
Hening.
Hanya ada keheningan di dalam ruangan luas itu.
Ethan mendekat perlahan kearah Marsha.
"Sha,"
Pria itu sepertinya mencoba menyentuh Marsha dengan tangannya. Namun, segera gadis itu memundurkan satu langkah kakinya sembari melayangkan tangannya ke udara, memberi isyarat bahwa Ethan tidak perlu mendekat.
"Tidak perlu ... sentuh aku kak. Sekarang, aku ... malu! Ya ... aku, malu. Sangat malu."
Saat ini, matanya sudah tidak berani ia arahkan ke wajah Ethan.
Ethan lalu memungut jas milik Marsha yang tergeletak sembarangan di dekatnya, ingin mengenakannya ditubuh itu kembali. Namun, baru saja pria itu hendak mendekati Marsha, ada tangan seorang pria lain yang merampas benda itu darinya, lalu pria itu mendekati Marsha, meninggalkan Ethan yang hanya bisa mematung di tempatnya.
"Adikku tidak perlu sedih. Tak perlu merasa malu." Ferdo memakaikan jas tersebut ke tubuh adik perempuannya itu. Marsha hanya menerima perhatian dari kakaknya dengan wajah tertunduk.
Hening, hanya terdengar isak tangis Marsha. Orang-orang yang mengelilinginya terlihat saling melempar pandangan.
"Sssuuuut ... sudah ... siapa bilang kau ini jelek? Kau tetap satu-satunya yang tercantik setelah mama." Ferdo kini memeluk Marsha dengan sayangnya. Pria itu terlihat sangat menyayangi adiknya. 'Ini karena kakak tidak menjagamu dengan baik Sha ... maaf, maafkan kakak yang tidak berguna ini'
\=\=\=
'Ma ... tenang saja, aku akan memberi hukuman kepada orang itu!'
Jerry duduk di samping mama yang belum juga bangun, dengan setianya ia menggenggam jemari mama. Kalau si bontot itu, paniknya hanya sekejap lalu. Sekarang saja dia sedang asik mabar FF di samping mama yang tertidur.
"Ner... jagain mama sebentar. Aku akan mengurus sesuatu."
"Hmmm" anak itu hanya menjawab sekenanya.
Jerry pun keluar hendak menghubungi seseorang.
"Papa? Kok Papa sendirian? Dimana Adikku?"
"Papa tadi habis menghubungi orang yang terhubung langsung dengan Leo di penjara. Papa pastikan si Leo tidak tahu jika kita akan menangkap pamannya itu. Em... kalau ... kedua adikmu, masih bikin drama melow di tempat acara itu"
"Pa ... biar aku sama Ferdo yang mendatangi pria itu. Aku ingin menghajarnya habis-habisan terlebih dahulu setelah itu serahkan dia ke polisi atas kejahatannya."
"Baiklah boy, papa percayakan pada kalian berdua. Tapi ... jangan sampai dia melarikan diri."
"Iya Pah. Lalu, bagaimana dengan adikku? Adakah rencana untuk memulihkan dia?"
"Tentu saja. Papa tidak akan membiarkan putri papa terlihat seperti itu selamanya. Papa akan hubungi teman papa yang ahli dalam bidang operasi plastik di Thailand."
"Semoga, Marsha tidak akan menolak pah." Jerry lalu pergi dari sana, sedangkan papa Juan menghampiri istrinya.
\=\=\=
Setelah lama dalam posisi memeluk adiknya, Ferdo mengurai pelukannya. "Sayang, ayo kita istirahat sejenak, sebentar lagi, para tamu akan datang."
Marsha pun memganggukkan kepala.
"Tunggu,"
Tau-tau, Ethan sudah menahan tangan Marsha, yang hendak dibawa pergi oleh kakaknya itu.
Ferdo menaikkan satu alisnya, seperti sedang mengisyaratkan kata tanya, "kenapa?" ia melirik adiknya itu, kemudian menatap singkat tangan Ethan yang sedang menahan adiknya, Ferdo pun melepaskan rangkulannya.
"Ya, putuskan sekarang bro. Kau masih menginginkan adikku atau tidak, terserah padamu. Aku tidak keberatan."
Ferdo pergi dari sana setelah menepuk bahu Ethan.
"Benar kata abangmu, kamu itu tidak jelek Marsha. Kamu selalu cantik, dimata dan dihatiku." bisik Ethan, setelah menarik Marsha kedalam pelukannya.
Saat ini, keduanya berada di salah satu ruangan.
'Benarkah ini? Apa ini artinya dia terima kondisi aku?'
"Kak, tapi ... aku benar-benar tidak pantas untuk kakak."
"Hei ... siapa bilang kamu tidak pantas sayang?"
Mami dan papi menghampiri Ethan dan Marsha.
__ADS_1
Ethan lalu menyudahi pelukannya. "Pi, Mi, terima kasih karena ... kalian tetap menyukai Marsha-ku" ucapnya, tulus.
Papi dan mami hanya memberi senyuman hangat. "Kami berdua selalu mendukung pilihanmu boy" sahut sang ayah.
"Sayang, mami akan segera membawamu untuk melakukan oplas sayang. Mau yah ..."
Mami Angel kini mengambil alih Marsha dari Ethan.
"Tante, aku --"
"Marshaaaa," mama Fema tiba-tiba muncul bersama papa Juan dan kini memeluk Marsha putrinya itu dengan sangat erat.
"Anakku, anak mama, sayang ... maaf mama tidak jaga kamu dengan benar sayang."
Mama kembali menagis sesegukan. Fema merasa bahwa dirinyalah yang telah gagal menjaga putri satu-satunya ini.
"Maaa, Maaa ... jangan sedih lagi, Marsha tak apa Ma," menusap pelan punggung belakang mama.
"Sayang, apa masih sakit? Dimana lagi yang sakit nak?"
"Sudah tidak sakit Mamah, sudah sembuh. Hanya ada bekasnya Mama."
"Aaah, anak cantikku yang malang."
"Ma ... sudahlah, jangan sedih lagi." Papa Juan mendekat dan memeluk Fema dengan Marsha bersamaan.
"Papa minta maaf ya sayang, papa yang selalu kamu banggakan ini ternyata tidak bisa menjagamu. Papa yang salah sayang,"
"hiks hiks hiks hiks" kembali terdengar isak tangis Marsha. Dirinya merasa tersentuh mendengar perkataan ayahnya, seorang ayah tiri, yang merasa bersalah karena tidak menjaga putrinya dengan baik. Seorang Marsha yang hadir kedalam hidupnya, seorang gadis kecil yang tiba-tiba harus dianggap sebagai anak sendiri.
"Ternyata, semuanya disini?" Ketiga pangeran keluarga Barata itu pun muncul bersamaan, dan melakukan hal yang sama, memeluk papa, mama dan Marsha bersamaan. Jadilah bentuk lingkaran hangat dari keluarga itu, terlihat sangat manis. Mami, papi dan Ethan hanya jadi penonton yang terlihat kikuk.
Keluarga ini memang sangat manis. Mereka suka berpelukan dalam suka duka dan selalu saling support.
Saat ini, karena Marsha sedang dilanda kesedihan, maka mereka memeluknya bersamaan, agar gadis itu tidak merasa sendirian. (Udah kayak tim Volly lagi doa bersama sebelum bertanding aja berenam).
.
"Sha, aku ... akan menemani papi menghampiri para tamu dulu yah," pamit Ethan pada Marsha yang kini sudah tidak menangis lagi, gadis itu duduk dan diapit oleh mama dan mami Angel.
\=
"Thailand aja"
"Korea aja Fem, lebih keren"
"Thailand aja mbak, disana ada besan saya"
"Jangan, Korea aja. Kita juga akan jadi besan, saya yang akan menemani kalian berdua."
"STOP! Ma, Tante ... kenapa kalian berdua jadi berdebat?"
Marsha merasa pusing mendengar mami Angel dan Mama Fema berdebat tentang kemana mereka akan membawa Marsha untuk melakukan Oplas seperti keinginan para emak-emak readers.
"Sha? Kamu sedang marah sayang?"
"Bukan tante, tapi, acara sudah dimulai. Apa kita akan terus berada di sini?"
Benar, para tamu undangan sudah berdatangan, tapi ketiga wanita itu masih belum juga ikut bergabung ke tempat pesta tersebut.
"Sha,"
"Kak Ethan?"
"Kakak? Sayang, kenapa kamu masah panggil kakak ke anak mami? Panggilnya sayang dong,"
Marsha hanya tersenyum malu mendengar permintaan si mami.
"Lain kali aja tante ... belum terbiasa dengan panggilan lain. Hehehe"
Mami dan mama pun mendahului keduanya untuk bersama-sama ke pesta. Tinggallah Ethan dan Marsha di ruangan itu.
"Kak, mau jemput aku ya?" bertanya dengan tingkah malu-malu.
"Hm .... ayo," Ethan memberi lengannya untuk di gandeng oleh Marsha.
__ADS_1
"Malu kak,"
"Sha, Sha, kenapa masi malu-malu gitu? Kan sudah jadi pacar!"
"Hehehe," cengengesan.
"Malah cengengesan. Ayo," Terpaksa Ethan meraih tangan Marsha. 'Menggenggenggam tangannya lebih bagus, dengan begitu dia tidak akan lepas.' batin Ethan, seraya menyunggingkan senyuman.
.
Dalam acara ulang tahun Grup Yared kali ini, benar-benar ada yang spesial. Selain Launching produk baru, juga diumumkannya bahwa ahli waris Yared Grup juga kini sudah terlibat dalam suatu hubungan asmara dengan seorang gadis muda dan cantik bernama Marsha Aghata, cucu dari Mahendra Barata yang sangat terkenal itu.
Kabarnya, sang kakek akan segera pulang, sebab posisi kapal Pesiar yang membawanya mengelilingi samudera itu, sedang menepi. (Haha.. dikira apa sih, menepi).
Lanjut.
Acara pun berakhir setelah di tutup oleh pengumuman yang menghebohkan jagad raya itu. Belum lagi, Ethan mengatakan bahwa dirinya akan beristirahat dari dunia Entertainment yang telah membuatnya cukup terkenal.
"Bro, sukses terus yah buat perusahaanmu, semoga ... kita bisa terus bekerjasama" ketiga sahabat Ethan datang menghampirinya yang sedang duduk berdua dengan Marsha.
Ethan pun mengucapkan hal yang sama dan berterima kasih pada Arnav, Tomi dan Galih karena sudah hadir menghadiri acara perusahaan.
"Sha," kak Ferdo datang menghampiri mereka.
"Than, aku ... akan bawa adikku pulang. Ini sudah sangat malam." pamitnya pada Ethan.
Em... aku, yang akan mengantarnya. Tenang saja." sahut Ethan.
"Iya nih, si Ferdo, memangnya Ethan tidak akan mengantar adikmu?" protes Tomi.
"Eh, kemana cewek cantik yang selalu berkeliaran di dekatmu itu? Kenapa aku tidak melihatnya?" tanya Galih, seraya mengedarkan pandanganya mencari keberadaan Melina.
ðŸ¤"Marsha merasa lucu melihat ekspresi kakaknya yang seperti gelagapan mendengar pertanyaan tentang Melina.
"Heiii ... anak-anak, tunggu apa lagi? ayo kita pulang ke rumah masing-masing. Waktu sewa tempat ini telah habis. Cepat bubar sebelum Jerry mengusir kita." titah Mami Angel yang selalu ada-ada saja itu, berjalan melewati sekumulan Ethan dan teman-temannya.
.
Di dalam mobil.
Seperti yang ia katakan, Ethan kini mengantar Marsha pulang, sebagai pacar yang bertanggungjawab.
"Kak, kenapa diam-dia aja?" tanya Marsha.
"Emmm... mau bilang apa lagi? Semua sudah aki bilang, suka, sayang, cinta sama kamu, itu yang selalu mau aku bilang." ujar Ethan, dengan gaya santainya.
"Yah, basa-basi atah apa gitu?"
"Emmmm baik, aku mau bilang, makasih banyak yah, sudah terima perasaanku. Aku ... sangat bahagia."
☺"Hehe ... sama"
Zepppp. Ethan menyentuh jemari Marsha dan dengan secepat kilat mengecup punggung tangan gadis itu, lalu ... tersenyum.
"Huf huuf huuuf" Marsha mengatur napasnya yang terasa abis di acak-acak.
"I Love You kak"
"Apa? Coba bilang lagi?" Ethan terlihat syok mendengar 3 kata itu meluncur dari mulut manis pacarnya ini.
"I Love You, kak"
"Ganti, pake sayang. Jangan kak terus Sha!"
"I love you kakak sa..yang.."
Shhhiiiiiit.
Ethan menghentikan mobilnya.
"Ralat, jangan pake kakak Sha. Memangnya aku Ferdo?"
"Hmmmm... ya ... I love you, sayang!" 🥰
.
__ADS_1
.