
Hai readers.. kita lanjut.
............................
Dengan melakukan penyamaran, yaitu memanipulasi rambutnya dengan mengenakan rambut palsu alias wig, agar tidak di kenali oleh si penjahat, akhirnya Fania tiba di rumah layaknya istana megah negeri dongeng milik Mami Angel tersebut.
“Selamat pagi tante..” Fania menyapa begitu mereka bertemu.
“Iya, Fania? Ada apa. Pagi-pagi kamu sudah disini?” Mami Angel nampak penasaran akan niat Fania mendatanginya. Ia pun mempersilahkan Fania untuk duduk dengan nyaman.
“Aduh, gimana yah jelasinnya tante..” Fania tampak ragu-ragu.
“Tunggu Fania, ini.. tentang Marsha ya? Maaf Fania, kalau sudah menyangkut kebahagiaan Ethan, tante ga bisa apa-apa Fania.
“Tapi tante---“
“Fania, memang tadinya tante gencar ingin jodohin kamu dengan Ethan.. tapi, setelah kepulangan Marsha, tante ga bisa lagi! soalnya, sudah 13 tahun Ethan menunggu cinta pertamanya itu!”
“Haaaaa? Cinta pertama?”
“Iya Fania.. kamu juga pastinya kaget kan, Maaf ya Faniaa”
'Apa?? Jadi kak Ethan sesuka itu, sama aku?' ....
”Tante.. kedatangan saya kesini, bukan untuk membahas tentang perasaan Ethan..”
“Jadi? Oh, maaaf kalau tante sudah salah sangka sayang.” Mami Angel merutuki kebodohannya sendiri telah salah sangka dengan maksud kedatangan Fania.
Fania pun menjelaskan tentang tujuannya, yakni ingin meminta bantuan.
"Apa maksud kamu? Gengster? Mafia? Fania, yang benar saja? Tante tidak punya kenalan yang seperti itu" mami meninggikan suara, tak menyangka.
"Kalau begitu, bagaimana dengan detektif?"
"Nah.. kalau detektif ada. Sebentar tante hubungi dulu."
\=\=\=\=\=
Di Kediaman Barata.
Mama Fema menyeret pangeran kedua menuju kamarnya. “Ma.. ada apa si,?” Ferdo merasa kebingungan melihat tingkah mama yang berlebihan, menyeretnya dengan wajah kesal.
“Fer,, jelaskan ke mama.. tentang pernikahan kakak kamu.”
Degh.
“Ma? Kenapa tiba-tiba?”
“Jangan pura-pura bingung Ferdo, mama mendengar perbincangan kamu dengan Nagea tadi pagi.”
“Jadi, apa yang mama dengar? Itulah yang terjadi!”
“Ha? Maksud kamu, mereka hanya bersandiwara?”
“Silahkan mama tanya langsung ke orangnya Ma..”
.
Di kamar Jerry-Nagea.
Gadis itu sedang memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
Tanpa ada yang mengetuk, pintu kamar itu terbuka. “Nagea” mama Fema masuk, sangat mengejutkan Nagea.
Posisi jerry saat ini sedang keluar bersama Marsha, untuk shoping.
“mmm,,,Ma?”
“Apa benar yang mama dengar tadi pagi? Kamu hanya berpura-pura menjadi menantu?”
“Ma... Mama dengar dari mana?”
“Itu tidak penting Nagea.. jawab Mama sekarang!”
“Ma.. maafkan Nagea Ma... tapi ini juga keinginan putramu! Dia menikahiku karena aku harus bertannggungjawab atas menghilangnya Marsha..”
“Apa?” Fema seakan tak percaya.
“Sekarang, Marsha sudah pulang bahkan sebelum aku mencarinya. Itu artinya, dia tidak butuh aku lagi Ma..”
“Nagea, dengar... Mama rasa, dia sangat menyayangi kamu nak!”
“Sayang?..... Ma.. Mama salah besar! Putramu, memiliki banyak wanita di luar sana.. mereka yang dia sayangi. Bukan aku..”
Nagea mengambil sebuah alat perekam suara dan memperdengarkannya pada Fema, yang mana isinya adalah suara Jerry mengatakan bahwa dirinya memiliki banyak wanita cantik diluar sana dan sangat menyayangi mereka. Dia mengatakan dengan sangat jelas bahwa dia memiliki alasan untuk menyakiti Gea karena kesalahannya, Untuk itu ia memilih Nagea yang dia nikahi.
“Maaf membuat mama mendengarkan ini! Tolong mengerti aku ya Ma, aku benar-benar tidak bisa hidup berbagi suami dengan wanita lain, apa lagi dengan para jalangnya itu.” Semakin pula Nagea mengemas pakaiannya. “Anak Mama itu sangat jahat. Meskipun sekarang dia tidak main kasar lagi dengan tangannya, tapi dulu, tangannya sering menyakiti tubuhku ini Ma.. Jadi, mumpung dia belum kumat, aku harus pergi!” Nagea puas telah mengatakan hal menyakitkan itu pada ibu mertuanya.
“Sayang, mama mohon jangan pergi nak, bagaimana kalau setelah kamu pergi dan kamu ternyata mengandung cucu mama? Ayo,, bertahan ya nak, mama akan memarahi suamimu itu!”
“Mengandung? Ma.. anakmu tidak menganggapku istrinya. Kami memang tidur di kamar yang sama, tapi dia belum pernah melakukan hal itu denganku. Anak mama punya kepuasan sendiri diluar sana ma, bukan denganku. Cucu yang mama inginkan, mungkin saja bertebaran di luar sana. Maaaf harus menyakiti Mama dengan mengatakan hal ini, tapi itulah kenyataannya. Jangan lagi sebut-sebut dia goodboy ma, sangat tidak pantas.” Sembari mengeluarkan unek-uneknya, akhirnya Nagea selesai berkemas.
Mama mngetup mulutnya dengan kedua tangan. Ia sangat tidak ingin mempercayai perkataan menantunya ini.
“Nagea.. sayang mama mohon jangan pergi!” Mama kini menyentuh kedua bahu menantu cantiknya.
“Sudahlah Ma,, aku sekarang sudah tidak dia butuhkan. Adiknya sudah kembali itu artinya kami berakhir! Lihat kan? Dia pergi bersama adiknya tanpa memberitahukan padaku, bahkan tidak basa-basi mengajakku! Aku memang tidak dianggap!”
“Maafkan anak mama sayang, maaf!” mama terus memohon.
“Aku harus pergi Mah, katakan padanya, aku sudah menandatangani surat perceraian yang sudah dia siapkan.” Nagea menyeret kopernya.
.......
Ditempat lain, disebuah mall ternama dikotanya, Jerry dan gadis yang kata para readers adalah Marsha KW itu sedang berbelanja apapun yang diinginkan gadis itu. Jerry si hanya menunggu dan membayar semua barang yang diambil oleh Marsha KW.
Setelah puas membelanjakan berbagai jenis pakaian, kini keduanya berada di tempat jual beli perhiasan. “Sha.. kakak akan berikan ini pada kakak iparmu. Menurutmu ini cocok?” Jerry menunjuk salah satu cincin yang terlihat cantik dan membayangkan ekspresi Nagea saat menerimanya.
“Kak, itu terlihat cocok denganku, aku menyukainya juga!” ucap Marsha kw, tak tahu malu.
Mau tak mau, Jerry menuruti dan memilih yang lain untuk istrinya. “Semoga, ini menjadi awal yang baik. Aku berjanji akan membahagiakan istriku mulai hari ini. Aku akan menyatakan perasaanku yang sebenarnya. Aku tidak mau lagi terpisah darinya.”
“Ayo kita pulang, kakak sudah sangat merindukan kakak iparmu!” Jerry mengajak Marsha pulang ia sudah sangat tidak tahan berpisah lama-lama dengan istrinya.
Marsha KW pun menuruti. Dirinya merasa sangat senang sudah shoping suka-suka hari ini.
..........
Ethan.
Pria itu sedang memijat pelipisnya. Ia saat ini berada di ruang kerjanya. Sepertinya ada sesuatu yang kini membuatnya merasa tidak tenang. “Marsha sudah kembali setelah sekian lama. Tapi, kenapa aku merasa biasa saja? Kenapa aku tidak merasakan debaran jantungku lagi seperti dulu?”
Ethan merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Sudah 13 tahun menunggu Marsha, tapi saat orangnya sudah muncul, dirinya malah tidak merasakan apapun terhadap gadis itu. “Aku malah berdebar saat menyebut nama si Fania-Fania itu. Ini semua gara-gara mami, selalu menyebut nama gadis itu di depanku.” Ethan mendenguh.
Drrrt Drrrtt Drrrt
__ADS_1
“Mami? kenapa lagi Mami menghubungiku?”
Ethan menggeser ikon jawab pada ponselnya.
“Halo Mam?” jawabnya malas.
“Sayang kamu sudah makan siang?”
“Belum lah Mam! Ini lagi banyak kerjaan!”
“Meskipun lagi banyak pekerjaan, tapi jangan lupa makan siang yah sayang! Kamu tidak mengajak Marsha mu ke kantor?”
“Apaan si Mam, untuk apa diajak segala?”
“Ya abisnya biar kalian makin dekatlah.. Semangat yah sayang, buruan jadikan dia menantu mami!”
“Mam.. diamlah.. belum saatnya!”
“Lalu kapan lagi?” suara mami ngenceng. “Silahkan duduk sayang” kembali ke mode lembut berbicara kepada seseorang.
“Mam, Mami dimana? Dengan siapa?” Tanya Ethan, merasa harap-harap cemas.
“Aaaa? Oh! Ini, si Fania, makan siang bareng Mami!”
Deg.
Sumpah, jantung Ethan seakan ingin meloncat keluar saat mendengar nama Fania. “Dimana kalian Mam? Aku kesana sekarang. Aku.. tiba-tiba lapar.”
“Oh, yang benar! Kalau begitu Mami kirim alamat!”
Tut tut tut
“Heran, dia aneh sekali. Aku pikir dia tidak lapar!’’ Mami pun menggeleng heran memikirkan putranya.
Dalam waktu 10 menit, Ethan muncul ditempat Mami dan Fania berada.
“Than, sini sayang disebelah Mami.
Saat bertemu dengan Mami dan gadis itu, Ethan sedikit terkejut melihat penampilan yang berbeda dari Fania. "Ada apa dengan rambutmu?" bertanya dengan nada sinis.
"Bukankah dia terlihat makin cantik sayang? Fania sedang ingin merubah warna rambut. Ya kan sayang?"
Fania hanya tersenyum kecil, menanggapi.
Ethan mendudukkan bokongnya pada kursi di sebelah Mami, dan tak bosan-bosannya menatap Fania yang duduk tepat dihadapannya.
"Kenapa dia selalu terlihat cantik? Apa mataku memang sedang bermasalah?"
"Kenapa juga kak Ethan terus menatapku? Ada apa dengan tatapan itu? Dia terlihat ingin menelanku. Melina.. tolong aku idola kesayanganmu ini, aku tidak tahan berada di hadapannya!"
Jadi, Karena mami Angel merasa terganggu melihat rambut palsu yang dikenakan Fania yang menurutnya sangat jelek, Mami Angel meminta para tim kecantikan di istananya mengecat rambut Fania. Jadilah penampilan Fania seperti itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kediaman Barata tiba-tiba di datangi oleh seorang wanita yang kira-kira berusia 50th. Wanita ini masuk dengan wajah sedikit menegang. Menghampiri mama Fema yang sedang cemas memikirkan kepergian Nagea.
“Permisi nyonya,”
“ya?” Fema bertanya-tanya dalam hati, tentang siapa wanita ini.
“Nagea? Oh.. dia baru saja keluar nyonya!”
.
“Mamaaa!” Marsha memanggil dengan sangat manja.
“Oh sayang, kamu sudah pulang..” Fema menyambut putri satu-satunya dengan hangat.
“Ma.. dimana istriku?” Jerry menyusul dan langsung menanyakan keberadaan istrinya. Mama Fema hanya diam. Wanita yang datang mencari Nagea, menatap Jerry dengan tatapan tajam.
Sedikit bingung, Jerry merasa aura aneh sedang menghampiri seluruh ruangan. Mama yang biasanya selalu bersikap hangat, kini tidak menjawab pertanyaan Jerry. Mama Fema terlihat mengeraskan rahangnya, seperti sedang menyimpan segunung kemarahan di dalam dirinya.
“Saya tanya, pergi kemana Nagea?” wanita itu kembali mengulang pertanyaannya dengan penuh penekanan.
“maaf, nyonya, anda mencari istri saya?” tanya Jerry, ingin tahu.
“Istri? Dia benar-benar istrimu?” bertanya dengan nada sedikit berteriak.
“Iya, benar! Lalu kenapa anda mencarinya?” Jerry bertanya dengan wajah tak berdosa sedikitpun.
“Dia putriku.. dia putriku satu-satunya. Beritahukan padaku, dimana dia bersembunyi?”
“ya...? hah.. Nagea-ku, ibunya tidak seperti anda!”
Sementara mama Fema masih diam. Sedangkan Marsha, ia menyingkir masuk ke kamarnya.
“Apa? Berani kamu bilang saya bukan ibunya?” wanita itu pun mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto kebersamaan keluarga kecil mereka.”
Jerry mengerutkan keningnya tak percaya.
“Sayang!” Jerry melangkah meninggalkan mama dan wanita itu, menuju kamarnya untuk melihat istrinya. “Sayang... kamu dimana?..” Jerry membuka pintu, mendapati kamar itu kosong. Perasaan gugup menguasai hatinya. “Tidak.. istriku tidak boleh pergi!” Jerry membuka lemari dan ternyata pakaian milik isterinya itu pun tidak ada.
Jerry lalu kembali berlari dengan perasaan gugup menghampiri mama. “ma.. kemana istriku?” tanyanya kembali mendekati Fema.
PLAKK
PLAKK
Bukannya jawaban yang ia dapatkan dari mama Fema, melainkan dua tamparan.
“Maaaa! Kenapa mama begini?” Jerry tak menyangka akan mendapatkan tamparan dari mama yang sangat menyayanginya ini.
“Puas kamu sekarang, menantu mama pergi. Dia sudah pergi! Dia menyudahi pernikahan sandiwara kalian!” air mata mama mengalir keluar begitu saja.
“Tidak! Tidak.. istriku tidak boleh pergi.” Jerry berlari keluar untuk mencari keberadaan istrinya.
Segera ia menaiki mobilnya untuk mencari Nagea.
“Sayang, kamu dimana?.. sayang, tolong pulanglah.. jangan menghilang lagi!" Jerry hanya mampu memanggil Nagea dalam kesendirian, yang kini entah sedang ada dimana.
\=\=\=\=\=\=\=
“Maafkan putra saya nyonya, maafkan putra saya!!” Fema meminta maaf dengan tulus kepada ibunya Nagea, karena memaksa menikahi Nagea, yang membuat gadis itu berbohong tentang orangtuanya.
“Mungkin putriku juga bersalah disini.” Nyonya itu tiba-tiba menangis sejadi-jadinya. Yang ia tahu adalah, Nagea itu sangat mencintai Jerry, itu sebabnya nekad berbohong seperti ini. Ia juga merasa tidak enak karena keluarga Barata telah ditipu oleh putrinya.
Kemarahan yang ia bawa sejak kedatangannya tadi, telah hilang entah kemana, diganti dengan perasaan bersalah. Akhirnya, ia memutuskan untuk tetap tinnggal di kediaman suami sandiwara putrinya itu untuk menunggu Jerry membawa anaknya pulang. “Anak nakal, aku akan memukulmu habis-habisan. Berani sekali kau menikah tanpa sepengetahuan mami dan papi-mu.” Ia kembali menangis sedih.
\=\=\=\=\=\=
Marsha KW mengirim pesan ke seseorang melalui ponselnya. “Bang, wanitanya Jerry pergi dari rumah” lalu mengirimnya ke nomor kontak bernama Leo.
__ADS_1
Marsha menari-nari dikamarnya menikmati kesenangannya tinggal di rumah barata, menjadi seorang Tuan Putri manja. Belum lagi, menurut cerita dari kak Ferdo, Marsha dicintai oleh seorang yang terkenal, yakni Ethan, yang digilai oleh banyak wanita.
“Aku tidak boleh kehilangan kesempatan ini. Semoga orang yang bernama Marsha Agatha itu akan berakhir selamanya, dan aku akan menggantikan posisinya selama hidupku!”
\=\=\=\=\=\=\=
Waktu sudah sore, menurut informasi dari ibu boss, butik akan tutup sekarang juga. Betapa senangnya hati para penjaga butik milik mama Fema karena bisa pulang ke rumah lebih awal.
Ferdo singgah ke butik mama setelah pulang dari hotelnya tempat ia bekerja. Sesuai instruksi dari mama bahwa Ferdo harus mengunci ruko agar aman. Ia melihat Melina tengah duduk sendirian di depan ruko.
Sebelum keluar dari mobilnya, pria itu mengusap dadanya untuk menetralkan debaran jantungnya.
“gadis ini benar-benar membuatku tidak bisa tenang.” Batinnya.
Melihat Ferdo keluar dari mobilnya, Melina berdiri dari duduknya. “Selamat sore” sapanya dengan senyuman penuh.
“dia berusaha menggodaku?” batin Ferdo, melangkah cuek, tidak memperdulikan Melina dan masuk ke butik. Tak disangka, Melina malah mengikutinya.
“Kenapa kau mengikutiku?” Tanya Ferdo. Dengan nada protes.
"Maaf.. bolehkah saya.. menginap di ruko malam ini?"
"Menginap disini? Kenapa?" bertanya heran.
"Karena... kata sahabatku, bangsal kami kedatangan perampok, jadi sekarang Fania pun sedang bersembunyi. Dia memintaku untuk tidak pulang ke sana." Jelas Melina dengan tatapan kasihan, ia juga memperlihatkan bukti chat dari Fania.
Ferdo menggaruk kepalanya. "Baiklah, tinggallah disini." Ferdo lalu pergi dari sana.
Setelah masuk ke dalam mobilnya, Ferdo menelpon mama untuk memberitahukan tentang Melina.
"Iya Ferr!." Suara malas mama.
"Ma... Melina... dia nginap di ruko malam ini. boleh kah?" Ferdo pun menjelaskan penyebabnya.
"Kalau begitu ajak pulang ke rumah kita aja sayang!" pinta mama, masih dengan nada malas.
"Oh.. ya sudah ma,"
Ferdo pun kembali masuk ke butik.
"Melina, mama minta kamu ikut pulang ke rumahku saja."
"Ha? Benarkah? Baiklah, aku mau.. jujur saja, aku sangat takut berada disini sendirian." Melina berkata jujur, sembari menundukkan kepalanya.
Kini Ferdo - Melina berada di dalam mobil, perjalanan pulang.
Tiba dirumah besar itu, Melina tampak malu-malu terhadap Fema, Marsha dan Abner yang kini sedang berada di ruang keluarga rumah itu. Dengan manjanya Marsha membaringkan kepalanya dipangkuan mama Fema. Ketiganya sedang melihat-lihat foto Marsha dimasa lampau.
"Silahkan Mel" mama mempersilahkan.
"Kak, apa dia pacarmu?" tanya Abner, tiba-tiba. Membuat Melina semakin salah tingkah.
"Pacar? Apa maksudmu? Masih kecil sudah tau bilang pacar." protes Ferdo.
"Karena kalian terlihat serasi. Kakak cantik, apa kakakku baik padamu?" Masih bertanya dengan sengaja.
Melina hanya mengangguk. Padahal hanya ditanya oleh seorang adik kecil tapi Melina sudah gugup bukan main.
"Mel, mandilah.. biar bisa beristirahat." suruh mama, dan meminta Marsha mengambil pakaian ganti untuk Melina. Melina pun meminta maaf karena telah merepotkan.
Salah seorang pelayan diminta untuk mengantarkan Melina ke kamarnya. Saat sedang menaiki tangga menuju kamar yang dimaksud, tiba-tiba mata Melina terhenti pada sebuah pigura besar yang memajang foto sahabatnya. "Itu kan, Faaaniaa? Kenapa, foto Fania ada di rumah ini?"
"Kenapa non?" tanya pelayan, mengagetkan Melina.
"Oh.... em... tidak apa-apa" Melina masih bingung.
\=\=\=\=
Di Dalam Ruang yang sangat gelap.
Nagea terbangun, dalam keadaan duduk di kursi kayu, dan kedua tanganya diikat ke belakang.
"Haaa? Diamana aku? Tolong... tolong.."
Tap tap tap tap tap..
Langkah berat namun terdengar tegas, sedang melangkah kearah Nagea.
"Siapa kamu??.. Dimana aku?"
"Hai Nagea..." Akhirnya orang itu bersuara. dia adalah seorang pria.
"Siapa kamu? dan kenapa kamu membawaku kesini?"
"Kau tidak mengenal suaraku Nagea? Hahahahahaha" Orang itu tertawa jahat.
"L..eee...ooo? Kauuuu Leo?" Tebak Nagea.
"Ya... ini aku.. Aku senang, kau mengenali suaraku. Terima kasih masih mengingatku Nagea.."
"Apa maumu Leo? Kenapa kau membawaku kesini?" Nagea semakin meninggikan nada.
"Sederhana, aku hanya ingin melihat si Jerry kebingungan. Aku hanya ingin menyaksikan dia kesusahan mencarimu."
Baik, Nagea menyadari, bahwa berbicara dengan nada tinggi tidak akan berhasil mengubah seorang Leo yang pembenci. Nagea mulai memainkan trik agar berbicara dengan pria ini tidak terasa menyeramkan. Ia pun menurunkan tekanan nada bicaranya.
"Kau gila Leo, kau salah besar! Jerry, dia tidak menyukaiku."
"Lalu kenapa kau menikah dengannya? Kenapa kau selalu berakhir dengannya, tidak denganku?"
"Leo, jangan membuang waktumu untuk hal tidak masuk akal ini."
"Tak masuk akal katamu? Kau selalu mencintai dia padahal kau tau dia tidak menyukaimu.. dan aku membenci itu."
"Leo,, tolong, tolong jangan seperti ini. mau kau apakan aku, ha?"
"Tenang, aku akan merawatmu dengan sangat baik, sambil menyaksikan suami brengsekmu itu kesusahan mencarimu! Aku tahu dia mencintaimu dan aku sangat benci itu!"
"Leo, katakan padaku, apa kau yang menculik Marsha waktu itu?"
"Marsha? Marshaa.. ya... aku melakukannya sayang, itu karena aku tidak senang melihat dia terlalu bahagia bersama adik perempuannya itu."
"Kenapa kau sangat membencinya Leo?"
"Itu karena... dia selalu 1 langkah di depanku. Dia membuatkau sangat iri!"
"Kalau begitu, lepaskan aku, mulai sekarang aku akan menjadi temanmu. teman baikmu."
"Tidak, aku ingin kau, menjadi istriku".
.
.
Bersambung..
__ADS_1