Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Masuk Ruang Bedah


__ADS_3

"Sha, bangunlah!" Ferdo yang sudah bersiap rapih dengan setelan Casualnya, mendatangi kamar dimana adiknya tempati.


Tak ada respon dari gadis itu. "Shaaa, hei bangun!"


"Hmmmmm," gumamnya malas.


"Sha, kakak mau pamit nih,"


"Eh?" Marsha membuka mata seketika.


"Sha ... maaf kakak tidak bisa melihatmu masuk ke ruang bedah. Kakak ada pekerjaan mendadak."


"Pekerjaan mendadak? Di negara mana?" bertanya setelah mengucek kedua matanya.


"Di Tanah Air kita Sha,"


"Oh ya? Okelah kak, lagipula aku khawatir dengan Melina. Dia tidak menghubungiku setelah mengatakan akan mengisi daya ponselnya."


"Udah, dia pasti baik-baik saja. Kakak baru saja menghubunginya." sudah pasti Ferdo sedang berbohong.


"Ahhh, syukurlah."


Ferdo pun memberi pelukan semangat untuk adiknya itu sebelum benar-benar pergi.


"Kakak, selamat sampai tujuan ya, aku akan baik-baik saja. Lagipula ada semua orang disini."


"Hmmmm baiklah, kakak janji setelah kau pulang, kakak akan mengajakmu shopping, apapun yang kau inginkan akan kakak berikan."


"Huzzz kakak, apaan si, jangan boros-boros kak, ingat, kakak akan menikahi Melina. Fokus saja bahagiakan dia."


"Hmmm. Adikku memang sangat baik. Terima kasih sudah menjadi adikku dan bukan adik orang lain."


Dari arah pintu.


"Wah wah wah, momen apa ini? Sepagi ini anak-anakku sudah saling berpelukan?"


Kedua orang itu pun saling melepas pelukannya.


"Ma, aku pamit pulang ya,"


"Ya? Yang benar?"


"Iya Ma, aku titip adikku ya Mah," Menghampiri mama yang masih dengan raut wajah bertanya.


"Iya sayang, sudah mama bilang, kamu tinggal saja tapi ngotot ikutan. Emang enak nahan rindu sama Melina?"


Marsha tersenyum menggeleng mendengar ledekan mama pada kakaknya.


"Bukan Melina juga kok Ma, tapi ... aku ada pekerjaan mendadak."

__ADS_1


"Iya sayang, Mama mengerti kamu adalah orang sibuk."


Tak lupa pria itu memberi pelukan hangat pada ibunya sebelum pergi dari kamar itu.


.....


Dikamar lain.


Jerry terbangun. Rasa mual memaksa dirinya untuk membuka mata. Namun, saat hendak menggerakkan tubuhnya, pandangannya terhenti pada tangan seseorang yang sedang memeluknya.


Pria itu lalu mengedipkan matanya beberapa kali untuk menormalkan penglihatannya. 'Benarkah ini? Dia memelukku?' sembari menoleh dan benar sekali, wajah Nagea kini menempel pada lengannya .


Mual tak lagi ia rasakan, terganti dengan perasaan bahagia. Tak ingin melewatkan hal manis ini, Jerry meraba ponselnya yang kebetulan berada diatas nakas yang masih bisa ia gapai tanpa harus menggeser tubuhnya.


Cekrek


Beberapa pose berhasil ia abadikan. Alangkah bahagianya pria itu akhirnya mendapat pelukan cuma-cuma dari dari istrinya.


'Ya ... beginilah seharusnya kita. Jangan pernah memunggungiku lagi.' Jerry menatap lekat wajah istrinya itu sembari tersenyum.


Satu jam kemudian, Nagea terbangun dan saat membuka matanya, kesadarannya auto terkumpul secara penuh mengetahui dirinya sedang memeluk seseorang yang sudah pasti adalah suaminya sendiri.


'Gila. Apa yang aku lakukan? Semoga saja dia belum bangun'


Pelan-pelan ia mengangkat wajahnya, berharap Jerry sedang tidur.


Tak di sangka, pria itu sedang menatapnya. Nagea hanya bisa terkejut dan merasa terciduk. Dengan reflek ia menjauhkan tubuhnya. Namun, Jerry tidak membiarkan itu terjadi.


"Ap-pa yang kau lakukan?" Nagea tergagap.


"Hai, selamat pagi sayang!"


'Gila. mengucapkan selamat pagi tidak perlu sampai seperti ini. Kau terlihat ingin memperkosa ku' teriak Nagea dalam hati.


Jerry terus menatap mata istrinya yang kini tengah melotot. Perlahan ia mendekatkan wajahnya, bermaksud ingin menyatukan bibir mereka.


Tak disangka, istrinya itu malah memalingkan wajah, hingga membuat Jerry tersadar bahwa ia lagi-lagi mendapat penolakan.


"Aku pikir ... pelukan hangat darimu semalaman adalah tanda bahwa kamu, sudah menerimaku. Tapi ternyata, aku salah sangka. Maaf atas sikapku yang berlebihan ya sayang," dengan nada tenang, tanpa ada tekanan apapun. Yang ada hanya ekspresi wajah yang terlihat begitu kasihan.


Mendengar penjelasan itu, Nagea hanya terdiam. Entah apa yang wanita itu pikirkan.


Akhirnya, Jerry beranjak dari kasur lalu masuk ke kamar mandi. Sementara Nagea, masih mematung. Lama kelamaan, air mata wanita itu menetes dengan sendirinya.


'Kenapa denganku? Kenapa aku tiba-tiba merasa sedih? Apa aku mengasihaninya?'


......


Saatnya Marsha akan bersiap masuk ke ruang bedah. Semua orang menyemangatinya.

__ADS_1


"Sha, semangat ya,"


Jerry mendekati adiknya itu. Saat sedang memberi Marsha pelukan hangat, air mata pria itu mengalir keluar begitu saja. 'Maaf karena kakak, kamu harus melewati ini Sha,'


"Sha, maaf, kakak tidak bisa menunggu sampai prosesnya selesai. Kakak harus pergi ke beberapa tempat karena urusan pekerjaan."


Degh.


Nagea yang mendengar itu bertanya-tanya dalam hati. 'Dia mau pergi? Tapi kenapa tidak bilang padaku?'


"Iya kakak, Marsha janji, saat kita ketemu lagi, semuanya sudah membaik."


"Iya sayang, kakak percaya itu."


Petugas pun membawa Marsha masuk ke ruang bedah itu. Semua orang tersayangnya itu melepasnya dengan senyuman hangat.


Selepas menghilangnya Marsha dari pandangan, Jerry pun berpamitan.


"Ma, titip istriku ya, aku ... ada urusan mendadak mengenai pekerjaan."


"Iya sayang, kamu hati-hati ya nak. Jangan khawatirkan apapun. Pergi dan pulanglah jika semua sudah beres."


"Iya Mah," Lalu mendekati Nagea.


"Sayang, jaga diri ya, aku ... pergi dulu." menyentuh lengan istrinya.


Ia pun tak lupa berpamitan pada Ethan dan mami Angel yang juga berada disana.


Jerry melangkah pergi, sedangkan Nagea menatap kepergian suaminya itu sampai menghilang dari pandangan.


Hal itu tak lepas dari pandangan mama mertuanya. 'Aku tidak tahu bagaimana perkembangan hubungan kalian. Tapi ... semoga kalian berdua akan segera saling menerima setelah ini.' batin mama.


\=\=\=\=


Ferdo sudah tiba di tanah air dengan selamat. Ia segera melaju ke RSUD setempat. Buat apa lagi jika bukan mendatangi Melina, yang berhasil membuat dirinya tidak tidur semalaman.


Ternyata, gadis itu telah dipindahkan ke ruang rawat yang hanya dihuni oleh 2 pasien. (Maklum, BPJS kelas 1, jadi hanya Menampung 2 pasien di dalamnya.)


Ferdo mengambil ponselnya untuk menghubungi Melina melalui panggilan Video, meskipun kini dirinya berada di depan ruangan Melina.


Dengan Teganya Melina menolak panggilan lalu segera mengirim pesan WA


Melina:


["Maaf, aku sedang sibuk sayang"] demikianlah isi pesannya.


'Sibuk? Dia belajar berbohong?'


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2