Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Lahir Darurat (sorry baby)


__ADS_3

"Mel ... Melina ...," Ferdo terbangun dan tidak lagi menemukan keberadaan istrinya. "Kemana dia? Ini masih terlalu awal untuk berpergian" gumamnya, malas.


Pria yang baru dua hari memjadi seorang suami itu pun keluar dari kamar dan terus saja memanggil-manggil nama istrinya.


"Sayang, kamu disini?" memeluk Melina yang sedang serius membuat sarapan.


"Ya ampun sayang, kamu tidak lihat disini ada mama dan juga kakak ipar?" bisik Melina.


"I don't care. Aku pengen peluk istriku. Kamu nakal ya, meninggalkan suami tidur sendirian."


Nagea yang sedang asik mengunyah dan Mama yang sedang menata persiapan sarapan pagi hanya tersenyum menggeleng melihat kelakuan Ferdo.


"Mah, kakak ipar, apa kalian sedang menindas istriku?" tanya Ferdo pada mama yang terlihat fokus menata piring makan sedangkan kakak iparnya hanya sibuk mengunyah tanpa beban, membiarkan Melina seorang diri berada di dekat kompor sedang membuat nasi goreng.


"Fer, apa katamu? Menindas? Hei ... mama ini bukan ibu mertua kejam. Yang benar saja."


"Ferdo, maaf. Bukannya aku tidak ingin membantu istrimu. Tapi calon keponakanmu hanya ingin makan dan makan. Dia tidak ingin aku melakukan apapun." sahut Nagea, sembari terus menggiling makanan dimulutnya.


"Nah, sarapannya sudah siap." Melina pun memindahkan masakan olahannnya itu ke tempatnya.


"Karena sarapan sudah siap, kalian mandilah dulu." suruh mama, membuat Ferdo kembali menyeret istrinya ke kamar.


"Ma, aku akan kembali ke kamar juga ya Mah, mau bangunin papi-nya baby." Nagea pun meninggalkan ibu mertuanya itu sendirian.


Keluarga ini memang terbiasa menyiapkan sarapan pagi. Kecuali untuk makan siang dan makan malam biasanya disiapkan oleh orang-orang yang mereka pekerjakan.


Iapun mencicipi sedikit nasi goreng buatan menantu barunya itu. Karena, jangan sampai semua orang sudah siap sarapan dan ternyata rasanya tidak sesuai.


"Masakan Melina enak juga," gumamnya.


Di Kamar.


"Papi ... Papi ... ayo bangun, mandi."


Mendengar Nagea memanggilnya, Jerry pun membuka mata. "Pagi Mami, sayang." merentangkan kedua tangan. "Sini dekat-dekat, pengen bicara dengan baby."


Nagea pun mendekat.


"Hai baby ... apa anak papi sehat dia dalam?" mengelus perut istrinya yang sudah mulai membesar. Tak lupa ia memberi kecupan hangat di kepala istrinya secara bertubi-tubi. "Kamu mulai ndut sayang."


"Iya nih, namanya juga makan terus."


"Tak apa. Biar baby sehat. Apapun yang kamu mau makan, kamu tinggal bilang saja. Kamu pasti akan mendapatkannya."


"Aku lagi pengen makan papi sekarang." sembari memainkan jarinya diatas (itu) milik suaminya.


"Woooah, kamu kambuh lagi? Jangan menakutiku Nagea."


"Lah. Kok takut sih? Bukannya senang?" goda Nagea.


"Sayang, aku takut anak kita kenapa-kenapa di dalam."


"Makanya, pelan-pelan aja papi." rengek Nagea, tak menyerah.


Jerry terlihat mengusap pelan wajahnya. Setelah dipikir-pikir, aktivitas silaturahmi satu itu memang sudah jarang mereka lakukan.


.........


Beberapa bulan kemudian.


Saat ini, Melina dan Ferdo sedang menikmati jalan-jalan di sebuah mall, yang tentu saja tujuannya adalah belanja. Namun, sejak kedatangan mereka satu jam terakhir, tidak ada satupun sesuatu yang mereka beli.


"Sayang, pergi yuk, aku lapar." ajak Melina, lalu menarik Ferdo pergi.

__ADS_1


Keduanya kini berada di restoran mall tersebut.


"Sayang, belum ada sesuatu yang kamu sukai?" Ferdo bertanya.


"Ada, tapi ... kenapa semua harga sangat mahal? Tidak sesuai dengan uang yang aku punya." jawab Melina, sambil terus memainkan kuku.


"Astaga, Melllll. Kamu boleh mengambil apapun. Tidak perlu khawatirkan harganya. Harus berapa kali aku bilang."


"Hei, aku tahu suamiku menghasilkan banyak uang. Tapi, tidak baik selalu membuang uang untuk membeli sesuatu yang terlalu mahal sementara yang terjangkau dan bagus juga ada."


Melina dengan sudut pandang ekonomisnya berargumen panjang lebar, sementara Ferdo hanya bisa mengiyakan.


"Lagi pula, kita harus menabung untuk menghasilkan baby. Memangnya kamu tidak merasa bosan, sampai hari ini kita belum di karuniai anak," lagi-lagi, Melina terlihat Frustasi memikirkan tentang buah hati.


"Sayang, kita akan terus berusaha melakukannya. Tapi aku janji, kalau dalam bulan depan kita tidak berhasil, maka ayo ikuti program yang kita sepakati."


"Benarkah? Janji yah sayang." Melina tampak bersemangat.


....


Hari-hari berlalu terasa begitu cepat.


Nagea, sang menantu pertama itu kini sudah 9 bulan usia kandungannya. Menurut dokter, cucu pertama keluarga Barata akan lahir minggu depan.


"Mel, aku titip istriku ya,"


"Oke kak Jerr, aku akan bekerja shift sore jadi aku akan menemani kak Nagea dirumah."


Karena ada urusan mendesak, Jerry terpaksa harus meninggalkan istrinya itu. Padahal, pria itu sudah bertekad untuk menemani Nagea secara full time di usia kehamilannya yang tinggal beberapa hari lagi akan melahirkan.


Semua orang telah pergi melakukan aktifitasnya masing-masing. Saat ini, Melina benar-benar menjaga istri dari kakak iparnya itu, bersama para pelayan.


Tepat pukul 12 siang itu, Nagea tiba-tiba mengeluh rasa mules di perutnya.


"Mel, ku rasa anak ini akan segera lahir."


"Apa?"


Melina segera berteriak memanggil pelayan untuk meminta supir bersiap.


Dengan dibantu oleh beberapa orang pelayan, Melina membawa Nagea memasuki mobil. Sepertinya bumil satu ini benar-benar akan melahirkan.


Di dalam mobil.


Melina segera menghubungi ambulance untuk menjemput di salah satu persinggahan agar Nagea secepatnya bisa tiba di rumah sakit.


"Mel, rasanya kakak akan mati." Nagea berteriak kesakitan.


"Yang kuat kak, bertahanlah."


"Mel, baby sudah mau keluar nih,"


"Maaf kak, aku harus memeriksanya."


Melina lalu menyibak daster yang dikenakan Nagea, dan benar saja, kepala baby sudah terlihat.


"Kak, baby sudah terlihat. Bagaimana ini?"


Kembali Melina mendesak sang supir untuk lebih cepat lagi.


"Mel, dokternya gimana si, katanya baby akan lahir minggu depan. Tapi kenapa sekarang?" keluh Nagea sambil terus mengeden.


"Jangan pikirkan itu kak, itu tidak penting sekarang."

__ADS_1


Melina lalu mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya.


("Sayang, kenapa?") sapa Ferdo, dari seberang.


("Sayang, kak Nagea akan melahirkan.")


(Wah, benarkah? Berita bagus.)


Tut, tut, tut.


"Mel, kamu sudah hubungi papi-nya baby?"


"Belum kak,"


"Mel, orang pertama yang harus kamu hubungi itu kak Jerry. Bukan Ferdo, Mel. Aahhh" Nagea kembali menjerit.


Oh, astaga, Melina benar-benar melupakan orang terpenting saat ini. Saat Melina akan menghubungi Jerry, belum sempat pria itu menjawab, Nagea kembali berteriak kesakitan.


"Sakiiit, Mel. Huf huf huf."


"Baiklah, aku akan menolongmu kak, tarik napas dan hembuskan." perintah Melina.


Tak lupa ia meminta sang supir untuk fokus menyetir dan jangan sekali-sekali menoleh ke arah lain.


"Aaaakkhhh, akh, Mel! Sakit."


Keringat bercucuran menahan hebatnya getaran dari rasa sakit. Pada akhirnya ...


"Oweeeek oweeek oeeekkkk"


Seorang bayi tampan lahir di dalam mobil dan disambut oleh Melina, yang bahkan belum berpengalaman sama sekali dalam situasi ini.


Dengan tangan bergetar, Melina mendekap tubuh bayi yang baru saja keluar dari rahim ibunya itu. Sementara kak Nagea, ia kini menutup mata. Melina tak tahu, Istri kakak iparnya itu pingsan atau sekedar tertidur.


"Bagaimana ini? Bagaimana ini? Bagaimana ini?" Melina menangis.


"Nona, itu dia ambulance menunggu kita."


Segera Nagea dipindahkan setelah petugas medis memutuskan tali pusar bayi itu. Bayi itu masih berada dalam pelukan Melina, yang ia balut dengan jaket miliknya.


"Ya Tuhan, semoga anak ini dan kak Nagea tak apa."


Di Dalam Ambulance.


"Kak, bangun. Jangan menutup mata. Kak Negea, ini babynya sudah lahir. Dia sangat tampan. Kak ... bangun. Jangan diam saja. Kak, jangan membuatku takut." tangisan Melina semakin menjadi.


Di Tempat Lain.


Jerry saat ini juga tengah membelah jalan dengan kecepatan tinggi. Tanpa diberitahu, pria itu sudah tahu kalau anaknya kini sudah lahir. Ia mendengar jeritan perjuangan Nagea untuk lahirkan bayinya itu hanya dari sambungan telpon yang diabaikan oleh Melina karena harus menolong istrinya.


"Sayang, maaf! Papi tidak menyambut keluarnya kamu dari perut mami." dengan perasaan bahagia namun air mata yang juga mengalir, pria itu tetap fokus menyetir. sesekali ia usap airmatanya itu.


.


.


Bersambung.


maaf lama guys...


thor, katanya mau tamat?


iya. kita akan segera memgakhiri cerita ini.

__ADS_1


😍😍


__ADS_2