu?"


Jerry, terdiam. Ia segera masuk ke kamar mandi dengan wajah kesal.


'Cssshh, suamiku sangat lucu saat kesal. Sabar yah sayang, kita tidak akan melakukan apa-apa malam ini. Ah ... lebih baik aku menyiapkan pakaian ganti untuknya.'


Ceklek


Jerry keluar dari kamar mandi dalam keadaan tubuh yang sudah segar.


"Kemarilah" pinta Nagea.


'Kenapa dia? Tumben terlihat sedang perhatian? Dan apa itu yang dia kenakan? Sangat tidak sopan.'


Jerry terlihat menelan kasar melihat penampilan istrinya yang hanya mengenakan lingerie tipis dan sedikit mengekspose aset berharga milik istrinya itu.


'Fix, suamiku tertarik padaku. Akh, aku bahkan belum menggodanya.'


"Sini, kita keringkan rambutmu duduklah disini."


Jerry pun menuruti dengan senang hati.


Seoal telah terlatih melakukannya, Nagea dengan sigap mengusap setiap titik air yang masih tersisah di tubuh suaminya, mengeringkan rambut, dan memakaikan piyama tidur yang warnanya senada dengan yang dirinya kenakan.


"Jangan tegang. Aku hanya sedang melatih diri untik selalu layani kamu. Selain itu, aku ingin memastikan apakah perasaanku masih ada untukmu atau tidak." ujar Nagea.


'Sepertinya ... Nagea sengaja menyiksaku.'


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2