Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Mamaku


__ADS_3

Setibanya di kediaman mereka, Marsha dan Ferdo memasuki kamar masing-masing.


Ferdo mengangkat gagang tepon yang berada di samping tempat tidurnya dan menghubungi papa.


Drrruuut drruuuut drrruuuut drrruuuut


"Halo" suara serak papa menyapa.


"Papa, dimana? Papa baru bangun?"


"Ehmmmm.. kenapa boy?"


"Apa papa bekerja sambil tidur-tiduran?"


"Papa tolong bantu Ferdo carikan pelatih musik untuk si teman beruang itu."


"Mmmmm? Marsha maksudmu?"


"Iya pa, siapa lagi.."


"Kenapa tiba-tiba?"


"Ini bukan tiba-tiba... kalau dia mau jadi adikku, dia harus bisa bermain musik sepertiku"


"Jangan menyiksa adikmu Ferr.. kenapa tidak kamu saja yang mengajarinya?"


"Ferdo bisanya bermain gitar Pa... Marsha pengen belajar piano."


"Baiklah, akan papa carikan pelatihnya."


Tuut tuut tuut..


"Sudah mengganggu tidurku.. Bisa-bisanya menutup telpon tanpa pamit! Dasar anak tidak sopan!" Juan menggerutu dan mengacak sedikit rambutnya.


"Kenapa papa sayang!" Fema menggeliat dari tidur siangnya dan memeluk tubuh suaminya.


"Si Ferdo, memghubungiku dan meminta sesuatu yang sangat konyol. Apa dia pikir aku tidak akan pulang kerumah? Dasar tidak sabar!" Juan hanya bisa mengumpat anak keduanya itu.


"Sabar Papa sayang, begitulah anak-anak. Baru satu yang mengganggu tidurmu. Kamu sudah sekesal ini? Ingat, Masih ada dua lagi,"


Membenarkan perkataan istrinya, Juan merasa tak enak hati. "Maaf sayang, aku hanya sedikit kesal saja. Karena istirahatku terganggu." Ia lalu membalas pelukan istrinya.


"Pa,, sepertinya kita tidak perlu hadirkan anak ke empat. Tiga saja sudah lebih dari cukup kan?"


"Tidak, aku mau tambah 1 lagi. Ayo kita cetak sekarang."


"Terus yang tadi itu apa namanya kalau bukan lagi cetak anak Juaaaan"

__ADS_1


..............


Kembali ke Kediaman Barata.


Kakek mendatangi Ferdo di kamarnya.


"Kakek? Tumben?"


"Langsung saja.. kakek mau bertanya.. apa kau tahu papa dan ibu tirimu itu hanya akan bersama selama 4 bulan?"


"Apa?"


"Itu artinya minggu depan wanita itu akan pergi dari kehidupan kita!"


"Hah.. kakek sedang bercanda? Aku tidak percaya!"


"Kau mungkin tidak peduli. Tapi, saran kakek, berikan kesan baik padanya agar meskipun sudah terpisah nanti, dia masih mengingat kebaikanmumu.


"Kenapa dia harus pergi? Bukankah dia baik-baik saja dengan papa?"


"Itu kesepakatan awal pernikahan mereka. Lagi pula, kau dan kakakmu tidak sudi kan punya ibu tiri..!"


Tanpa mengatakan apapun lagi, kakek sudah berada diluar kamar cucunya itu, membawa senyum jahilnya.


Mendengar yang baru saja kakek ucapkan, membuat Ferdo lapar seketika. Ia menuruni tangga dengan hentakan kaki yang terdengar jelas. Belum lagi wajahnya hanya dihiasi oleh amarah penuh.


"Masakan apa ini bu Sum? Rasanya tidak enak!"


"Nak Ferdo.. tapi mereka sudah membuatnya sesuai dengan resep masakan nyonya." Bu Sum menjelaskan.


Ferdo mulai marah-marah tidak jelas. Jiwa premannya tengah mendominasi. Dia sangat lapar dan makanan yang ada tak sesuai dengan keinginan. Para pelayan terlihat ketakutan. Biar kata Ferdo masih anak-anak tapi dia juga bisa mengamuk saat marah dan tertawa terbahak-bahak saat senang. Berbeda dengan abangnya, Jerry.


"Buatkan yang rasanya persis seperti bikinan mamaku! Apa kalian mengerti?" Ferdo kembali membentak.


Diam-diam seseorang merekam situasi ini dan mengirimnya pada Fema.


Di perjalanan.


Juan dan Fema hendak kembali ke pekerjaan masing-masing setelah puas dengan pergulatan panas mereka.


Karena ponselnya menandakan adanya pesan yang masuk, Fema membukanya.


Ternyat dari Nenik, pelayan pribadi si Tuan Muda kecil. Fema pun membuka Video tersebut.


Video itu berisi bentakan Ferdo terhadap para petugas dapur, yang meminta masakan yang harus sama dengan rasa bikinan Fema.


Juan dan Fema mendengar itu dengan sangat jelas. "Buatkan yang rasanya persis seperti bikinan mamaku!"

__ADS_1


Fema mengulang beberapa kali bagian itu dan tersenyum puas.


"Sayang.. kenapa kamu mengulang terus kalimat bentakan anak itu?"


Berbeda dengan Juan yang terlihat kesal akan itu, Fema malah tersenyum senang. Dia terus saja mengulang Video itu di bagian tertentu. Sangat senang mendengar Ferdo menyebutnya mamaku.


"Apa yang membuatnya menjadi tidak sopan seperti itu? Apa dia mulai kurang ajar karena aku sudah tidak pernah marah?"


"Aaaah uwwwuuu,, ada apa dengan dua putraku hari ini? Mereka sangat manis!" Fema meletakkan kedua tangannya di dada, sembari merem dan tersenyum membayangkan wajah tampan kedua remaja itu.


"Cssshh.. kau bahkan tidak peduli aku sedang kesal atas tindakannya? Para pekerja di dapur pasti juga sedang ketakutan, kau malah tersenyum senang."


"Papa sayang, ayo lebih cepat.. aku tidak sabar ingin memasak untuknya!"


Juan menggeleng heran. "Kau tidak berperasaan sayang! Lihatlah kemacetan kota ini.. ingin menerobos? Memangnya jalan raya ini milik kakekmu?"


Fema memicingkan mata "Papa sayang, kenapa aku merasa kau sedang cemburu pada anakmu?"


"Iya.. benar.. saking cemburunya, aku akan menghajar dia begitu tiba di rumah!"


"Papa sayang, jangan lupa. Kamu ditunggu di ruang operasi 3 jam lagi" Fema mengingatkan.


"Astaga.. aku hampir saja lupa."


Tiba di kediaman Barata.


Juan hanya mengantar istrinya itu pulang dan segera kembali ke rumah sakitnya.


Fema segera menuju ruang makan. Benar saja, disana si pangeran kedua tengah duduk di kursi makan dengan wajah tak berselera.


"Selamat siang nyonya" Sapa para pelayan yang ada di sekitar Ferdo. Anak itu hanya menatap meja makan.


"Ferdo.. ada apa ini? Kenapa kamu murung?" tanya Fema, basa-basi.


"Aku sangat lapar dan mereka tidak memasak dengan benar. Rasanya tidak enak!" adunya, tanpa melihat ke arah Fema. Kekesalan yang menggunung di dadanya seketika mencair karena kehadiran Fema. Airmata anak itu kini keluar secara terang-terangan. "Aku sangat lapar" ucapnya lagi dengan nada sedikit bergetar menahan tangis.


Fema tidak mengerti ada apa dengan Ferdo, ia memberi kode kepada para pelayan untuk menyingkir dari sana. Menurut Fema, anak ini tidak hanya lapar tapi juga ada masalah lain yang melanda hati dan pikirannya.


FEMA mendekati Ferdo sembari menggeser salah satu kursi makan, lalu duduk bersebelahan dengannya. Tanpa menanyakan apapun, Fema berusaha menghibur anak itu dengan cara memeluk dan menepuk-nepuk punggung belakangnya.


.


.


Bersambung....


guys.. semoga kalian terhibur🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


Tetap semangat ya...


__ADS_2