Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Si Pangeran ke Satu (Demam)


__ADS_3

Ferdo dan Fema turun dari mobil yang mengantarkan mereka datang menghadiri pertandingan yang akan diikuti oleh si sulung keluarga Barata itu.


Banyak pasang mata yang menatap kagum pada Fema yang nampak begitu cantik dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Ferdo yang mengerti akan tatapan orang-orang pada mamanya merasa sangat terganggu. Dengan santai Ferdo menggenggam tangan mama Fema, seperti seorang anak kecil yang takut kehilangan mamanya.


'What? Sekarang dia menggenggam tanganku?'


Dari jarak yang lumayan jauh, Jerry melihat kedatangan Ferdo dan Fema. "Papa kok tidak hadir? Apa papa akan terlambat?"


Setelah seluruh para pendukung dan keluarga peserta dari even ini telah hadir, pelatih meminta para pesertanya untuk menghampiri keluarga dan supporternya. Jerry pun menghampiri mama dan adiknya. Kedatangan Jerry dan beberapa teman perwakilan sekolahnya itu di sambut sorak suporternya.


"Teman-teman.. kami mengandalkan kalian. Semoga bisa juara ya" seru supporter utusan sekolahnya itu.


"Jerr.. duduk sini," Fema memberi tempat duduk kepada Jerry dengan posisi ditengah antara dirinya dan Ferdo. Jerry pun duduk diantara diantara keduanya.


Sepertinya Ferdo keberatan dengan itu. Dia berdiri dari duduknya dan meminta mama dan abangnya itu untuk bergeser lalu kemudian anak itu pun kembali duduk dan kini mama Fema berada ditengah Jerry dan Ferdo. "Ini baru benar" ucapnya cuek, lalu kembali menikmati permen tangkai yang masih stay dalam mulutnya. Fema dan Jerry hanya menggeleng pelan atas kekonyolan Ferdo.


Memang, Jerry belum begitu akrab dengan mama dikarenakan anak itu memang sedikit pendiam. Tapi, Fema berusaha membuat anak itu merasakan bahwa dia ada untuk Jerry dan akan selalu mendukungnya. "Gugup Jerr?" tanya Fema basa-basi.


"Sedikit gugup" jawab anak itu.


Dengan pelan, Fema menyentuh telapak tangan anak itu, dan benar saja, tangannya dingin menandakan bahwa dirinya sangat gugup. Fema berharap, sentuhannya dapat memberi kehangatan dan menghilangkan sedikit rasa gugup anaknya.


Meskipun Jerry tidak mengatakan apapun dan hanya menatap lurus ke depan, Fema yakin bahwa anaknya itu dapat merasakan kehangatan yang dirinya berikan melalui sentuhan tangannya.


Waktupun terus berjalan kini tibalah giliran Jerry untuk tampil, tapi papa yang ditunggupun belum juga hadir. "Semangat ya sayang.. kamu pasti bisa." ucap Fema menyemangati. Jeri pun, mengangguk.


Saat anak itu akan melangkah ke area perangnya, tiba-tiba bahunya di pegang seseorang.


"Papa?"


"Lanjut lah boy.. papa belum terlambat kan?"


Jerry pun mengangguk dengan wajah tersenyum.

__ADS_1


Ketegangan pun memenuhi seluruh jiwa dan raga Juan dan Fema. Keduanya merasa sakit saat melihat anak sulungnya mendapatkan hantaman dari lawannya.


"Sayang.. apa anak kita akan baik-baik saja?" Fema nampak sangat khawatir.


"Semoga saja dia tidak akan kenapa-kenapa. Aku juga merasa sangat khawatir."


Pertandingan yang diikuti selama 3 hari berturut-turut itu akhirnya selesai juga, Jerry berhasil meraih juara 1 dan membawa kebanggaan bagi sekolahnya. Fema dan Juan juga merasa bangga atas capaian putra pertama itu.


Setelah menerima penghargaan yang berupa medali yang dikalungkan di lehernya, Jerry diberi kesempatan pertama untuk menyampaikan sepatah dua kata.


"Medali ini, saya persembahkan kepada sekokah saya yang telah memberi kesempatan untuk mengikiti event ini." Anak itu terlihat membuang napas legahnya.


"Dan yang ke dua, saya, dari tempat ini ingin mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua yang memberi dukungan penuh kepada saya. Dari sini, saya ingin kedua orangtua saya untuk berdiri di tempat."


Dengan perasaan campur aduk, Fema da Juan berdiri dari duduknya menuruti permintaan Jerry. Anak yang cenderung diam itu kini berbicara dengan kalimat yang lumayan panjang.


"Mereka berdua yang berdiri disana adalah kedua orangtua saya." terangnya, memperkenalkan bahwa pasangan yang sedang berdiri itu adalah kedua orangtuanya. "Papa, Mama... terima kasih banyak" ucapnya lagi dengan nada bergetar.


Riuh penonton memberi tepuk tangan. Juan dan Fema mengatupkan kedua tangan memberi salam jarak jauh kepada semua mata yang menatap ke arah mereka yang kebetulan menjadi pusat perhatian.


Fix, mulai saat ini, Jerry akan memanggil wanita itu dengan sebutan "mama"


Untuk merayakan keberhasilan itu, Juan mentraktir Jerry dan teman-teman seperjuangannya, para suporternya dan juga pelatih beladiri mereka. Saat ini mereka semua berada di sebuah restoran ternama yang tentunya menyajikan makanan enak. Semua orang menikmati makanan dengan bahagia.


Keesokan harinya.


Keluarga Barata berkumpul untuk sarapan pagi bersama. Namun, si pangeran mahkota tidak kunjung turun dari istana kecilnya. Siapa lagi kalo bukan si pangeran es balok keluarga ini.


"Mama sayang, anakmu satu lagi mana? Tumben belum turun untuk sarapan?" tanya Juan, tak mendapati keberadaan Jerry, yang biasanya sepagi ini sudah pasti dalam keadaan rapi dan segar.


Kakek Mahendra yang mendengar itu menggeleng kepala heran. "Cih.. dulu lagaknya akan segera bercerai. Sekarang apa? Dia memperlakukan Fema layaknya wanita yang telah melahirkan purtanya. Yang benar saja kau Juan. Kenapa aku merasa kaulah yang berstatus ayah tiri 2 anakmu itu?" batinnya.


"Mungkin saja dia masih memimpikan kemenangannya yang kemarin" ujar Mahendra.

__ADS_1


"Oh... mungkin saja" sambung Juan, santui.


"Tapi aku merasa tidak enak. Aku akan ke kamarnya dulu." Fema pergi mendatangi Jerry setelah meletakkan berbagai menu masakan di meja makan.


"Jerr.. tumben masih tidur?" Fema mendekati anak itu.


"Maa... Mama...."


Anak itu memanggil mama dalam keadaan matanya yang masih tertutup.


'Dia memanggil mama yang mana? Aku, atau ... sedang memimpikan ibunya?'


"Jerr.. mama disini sayang.."


Fema menyentuh kepala Jerry yang ternyata suhunya sangat panas.


"Sayang, kamu sakit ini!"


"Mamaa..." Jerry membuka sedikit matanya.


"Sayang, mama panggil papa dulu ya!" Fema hendak beranjak dari sana akan tetapi tangannya ditahan oleh Jerry. "Ma... jangan pergi..."


Kebetulan, pelayan pribadi si putra sulung sedang cuti, jadi tidak ada yang mengabari Fema tentang kondisi si Tuan Muda ini.


"Mama, duduklah dulu.. temani aku."


'Jadi, mama yang dia maksud adalah aku?'


Anak itu kembali menutup matanya sampil memegang tangan ibu tirinya itu.


"Tidurlah lagi Jerrr.. mama akan berada disini yah"


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2