Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Merasa Kagum


__ADS_3

"Kak, terima kasih ya!" ucap Marsha kepada Nagea, sebelum pergi dari kamarnya itu untuk menemui Ethan.


Kini, tinggallah mama Fema dan Nagea di kamar Marsha yang persis kapal pecah.


Mama tersenyum memandangi keadaan berantakan itu lalu berkata, "ternyata ... begini rasanya ketika anak gadis mama sudah mengenal kata jatuh cinta! Nagea, apa kamu ... pernah seantusias ini saat akan bertemu dengan dengan anak sulung mama itu? Hehe ... tentu aja tidak kan? " Mama Fema tersenyum hangat kearah menantunya itu.


"Ya ... setiap kali Mah, keadaan kamarku akan berubah kacau, hanya gara-gara akan main kesini. Padahal ... orang yang akan kutemui adalah Ferdo dengan Marsha, tapi ... aku berpenampilan semenarik mungkin untuk menjaga kemungkinan akan bertemu dengannya. Ya, aku beralasan ingin main dengan Marsha dan Ferdo, padahal ... aku ingin melihat dia. Hehe ... aku sangat konyol ya Mah,"


"Itu bukan hal konyol sayang, itu sesuatu yang keren."


"Tapi itu dulu Mah, rasa itu ... entah sudah kemana, aku ... sudah tidak tergila-gila lagi sama anak Mama itu."


"Nagea ... Mama mengerti sayang, Mama tau saat ini hanya ada perasaan benci terhadap dia. tapi, Mama masih berharap akan ada keajaiban, hati kamu mau menerima dia lagi sayang." Fema menyentuh jemari menantu yang sangat disayanginya itu.


Nagea tidak mengatakan apapun lagi, hanya tersenyum simpul.


.


Ting.


Pintu lift terbuka lalu Marsha keluar dari sana dengan senyuman di wajahnya. Tidak sedang di datangi pacar, tapi ... Marsha merasakan kebahagiaan yang luar biasa.


Ketika melihat Ethan, senyuman cantiknya kian padam saat menyadari kak Ethan hanya mengenakan kaos oblong dan celana hanya sebatas lutut.


'Ya ampun, aku bersiap-siap dengan hebohnya, dan ternyata dia, dia datang hanya dengan penampilan santai? Benar-benar diluar dugaan,'



"Sha? Kenapa?" Ethan berjalan memghampiri Marsha, Merasa heran melihat ekspresi wajah gadis itu.


"Ha? Oh ... tidak kenapa kak,"


"Mau aku gendong?"


'****Maauuu****'


"Tidak perlu kak, hehe"


\=\=\=\=


Ferdo membawa Melina ke Hotel miliknya. Bukan mau ngapa-ngapain si, pria itu cuma mau ajak Melina ke ruang kerjanya. Kali aja bisa nambah semangat kerja.


'Kenapa dia membawaku ke hotel?'


"Kita mau ngapain kesini?" tanya Melina, dengan rasa curiga.


"Mau istirahat Mel." menjawab dengan gaya santainya. "Yuk, turun, sekalian setting ponsel baru kamu. Ingat, Marsha bingung kalau nomor kamu tidak aktif."


"pBaiklah ... kamu benar."


keduanya turun dari mobil.


"Tapi, kenapa harus di hotel? kan bisa ke tempat aku!"


Ferdo dapat melihat sedikit aura ketakutan di wajah Melina. 'Ternyata, dia juga sangat menjaga dirinya'

__ADS_1


"Jangan pikir yang macam-macam Mel," Menggenggam hangat pergelangan tangan Melina. Terpaksa Melina harus menseimbangkan langkah kakinya dengan langkah besar milik Ferdo.


'Duuuh, dia sweet banget siiii, aaahh ... aku jadi baper kan,'


"Slamat sore pak,"


Untuk kesekian kalinya sapaan itu terdengar di telinga Melina saat dirinya dan Ferdo yang sedang berjalan, entah akan menuju kemana. Melina hanya menundukkan kepalanya, mengikuti kemana pria itu membawanya.


Bukannya apa, Melina takut saja jika kebetulan dosen atau teman kuliahnya melihat ia sedang bersama seorang pria memasuki hotel ini.


Tibalah keduanya di depan pintu berukuran besar yang bertuliskan General Manager. Otak Melina yang memang sangat aktif itu auto berpikir bahwa kini mereka berdua akan bertemu dengan pak Juan Barata, yang mungkin saja adalah pemimpin hotel ini. Apa si yang ga mungkin bagi mereka, pikirnya.


'Ini bukan kamar kan? Jelas² ini kantor pemimpin hotel ini? Mau apa dia ngajak aku kesini? Apa ini ruangan papa-nya? Bisa aja kan, papa-nya pemilik hotel ini? Apa dia akan kasi tau papa-nya kalau dia suka aku?'


Ceklek.


Pintu terbuka.



"Lah ... tidak ada orang?" tanya Melina, reflek.


"Memangnga kamu berharap akan bertemu siapa disini?"


Ferdo bertanya dengan gaya santai, sembari melangkah ke arah sofa. "Duduklah disini, ini hp baru kamu. Setting dulu hpnya sementara aku akan bekerja.


"Bekerja?" tanya Melina, sedikit terlihat heran.


"Iya, bekerja!" Ferdo kini berjalan menuju meja kerjanya, membiarkan Melina diam tercengang menatapnya.


'Jadi? Dia penanggung jawab penuh di hotel ini? hah?'


Melina memegang dada-nya yang terasa bergetar gugup. Sulit rasanya mempercayai hal ini.


'Jadi, pria yang baru menyatakan perasaan padaku ini adalah seseorang yang punya tanggungjawab sebesar ini? Tapi ... kenapa dia malah menyukai cewek kampung kayak aku? Apa yang dia lihat dari aku?'


"Mel,?"


"Eh?"


Tiba-tiba Ferdo memanggil namanya, membuyarkan lamunan Melina.


"Kenapa menatapku sambil ngelamun?" tanya Ferdo, tanpa melihat kearah Melina, karena sedang sibuk menatap kearah komputer.


"Oh, bukan, aku sedang ... memikirkan sesuatu! Ya sudah, akan ku setting ponsel ini." Melina lalu memfokuskan diri pada hp baru cap Appel bekas itu.


'Baiklah Mel, terima saja hp baru ini. Lagi pula dia seorang yang pasti punya upah yang sangat banyak setiap bulan. Hp ini tidak ada apa-apanya bagi dia. Dan bukankah dia telah merampas kesucian bibirmu? Anggap saja ini sebagai biaya denda yang dia bayarkan.' Melina membatin panjang lebar.


Melina selama ini berpikir bahwa Ferdo hanyalah seorang pria yang wara wiri tak jelas menikmati fasilitas yang ia dapatkan dari orangtuanya. Tak menyangka bahwa seorang pria yang terlihat selenge'an itu adalah pemegang jabatan tertinggi di sebuah hotel ternama.😑


Beberapa menit kemudian, ponsel baru milik Melina sudah beres dan siap di gunakan.


"Mel,"


Ferdo memanggil nama Melina.

__ADS_1


"Ka...ka..kamu kenapa?"


Melina menghampiri Ferdo yang terlihat sangat tersiksa dengan banyaknya bentol-bentol di tubuhnya.


"Apa ini? Kamu alergi makanan?"


"Sepertinya begitu" jawab Ferdo, singkat. Pria itu menahan rasa yang menyiksa pada tubuhnya. Gatal, yang ketika di garuk akan terasa sakit.


"Lalu bagaimana ini?" Melina mulai panik. Ia pun mengajak Ferdo segera ke rumah sakit.


Ferdo menolak dibawa ke rumah sakit dan meminta Melina memghubungi dokter pribadi saja.


Melina pun melakukan seperti perintah Ferdo. "Yuk, kita pindah ke sofa aja, kamu bisa sambil berbaring," saran Melina.


Ferdo menekan sebuah remote control.


nit nit, tiba-tiba saja terdengar suara. "Ayo, kita ke ruangan pribadi aku aja.


'Eh? keren banget si ni ruangan? pintunya pake remote segala'


Sempat-sempatnya Melina membatin, mengagumi keluarbiasaan pria ini. Ia pun memberi sedikit perhatian pada Ferdo, menuntunnya memasuki ruangan tersebut. Padahal, pria itu bisa aja berjalan sendiri. Anggap aja alasan kemanusiaan, pikir Melina. Ferdo pun dengan senang hati menerima perlakuan baik Melina.



Lagi-lagi Melina harus terpesona setelah masuk ke kamar pribadi ini.


'Astaga ... enak banget hidupnya yah, kalau sudah capek kerja, langsung aja tepar di sini, ga perlu membayangkan kenyamanan kamar miliknya dirumah. Hadeh,' Melina lagi-lagi membatin.


Kini Ferdo duduk bersandar di kasur empuknya, sementara Melina hanya berdiri, bingung mau duduk dimana.


"Mell,"


"Eh? Ya?"


"Sambel apa tadi yang kita makan?"


"Sambel tomat pakai terasi" jawab Melina, jujur.


"Ah pantas saja" ucap Ferdo menggantung kalimatnya.


"Pantas apa? Ha? Kamu ... alergi sama terasi? Terasi udang?"


"Hmmm" Ferdo mengiyakan.


Seketika itu juga, Melina merasa sangat bersalah. Ia mendekati Ferdo, "Maaf ya ... aku ... ga tau kamu alergi sama terasi!" ucapnya, lalu mengusap bentol-bentol itu dengan telapak tangannya.


"Jangan merasa bersalah. Aku yang tidak beritahu kamu"


"Uuuuhhh kaciaaaann" Melina semakin mendekat lagi dan akhirnya, memeluk Ferdo dengan sukarela. Maksudnya si, sekedar pelukan menghibur aja, tidak lebih.


'Mel - Mel ... kamu memang pintar bikin bahagia' batin Ferdo, tersenyum.


.


.

__ADS_1


__ADS_2