Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Hamil Muda


__ADS_3

"Selamat, Istri anda sedang hamil muda." ucap seorang dokter perempuan, setelah selesai menangani Nagea.


Mendengar itu, baik Jerry, Nagea, Ferdo dan mama, terdiam, saling pandang untuk sesaat.


Mama Fema merasa sangat senang, karena tebakannya ternyata benar. Wanita itu tak kuasa menahan perasaannya. Ia peluk menantunya itu dan mengucapkan terima kasih.


"Ma ... diusia ini, mama akan menjadi seorang nenek," ucap Ferdo dengan tatapan bengong, mengingat ibunya itu masih terbilang sangat muda untuk memiliki seorang cucu.


"Tentu saja Ferdo, anak sulung mama akan punya anak. Lalu apa lagi namanya kalau bukan nenek?" tandas Fema setelah mengurai pelukannya dari Nagea.


Sedang Jerry, pria itu tampak sedikit aneh. Raut bahagia memang tampak diwajahnya, akan tetapi seperti ada kejanggalan juga pada ekspresi wajahnya itu. Entah apa yang mengganggu pikiran pria itu, Ia bahkan tidak mengatakan apapun, malah keluar dari ruangan.


"Ma, suamiku ... kenapa? Apa dia tidak bahagia?"


Fema pun mengatakan pada Nagea bahwa putranya itu pasti sangat senang. Meminta Nagea untuk tidak mengkhawatirkan apapun. Mama pun keluar menyusul putranya.


"Jerr, kenapa kamu menangis sayang?"


Jerry yang berada diluar ruangan tengah menangis dan terlihat sangat sedih. Mama menghampiri putra sulungnya dan duduk bersebelahan.


"Ma, aku akan jadi ayah. Aku sangat senang Mah," sambil terus terisak.


"Iya sayang, mama bangga sama kamu. Mama juga ikut bahagia." memberi pelukan hangat pada putranya itu.


"Ma, sedih Ma, selama beberapa hari ini, aku selalu mengumpat semua keanehan istriku. Aku jadi merasa bersalah. Aku takut anakku mendengarnya dan mengira aku tidak menginginkan kehadirannya."


Mama tersenyum membayangkan perkataan putranya barusan 'yang benar saja kau ini Jerr.'


"Sudah, jangan berpikir begitu. Masuklah, temani istrimu. Sebentar lagi dia sudah boleh pulang."


"Ma, boleh kan, kami tinggal lebih lama di rumah utama? Aku takut istriku kesepian di apartemen saat aku sedang bekerja."


"Hei ... bicara apa kamu, bahkan kalian berdua boleh tinggal selamanya bersama mama."


"Ma, terima kasih, Ma! Selama ini sudah jadi ibu yang baik, meskipun Mama bukan orang yang melahirkanku."


"Jer ... Mama selalu menganggap kamu sama Ferdo seperti anak sendiri. Mama benar-benar bangga memiliki kalian berdua."


Jerry menyentuh jemari ibu sambungnya itu sambil berkata, "Ma ... tetaplah sehat, agar nanti bisa bermain bersama anak-anak kami."


Rupanya, Ferdo melihat dan mendengar interaksi dari mama dan kakak-nya itu. Ia hanya bisa menyunggingkan sedikit senyuman dari tempatnya berdiri sembari membatin 'Mah, tolong jangan jadi ibu mertua jahat jika nanti, ternyata Melina tidak bisa memberikan anak untukku,' ia pun pergi dari sana setelah meminta kak Jerry masuk menemui Nagea.


Jerry pun kembali menemui istrinya. Sementara sang ibu, pergi menemui suaminya untuk menyampaikan berita bahagia ini.


"Cinta!" Nagea merentangkan kedua tangan, menyambut suaminya. Tentu saja Jerry menghampirinya dan segera memeluk wanita itu.


"Sayang, terima kasih! Terima kasih," kembali terisak.


Nagea pun ikut meneteskan air mata haru. Betapa bahagianya karena merasa, Jerry semakin menyayanginya.


Keduanya lalu saling menghapus air mata.


"Sayang, apa yang kamu ingin kan sekarang hem? Aku akan berusaha memenuhinya."


"Cinta ... saat ini aku pengen dekat kamu terus, mungkin ini keinginan dedek kita," ujar Nagea kemudian, masih dengan sesegukan karena habis menangis.


"Iya sayang, iya. Keinginan dia, atau keinginan kamu, sama saja buat aku sayang."


Jerry mengelus perut rata istrinya itu, lalu berkata "Hai boy ... girl ... ini papa, sayang. Apa kamu dengar?" Lagi-lagi Jerry tak kuasa menahan air matanya. Ia pun kembali terisak dihadapan perut istrinya itu.


Nagea pun ikut terharu melihat interaksi suaminya yang sedang berbicara sengan anaknya yang masih di dalam perut.


"Aku dengal Papi," ucap Nagea, menirukan suara anak kecil.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Kali ini, Ferdo dan Melina memasuki bioskop untuk menikmati kencan mereka.


"Mel"


"Hemmm?"


"Sebentar lagi aku akan jadi seorang paman"


"Oh yah?"


"Iya. Kakak ipar sedang hamil."


"Owh, baguslah. Aku juga senang mendengarnya."


Tak ada obrolan panjang, keduanya menikmati film romantis itu dengan tangan yang saling bertautan.


Keduanya memutuskan untuk melanjutkan kencan dengan dinner bersama setelah tontonan selesai.


Berjalan bergandeng tangan keluar dari gedung bioskop.


Tiba-tiba ...


"Ferdo?"


Suci menyuguhkan senyum manisnya kepada Ferdo.


"Suci, kau disini?" Ferdo melirik Melina.


"Iya Fer, kebetulan,"


"Oh, kenalkan ... dia pacarku!"


"Hai ... aku Melina."


'Sepertinya dia masih menyukai pacarku.'


'Gadis ini terlihat jauh lebih muda dari Ferdo. Aku sangat penasaran, apa Ferdo serius dengannya?'


Mereka pun saling berpamitan. Namun, untuk menjawab rasa penasarannya, Suci pun berulah seolah sedang sakit kepala. "Aduh, kepalaku sakit"


Sontak Ferdo dan Melina berbalik, ternyata Suci sedang terduduk di lantai, dengan memegang kepalanya.


"Suci, kau ... baik-baik saja?" Ferdo mendekat.


"Ferdo, aku tiba-tiba pusing, tolong bantu antar aku pulang"


Ferdo melihat kearah kursi tunggu yang ada disana lalu menuntun suci menghampiri kursi tersebut.


"Duduklah disini sampai kau merasa baikan. Aku harus pergi dengan Melina."


Suci hanya bisa mengangguk. Ia tak bisa menahan Ferdo yang ternyata sudah menghapus kenangan mereka.


Ferdo pun pergi dari sana dengan langkah sedikit buru-buru, sebab tidak ia temukan lagi Melina.


Seketika Ferdo merasa legah sebab Nelina ternyata menunggu di samping mobil.


"Sayang, kamu kok ninggalin aku?"


"Aku bukan ninggalin. Aku cuma malas lihat drama kalian."


"Drama apa sih, ayo masuk"

__ADS_1


Keduanya pun masuk ke mobil menuju restoran andalan mereka untuk makan malam.


Sembari menunggu makanannya siap, Melina pun bertanya "apa kamu tidak ada rasa lagi dengan si Suci?"


"Rasa apa? Aku hanya ada rasa ke kamu Mel,"


"Yakin, kamu tidak akan nyesal?"


"Mel, bicara apa si? Aku sudah punya kamu. Untuk apa lagi ingat masa lalu?"


"Baiklah. Aku percaya."


\=\=\=\=


"Sayang, aku bahagia karena kak Jerry sebentar lagi akan jadi seorang ayah."


"Iya ... aku juga senang mendengarnya."


"Sayang aku juga mau hamil kayak kak Nagea."


"Sabar Sha ... perawatan kamu masih ada 2 fase lagi. Aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu. Sabar yah sayang, kita tunda dulu."


"Ya sudah, tapi tahun depan harus sudah boleh ya."


"Iya sayang."


Etan dan Marsha sepakat untuk menunda momongan sampai tahun depan.


\=\=\=\=\=


3 bulan kemudian.


Hari ini adalah kelulusan Melina, berhasil menyandang gelar S.Ked.


Bapa, ibu dan abang satu-satunya itu juga hadir ke acara ke acara wisuda gadis itu. Ketiganya merasa sangat bahagia melihat Melina berada di antara para wasudawan/i dengan mengenakan baju kebesaran Fakultas Kedokteran.


"Waaa ... dia membuatku gugup, kenapa tidak bilang kalau dia juga akan menghadiri acara ini?"


Kejutan bagi Melina, ternyata kekasihnya juga menghadiri acara bahagianya itu sebagai tamu undangan khusus, yang ternyata pria itu juga menjadi salah donatur untuk acara ini, bersama sang ayah yang memang donatur terbesar untuk Fakultas Kedokteran.


Bukan karena ini adalah hal yang biasa Ferdo lakukan, melainkan pria itulah yang menawarkan diri sebagai donatur, karena kekasihnya adalah salah satu peserta di dalamnya.


"Pak, Pak! Itu dia pacarnya Melina." Ternyata ibu-nya Melina bisa mengenali wajah kekasih anaknya itu dari jarak yang cukup jauh, ketika Ferdo melintas bersama beberapa orang yang sudah tidak muda lagi.


"Oh, benar katamu. Dia terlihat hebat." si bapak menanggapi.


"Buk, aku masih tidak habis pikir. Kenapa pria seperti dia, bisa-bisanya menyukai adikku" bisik si abang, dengan wajah serius berpikir keras.


Sementara dari posisi mereka, papa Juan membisikkan sesuatu ke telinga Ferdo. "Fer, setelah pernikahanmu dengan Melina, papa ingin menawarkan dia untuk lanjut mengambil Spesialis Bedah Syaraf."


"Aku tidak setuju Pah"


"Apa? Kau!"


Juan seketika menyesal telah mengatakan hal itu pada putranya. "Dasar tidak bisa diajak kerjasama"


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2